Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Berita

Mendikdasmen: Guru Hebat Berangkat dari Cinta, Inspirasi, dan Memuliakan Murid

×

Mendikdasmen: Guru Hebat Berangkat dari Cinta, Inspirasi, dan Memuliakan Murid

Sebarkan artikel ini
Singkatnya Gini...
  • Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menegaskan tiga kunci utama menjadi pendidik hebat, yakni mencintai murid dan ilmu, mendidik dengan menginspirasi, serta memuliakan proses belajar demi mendorong transformasi pendidikan.
  • Penerapan konsep memuliakan murid diwujudkan melalui metode pembelajaran mendalam (deep learning) yang menjadikan guru dan siswa sebagai rekan belajar dalam suasana yang bermakna dan menyenangkan.
  • Komisaris ParagonCorp Salman Subakat menilai peran guru dalam membangun karakter, cara berpikir, dan daya juang murid tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan (AI), sejalan dengan momentum kelulusan ribuan pendidik program WIT dan ILP 2026.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Jakarta, Khazminang.id – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyebut guru hebat berangkat dari tiga kunci: mencintai murid dan ilmu, mendidik dengan menginspirasi, serta memuliakan murid dalam proses belajar. Ketiganya, kata Mu’ti, menjadi fondasi transformasi pendidikan yang dimulai dari ruang kelas.

Hal itu disampaikan Mu’ti dalam Inspiring Educators 2026, graduation Wardah Inspiring Teacher (WIT) dan Inspiring Lecturer Program (ILP) yang digelar ParagonCorp di Jakarta Concert Hall, Sabtu (26/9/2026). Alih-alih berceramah, Mu’ti menyampaikannya lewat cerita perjalanan hidupnya sendiri.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

“Menginspirasi itu tidak harus selalu khotbah. Cerita kehidupan juga mudah-mudahan bisa menginspirasi,” ujarnya.

Kunci pertama: cinta murid dan cinta ilmu. Menurut Mu’ti, niat menjadi guru harus berangkat dari cinta. Ia menyebut mengajar sebagai misi profetik yang mengubah ketidaktahuan menjadi pemahaman.

“Setiap murid adalah utusan Tuhan yang membukakan pintu-pintu surga bagi gurunya. Karena itu, jadilah guru yang sabar dengan segala kesulitan dan terus membuka jalan bagi mereka yang ingin menjadi lebih baik,” kata Mu’ti.

Baca Juga:  ATR/BPN Genjot Reformasi Layanan, Wamen Ossy Tekankan Mindset Melayani

Kunci kedua: mendidik adalah menginspirasi. Mu’ti menegaskan, menjadi guru tidak berarti menggurui. “Guru tidak selalu harus minta didengar. Guru juga harus menjadi pendengar yang sabar dan memberi keteladanan. Teaching is inspiring,” tuturnya.

Ia mencontohkan perjalanannya sendiri: anak desa di Kudus, lulusan Madrasah Aliyah jurusan IPA yang tak pernah membayangkan kuliah di IAIN, hingga kini memimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

“Saya kuliah di IAIN itu karena berbakti pada guru saya dan karena doa orang tua saya,” ujarnya.

Menurut Mu’ti, kisah nyata seperti itu bisa menumbuhkan keyakinan bahwa siapa pun, termasuk yang berasal dari keluarga sederhana, bisa berhasil. Namun dampaknya tidak instan.

“Investasi di bidang pendidikan itu hasilnya butuh puluhan tahun untuk benar-benar terlihat,” katanya.

Kunci ketiga: mendidik yang memuliakan. Kunci terakhir diwujudkan melalui pembelajaran mendalam (deep learning) yang memuliakan murid, guru, dan ilmu. Murid diperlakukan sebagai rekan belajar, sementara guru ikut menjadi pembelajar di kelas. Pembelajaran pun dirancang mindful, meaningful, dan joyful. Mu’ti mengingatkan, ketiga kunci itu dibangun lewat proses.

Baca Juga:  Bupati Tidak Hadir, Ketua DPRD Batalkan Paripurna

“Seperti Tembok Besar Cina, tersusun batu demi batu secara konsisten. Mulailah dari kebiasaan kecil, dan jangan takut gagal,” ujarnya.

Nilai 10 yang diingat 30 tahun

Pesan Mu’ti seolah dijawab oleh kisah Komisaris ParagonCorp, Salman Subakat di panggung yang sama. Hampir 30 tahun lalu, guru Fisika SMA-nya, Yani Bayani, berani menuliskan nilai 10 di rapornya, angka yang jarang diberikan guru saat itu karena khawatir murid menjadi sombong.

Kepercayaan itu membuat Salman percaya diri mengajari teman-temannya, mewakili sekolah dalam lomba, hingga mendaftar ke Institut Teknologi Bandung.

“Yang berkesan itu bukan karena angkanya. Tapi karena di balik angka itu ada sebuah pesan: saya percaya kamu bisa. Kepercayaan yang diberikan 30 tahun lalu itu masih saya bawa sampai sekarang,” kata Salman.

Menurut Salman, di situlah peran pendidik yang tak tergantikan, termasuk oleh kecerdasan buatan.

“AI bisa membantu murid mendapatkan knowledge. Tetapi pendidik membantu murid membangun cara berpikir, karakter, keberanian, dan daya juang. Semakin AI berkembang, peran pendidik bukan semakin kecil, justru semakin penting,” ujarnya.

Baca Juga:  Polres Agam Juga Temukan Peredaran Uang Palsu di Matur

Tahun ini, WIT meluluskan 5.000 guru dan ILP meluluskan 1.000 dosen. Sejak dimulai pada 2017, kedua program telah menjangkau lebih dari 43.000 pendidik di 38 provinsi. (*)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.