Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Opini

Umurku tak Lagi Panjang Karena Rambut Mulai Memutih

×

Umurku tak Lagi Panjang Karena Rambut Mulai Memutih

Sebarkan artikel ini
Singkatnya Gini...
  • Penulis merefleksikan pertambahan usia dan tanda-tanda penuaan fisik sebagai pengingat spiritual akan keterbatasan waktu untuk mempersiapkan bekal menuju kematian.
  • Penulis bertekad memanfaatkan sisa hidupnya untuk memperbaiki diri, melunasi kewajiban ibadah dan sosial, membersihkan hati dari penyakit batin, serta mewakafkan ilmu pengetahuan sebagai amal jariyah.
  • Penulis menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga serta kolega, sekaligus berpesan kepada generasi muda untuk menjaga integritas, memperkuat ibadah, dan memprioritaskan kemanfaatan sosial daripada popularitas.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Oleh : Onzukrisno,SH.,M.Si *)

Wajah ini sudah tidak ada lagi yang perlu dirapikan, Namun akhir-akhir ini aku lebih sering menatap cermin dalam waktu yang cukup Ā lama, untuk menghitung, Satu, dua, tiga helai uban yang mulai bertambah. Rambutku mulai memutih, dan tiba-tiba aku menyadari, bahwa ini adalah merupakan teguran dari Allah SWT, bahwa umurku tak lagi panjang. Dulu dihadapan kaca yang sama, aku berdiri untuk merapikan rambut, untuk memastikan bahwa aku masih terlihat prima dan memastikan bahwa aku terlihat masih paling bahagia. Namun aku masih berfikir, apakah aku berdiri didepan kaca saat ini, adalah untuk memastikan apakah aku masih kuat, jika dibandingkan tiga puluh tahun yang lalu…!

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Dulu aku pikir tua itu masih jauh. Ternyata tua itu datang secara Ā diam-diam, tanpa pemberitahuan. Tidak mengetuk pintu, tidak minta izin. Ia datang lewat lutut yang mulai nyeri saat naik tangga, dia datang lewat mata yang mulai kabur ktika membaca tulisan hurufnya kecil, mulai samar.. Rambut putih ini bukan aib. Ini adalah surat cinta dari waktu. Ia berbisik, “Wahai manusia, bersiaplah. Perjalanan untuk pulang sudah mulai dekat. Aku tidak takut mati. Aku hanya takut karena belum sempat menyiapkan bekal. Karena mati itu pasti, tapi bekal itu yang masih belum sempurna. Rambutku memutih, tetapi sujudku masih terburu-buru. Kulitku mulai keriput, tetapi lisanku masih saja suka menyakiti. Punggungku mulai membungkuk, namun Dosaku masih saja tegak berdiri dan belum sempat kutebus..

Maka di sisa umur yang memutih ini, ada beberapa hal yang harus aku persiapkan menjelang ajal itu datang menjemput, entah besok atau lusa. Pertama, aku harus membereskan seluruh hutang, kepada karib kerabat, handai tolan. Bukan saja hanya berupa hutang uang kepada manusia yang mungkin lupa aku catat, tetapi juga hutang menjalankan sholat yang pernah bolong, hutang ibadah puasa yang pernah kutunda, serta hutang maaf pada sesama makhluk ciptaan-Nya yang belum sempat kuucapkan.

Selanjutnya, aku harus membersihkan hati. Sudah terlalu lama hati ini menyimpan amarah, dendam, dan iri pada rezeki orang lain. Aku ingin pulang dengan hati yang lapang tanpa beban sedikitpun atas kesalahan yang pernah diperbuat, bagaikan seorang bayi yang baru lahir kepermukaan bumi seperti kain putih bersih tanda noda sedikitpun. Kondisi berikutnya, aku harus mewakafkan ilmu yang tersisa. Jika hartaku tak banyak, biarlah ilmuku yang menjadi amal jariyah. Satu huruf yang diajarkan dengan ikhlas, bisa lebih panjang umurnya dari rambut putihku. Saat ini aku harus sering-sering menyebut nama Allah dikala Ā sepi. Bukan hanya di masjid, tapi di atas motor, di dapur, sebelum tidur. Agar lidah ini terbiasa, sehingga saat menghadapi sakaratul maut nanti, lidah ini diberi keringanan untuk Ā berucap nama-Mu ya Allah.

Baca Juga:  Banjir 2026 Sudah Datang, Pengungsi 2025 Masih di Penampungan! 11 Bulan Pemko Padang Kemana Aja?

Saatnya aku harus ikhlas melepas segala yang pernah aku dapatkan. Jabatan, melepas pujian, melepas keinginan untuk selalu terlihat hebat, karena semua itu tidak akan pernah ikut masuk ke liang lahat menemani jasad di dalam kubur.

Untuk isteriku tercinta, perempuan yang rambutnya juga ikut memutih bersamaku. Wahai belahan jiwaku, maafkan aku. Maafkan jika selama puluhan tahun menjadi suamimu, aku lebih banyak diam daripada memuji, lebih banyak menyuruh daripada membantu, lebih banyak menuntut daripada menafkahi batinmu dengan kasih sayang. Terima kasih sudah menjadi payung saat aku kehujanan masalah, menjadi selimut saat aku kedinginan dihina orang. Jika nanti aku pergi lebih duluan, jangan tangisi aku terlalu lama. Lanjutkan sholatmu, lanjutkan ngajimu, kita akan bertemu lagi di tempat yang tidak ada perpisahan.

Untuk anak-anakku, darah dagingku. Papamu ini bukan superman. Papa hanyalah lelaki biasa yang mencoba kuat di depan kalian padahal sering rapuh di belakang. Jika Papa keras dulu, bukan karena benci. Tapi karena Papa takut kalian salah jalan di dunia yang semakin keras ini. Jika Papa pelit dulu, bukan karena tidak sayang, tapi karena Papa sedang belajar menabung untuk sekolah kalian. Nasehat Papa satu saja yaitu Jangan pernah tinggalkan sholat. Setinggi apapun jabatan kalian, sebanyak apapun uang kalian, tanpa sholat kalian akan tetap miskin. Jadilah orang jujur, karena kejujuran akan menjaga kalian saat kepintaran tidak mampu lagi.

Baca Juga:  Ketika Konser Musik Internasional Menjadi Senjata Ekonomi Nasional

Untuk para sahabatku, teman ngopi, teman diskusi, teman seperjuangan di FISIPOL UNES, Fakultas Hukum dan di lapangan. Terima kasih sudah mewarnai rambut hitamku dulu hingga menjadi putih seperti saat sekarang, dalam berjalannya waktu

Jika ada kata-kataku yang menyakiti, ada janji yang tidak kutepati, ada hutang canda yang berubah jadi luka, maafkan aku sebelum kain kafan menutup tubuhku. Aku ingin berangkat tanpa membawa musuh seorang pun di dunia ini.

Jangan kenang aku sebagai orang hebat. Kenang aku sebagai teman yang pernah ada, pernah salah, seperti yang lisannya pernah melukai, yang langkahnya pernah tersesat yang janjinya pernah diingkari dan kenang aku sebagai orang yang pernah mencoba memperbaiki, meskipun perbaikannya tidak sempurna, meskipun taubatnya tertatih, tapi pernah mencoba denganĀ  dengan segenap sisa umur dan air matanya didepan kaca, untuk pulang dengan sedikit lebih baik. JikaĀ  Kau mengingatku seperti itu saja, sudah lebih dari cukup sebagai bekalku kelak.

Untuk generasi muda, kalian yang masih hitam rambutnya, yang masih kencang kulitnya. Dengarkan sebentar nasehat dari rambut putih ini. Jangan kejar viral, kejarlah manfaat. Jangan sibuk ingin terlihat kaya, sibuklah ingin menjadi berguna. Dunia ini sudah terlalu bising dengan orang yang ingin terkenal, tapi sepi dengan orang yang ingin tulus. Jaga Indonesia dengan akhlak, bukan hanya dengan teriak. Rawat Pancasila bukan hanya dihafal, tapi diamalkan. Hormati orang tuamu selagi mereka masih bisa memanggil namamu. Waktu kalian masih panjang, tapi jangan ditunda-tunda. Sholat jangan tunggu tua, taubat jangan tunggu sakit, berbakti jangan tunggu orang tua tiada.

Untuk anak-anak siswa/siswi Bapak tercinta di kelas. Kalian tau gaĀ  kenapa alasan BapakĀ  masih semangat berdiri walau lutut sudah mulai bergetar, karena Bapak belum selesai menitipkan bekal untuk kalian, yaitu bekal untuk kalian mengejar dunia dan bekal untuk Bapak mengejar Akhirat. Selama kalian masih mau belajar, walau sedetik saja, maka selama itu pula Bapak akan tetap memaksa lutut yang bergetar ini untuk tetap tegar berdiri di depan kalian.

Baca Juga:  Pemimpin Cerdas, Bukan Sekadar Pintar: Merajut Jalan Tengah Antara Teori dan Aksi

Bapak mungkin sedikit galak di kelas, sering memberi tugas banyak, sering mengulang materi yang sama. Itu bukan karena Bapak benci, tapi karena Bapak ingin kalian tidak menjadi generasi yang mudah dibodohi. Bapak titip, belajarlah bukan untuk nilai, belajarlah untuk mengangkat derajat keluargamu. Nilai bisa dicari, tapi kejujuran harus dilatih sejak dari bangku sekolah dasar.

Jika nanti Bapak sudah tidak ada, dan kalian sudah menjadi orang hebat dan berhasil, jangan lupa doakan Bapak dalam sujud kalian. Itu saja sudah cukup untuk membuat kubur Bapak menjadi sejuk, terang dan lapang.

Untuk cucu-cucu Opa tersayang, yang mungkin sekarang belum mengerti kenapa Opa sering melamun menatap jendela. Nak, Opa tidak punya warisan emas berpeti-peti. Opa hanya punya cerita dan rambut putih ini sebagai bukti bahwa Opa pernah berjuang. Kelak jika kau besar, jadilah manusia yang lembut hatinya. Dunia ini sudah terlalu keras, jangan tambah keras lagi. Jadilah pemaaf, karena orang pemaaf itu akan tidur nyenyak setiap malam. Opa ingin kau tahu, cinta Opa padamu tidak berkurang meski napas opa mulai Ā terengah-engah. Setiap tawa mu adalah obat yang membuat Opa ingin hidup sehari lagi.

Umurku memang tak lagi panjang, tapi aku tidak sedih. Karena memutihnya rambutku adalah tanda bahwa Allah masih memberiku waktu untuk bertaubat, masih memberiku waktu untuk mencintai kalian lebih mendalam. Aku ibarat senja. Senja itu indah bukan karena ia lama, tapi karena ia tahu cara berpamitan dengan cantik. Memberi warna jingga terbaik sebelum gelap tiba.

Maka izinkan aku berpamitan dengan cara terbaik: dengan maaf, dengan terima kasih, dan dengan doa. Namun bila ajal datang malam ini, sampaikan pada semua, bahwa Aku telah pulang dengan tenang, karena rambut putihku telah menjadi saksi, bahwa aku pernah mencintai kalian semua dengan cara yang paling sederhana dan paling tulus. Memberi perhatian dan rasa aman itulah Cinta…! (**)

*) Penulis adalah Dosen Administrasi Negara Fisipol Unes Padang.

 

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.