Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Berita

Yoserizal Mengembangkan Usaha Kadai Kopi Kito Berbasis Budaya Masyarakat di Kampung Halaman

×

Yoserizal Mengembangkan Usaha Kadai Kopi Kito Berbasis Budaya Masyarakat di Kampung Halaman

Sebarkan artikel ini
Yoserizal saat membuat kopi di dapurnya

Bukittinggi, khazminang.id- Yoserizal warga Kenagarian Lambah Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat, berkelana di negara Amerika Serikat lebih kurang selama 30 tahun. Kembali ke kampung halaman ingin mengembangkan usaha berbudaya masyarakat, maka dibuatlah kadai kopi dengan brand “Kopi Kito” terletak di halaman rumahnya dekat Golden.Net Biaro.

Kedai Kopi Kito di waktu malam
Peralatan yang digunakan Orlok Bukittinggi Agam YH5AK pada tanggap darurat saat di kedai Kopi Kito

Al panggilan akrab Yoserizal, kepada wartawan khazminang.id, Selasa (13/1/2026) menjelaskan, kami membuka kedai kopi ini sebenarnya untuk tempat bertemu dan berdiskusi, kopi adalah minuman yang paling enak untuk mempertemukan orang. Jadi istilahnya kalau ingin bertemu atau berdiskusi ngopilah dulu, apalagi sambil minum kopi di tempat dengan suasananya yang mendukung udaranya yang sejuk dan jauh dari kebisingan lalu lintas kendaraan.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Tempat kedai kopi ini sengaja dirancang dan dibuat sendiri untuk semua tingkatan usia, mulai dari anak-anak sambil membaca buku atau menggambar sambil minum aneka buah, begitu juga makanannya dari singkong, ubi yang ditanam dari kebun dekat rumah. Dan orang dewasa dengan sarana yang memadai untuk berdiskusi sambil minum kopi, intinya semuanya dari bahan pangan nabati (tumbuhan).

Untuk tingkatan usia anak-anak Sekolah Dasar, mereka kita ajak untuk membaca buku, menggambar dengan kita sediakan buku gambar dan alat tulisnya, belajar bahasa Inggris, untuk anak-anak wanita diajarkan memasak oleh istri, dan untuk anak-anak laki-laki yang memperbaiki sepedanya, kita sediakan tempatnya (bengkel) lengkap dengan peralatannya, kita juga punya perkumpulan sepeda dengan nama “Garasi Sepeda Kito”.

Baca Juga:  Peningkatan Penyembelihan Hewan Sapi Kurban Masjid Al Falah Tembok
Siswa SD Biaro dan SMA Negeri 2 Gunung Talang Solok saat sedang belajar di kadai Kopi Kito

Selain itu, anak-anak kita bina untuk menjaga lingkungannya, jadi mereka merasakan memiliki kampungnya sendiri dengan memelihara keamanan dan kenyamanan serta kebersihan. Tujuan akhirnya menciptakan suasana dimana anak-anak itu merasakan memiliki, jadi konsep kedai Kopi Kito adalah untuk semua umur guna berdiskusi hal-hal positif yang ada efeknya terhadap lingkungan, untuk permainan seperti domino atau koa tidak ada di tempat ini.

Berusaha kedai Kopi Kito ini, kalau beruntung ya Alhamdulillah, tapi kalau tidak, ya kita dapat beruntung dari hal yang lainnya. kedai Kopi Kito adalah memajukan lingkungan masyarakat dengan keberadaan kebersihan, tujuan utama pertamanya bukannya berjualan kopi, tapi sambil minum kopi itu cepat mempersatukan orang, seperti halnya petani kopi kumpul disini bisa berdiskusi masalah tentang kopi, begitu juga wisata kopi, dengan wisata kopi banyak efeknya yang dikemas menjadi satu paket, seperti bersepeda mengunjungi kebun kopi, anak-anak bisa belajar bahasa Inggris dan lainnya.

Kopi yang ada di kedai adalah kopi asli dari Lasi, Biaro dan Canduang. Ditanam di daerah tersebut, terus dijemur sampai kering dan kita jemur lagi sedikit, sesudah itu kita pisahkan jenis-jenis kopinya, ada Arabica dan robusta. Proses pasca panen, yaitu, natural, washed, honey, ini rasanya berbeda-beda, kemudian kita randang pakai periuk belanga (periuk tanah liat). Dari situlah kita perkenalkan kepada pengunjung untuk menaikkan citra rasa kopi.

Baca Juga:  Dukung Swasembada hingga 3 Juta Rumah, ATR/BPN Perkuat Kendali Tata Ruang

Dijelaskan Al, sebenarnya pas pulang kampung halaman, apa yang bisa dilihat dan apa yang kira-kira bisa dipakai untuk tujuan yang bagus. Maka membangun usaha kedai kopi, kemana arahnya nanti, apakah untuk wisata atau kuliner, tapi mulainya dari tempat ini, jelasnya.

Diakuinya ilmu yang didapat sambil berjalan, belajar serius dari penjual kopi, petani kopi di kebun, dan juga dari media online. Itu semuanya dipraktekan. Kami sendiri bukannya ahli di bidang kopi, hanya belajar dan langsung mempraktekannya. Alhamdulillah ini anugerah dari Allah SWT, saya bisa cepat menyerapnya. Selain membuka kedai kopi, saya juga mengerjakan tanaman tumbuhan yang menghasilkan di kebun, ucap Yoserizal.

Yoserizal bersama wisatawan mancanegara dari Italy

Ditambahkan Al, wisatawan mancanegara dari negara Italy bersama keluarganya dan ada juga dari negara Perancis dan negara lainnya yang sengaja dibawa ke kedai Kopi Kito untuk bermalam, karena di tempat kami, ada juga homestay. Wisatawan tersebut merasakan nikmatnya minum kopi olahan kami sendiri dan juga bermalam di homestay menyatu dengan kami, kata Al.

Baca Juga:  Wakil Ketua DPRD Kota Bukittinggi, Beny Yusrial, S.IP Hadiri Wisuda Tahfizh Muhammad Rafa Rizqullah

Sementara itu Widya ibu rumah tangga dari Kota Payakumbuh bersama rekannya, singgah di kedai Kopi Kito, menjelaskan awalnya mengantarkan anaknya yang ada urusan dari kampusnya UGM Jogja di SMA Negeri 1 Ampek Angkek yang berdekatan dengan kadai Kopi Kito, kita putar daerah dekat sekolah, tampak ada kadai kopi, singgahlah kami di kadai Kopi Kito ini untuk minum kopi sambil menantikan anak.

Diakuinya rasa kopinya enak, kebetulan saya suka kopi Americano pakai es rasanya tidak terlalu pahit dan tidak terlalu asam di kadai Kopi Kito ini, jadi pas diminumnya. Ada juga rasa kopi Americano yang terlalu pahit dan asam di tempat lain, karena roastingnya sampai hitam (pekat), ya tidak dapat diminum, ungkap Widya. (Iwin SB)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.