Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
BeritaHeadlineKomunitasOpiniPilihan Redaksi

Andi Karawai, Buyung Cibuak, dan Diplomasi Piton yang Gagal Dipahami Manusia

×

Andi Karawai, Buyung Cibuak, dan Diplomasi Piton yang Gagal Dipahami Manusia

Sebarkan artikel ini
Foto: TVRI Sumbar
Foto: TVRI Sumbar
Singkatnya Gini...
  • Alih fungsi hutan menjadi kawasan pembangunan dan pemukiman menyebabkan penyempitan habitat ular piton, sehingga memicu peningkatan konflik ruang hidup antara satwa liar dan manusia.
  • Tokoh Andi Karawai dan Buyung Cibuak muncul sebagai mediator lintas spesies yang diakui oleh komunitas satwa dalam upaya menjembatani kesalahpahaman antara manusia dan ular piton.
  • Fenomena masuknya ular ke wilayah pemukiman menjadi kritik mendalam terhadap egoisme manusia modern yang merusak ekosistem demi pembangunan, namun enggan merefleksikan dampak kerusakan lingkungan tersebut.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Andi Karawai, Buyung Cibuak, dan Diplomasi Piton yang Gagal Dipahami Manusia

Oleh: Novrizal

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Di sebuah negeri yang hutan-hutannya makin pendek umurnya dibanding janji pembangunan, ular piton mulai mengalami krisis identitas. Dulu mereka tinggal tenang di rawa, semak, dan hutan tropis. Kini tempat tinggal mereka berubah menjadi kebun, perumahan, warung kopi, bahkan tempat parkir minimarket. Manusia menyebutnya kemajuan. Piton menyebutnya penggusuran diam-diam.

Di tengah situasi itu, muncullah nama Andi Karawai. Entah karena nasib, takdir ekologis, atau kesalahan tata ruang nasional, Andi menjadi manusia yang terlalu sering bertemu piton. Hampir setiap beberapa waktu ada saja kabar:

“Andi Karawai bertemu ular lagi.”

Masyarakat mulai curiga. Ada yang mengira Andi memiliki ilmu pemanggil reptil. Ada pula yang yakin piton-piton itu sedang menjalankan program silaturahmi lintas spesies. Padahal kemungkinan paling sederhana justru jarang dipikirkan: habitat piton sudah semakin sempit sehingga mereka terpaksa “bertamu” ke wilayah manusia.

Baca Juga:  PTMSI Kota Bukittinggi Gelar Wali Kota Bukittinggi Cup 2 Liga Pelajar SD/SMP/SMA dan Katagori Umum

Namun manusia modern memang unik. Ketika hutan dibabat, manusia menyebutnya investasi. Ketika ular masuk kampung karena kehilangan rumah, manusia menyebutnya teror.

Di sinilah peran Buyung Cibuak menjadi penting. Lelaki dengan ganteng minimalis itu muncul sebagai mediator hubungan manusia dan piton. Walaupun awalnya diragukan karena namanya mengandung kata “Cibuak”, meski demikian Buyung justru menjadi satu-satunya orang yang mau mendengar suara kedua pihak. Tidak ada yang tahu sejak kapan pula kata cibuak itu ada di belakang nama Buyung. Entah karena dia sering mencibuak piton, entah karena sering mencibuak perempuan mandi.

Menurut cerita yang beredar di Komunitas Adat Piton Internasional, Buyung Cibuak dan Andi Karawai pernah menghadiri sidang adat reptil di sebuah rawa berkabut. Di sana para piton menyampaikan keluhan mereka.

Seekor piton tua berkata:

“Dulu manusia masuk hutan harus izin. Sekarang manusia menggusur hutan lalu marah ketika kami lewat halaman rumahnya.”

Semua piton mengangguk setuju.

Andi Karawai yang hadir dalam sidang itu hanya bisa terdiam. Untuk pertama kalinya ia sadar bahwa mungkin selama ini piton bukan sedang mengejarnya. Mereka hanya tersesat di tanah yang dulu milik mereka sendiri.

Baca Juga:  Kerja Keras BNPT Cegah Radikalisme Terorisme Diapresiasi Komisi XIII DPR RI

Tetapi manusia memang makhluk yang sulit merasa bersalah. Kita bisa menebang pohon ratusan hektare sambil memasang spanduk “Selamatkan Lingkungan”. Kita bisa membangun perumahan di bekas rawa lalu kaget melihat ular muncul di selokan. Bahkan setelah mengambil habitat satwa, manusia masih merasa sebagai korban utama.

Ironisnya, piton justru lebih sopan. Mereka tidak membuat seminar tentang “Penyelamatan Manusia dari Perusakan Habitat”. Mereka juga tidak membuat konten motivasi tentang hidup harmonis dengan manusia. Mereka hanya diam, melata, dan sesekali muncul di dapur warga karena kebingungan mencari tempat tinggal.

Mungkin karena itulah Komunitas Adat Piton Internasional akhirnya mengangkat Buyung Cibuak sebagai “Juru Damai Antarspesies”, sementara Andi Karawai diberi gelar:

“Saudara Berdarah Panas yang Sering Salah Paham.”

Gelar itu terdengar lucu, tetapi sebenarnya menyimpan sindiran besar kepada manusia modern. Kita sering menganggap alam sebagai tamu di rumah kita, padahal bisa jadi kitalah yang terlalu jauh memasuki rumah alam.

Dan ketika piton mulai sering muncul di lingkungan manusia, mungkin itu bukan pertanda bahwa ular semakin liar. Bisa jadi justru manusia yang terlalu rakus mempersempit ruang hidup makhluk lain.

Baca Juga:  Evi Yandri: Pemeriksaan Terhadap Penggunaan APBD, Bukan untuk Mencari Kesalahan

Sayangnya, pelajaran seperti ini sering kalah oleh kepanikan. Orang lebih sibuk merekam ular dengan ponsel daripada bertanya mengapa ular itu sampai ada di sana. Kita hidup di zaman ketika dokumentasi lebih penting daripada refleksi.

Sementara itu, di sebuah rawa yang tersisa, para piton konon masih mengadakan sidang adat setiap malam. Mereka membahas satu pertanyaan besar:

“Apakah manusia masih bisa diajak hidup berdampingan?”

Dan menurut kabar terakhir, hanya dua manusia yang masih diterima menghadiri sidang itu:
Andi Karawai dan Buyuang Cibuak.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Penulis: NovrizalEditor: Novrizal Sadewa