Padang, Khazminang.id — Angkatan Muda Siliwangi (AMS)106 Sumatera Barat dan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Padang, Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan RI, membuka jalan menuju kemitraan pelatihan vokasi yang berbasis pada kebutuhan riil masyarakat dan dunia usaha.
Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi Pengurus AMS106 Sumatera Barat yang dipimpin Ketua AMS106 Sumbar Amin Prabu didampingi pengurus Sri Juwita Dewi dan Idrismen dengan BPVP Padang yang dihadiri langsung oleh Kepala BPVP Padang, Arnov Tri Hartanto, B.Eng., M.Sc., M.Eng didampingi jajaran BPVP Padang, Kamis (20/8/2026).
Dalam konteks kemitraan tersebut, AMS.106 Sumbar menawarkan kekuatan yang dimilikinya berupa jaringan komunitas dan kedekatan dengan masyarakat, untuk membantu mempertemukan program pelatihan vokasi dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Perhatian awal diarahkan pada sejumlah bidang yang memiliki keterkaitan langsung dengan kegiatan ekonomi masyarakat, antara lain pertanian, pertukangan, industri, serta manajemen produksinya berbasis UMKM dan industri rumah tangga, termasuk usaha kerupuk, tahu, tempe dan berbagai bentuk home industry.
“Pendekatan yang ditawarkan bukan sekadar memperbanyak peserta pelatihan, tetapi mendorong agar kompetensi yang diperoleh peserta dapat diterapkan dalam kegiatan produktif dan menjawab kebutuhan usaha di lapangan,” terang Ketua AMS 106 Sumbar, Amin Prabu dalam siaran pers yanag diterima, Jumat (21/08/2026).
Salah satu gagasan yang disampaikan AMS106 Sumbar adalah pengembangan pelatihan berbasis proyek (project-based training). Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan di ruang pelatihan, tetapi diarahkan untuk mengerjakan atau mengembangkan proyek yang memiliki keterkaitan dengan kebutuhan nyata.
Dalam konteks UMKM, misalnya, pelatihan dapat dikembangkan tidak hanya pada keterampilan teknis produksi, tetapi juga menyentuh aspek penggunaan peralatan, proses produksi, standar kerja, manajemen, produktivitas dan pengembangan usaha.
“Pelatihan diharapkan tidak berhenti pada sertifikat kompetensi, tetapi berlanjut menjadi keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja, berusaha maupun meningkatkan produktivitas usaha yang telah berjalan,” katanya.
Menanggapi gagasan tersebut, Kepala BPVP Padang Arnov Tri Hartanto memaparkan berbagai program dan bidang kejuruan yang tersedia di BPVP Padang, antara lain konstruksi, manufaktur, las, elektronika, otomotif, pariwisata, fashion technology, listrik, tata kecantikan, refrigerasi, teknologi informasi dan komunikasi, bisnis dan manajemen, bahasa, produktivitas, serta berbagai program lainnya.
“Dari pemaparan tersebut, terlihat adanya ruang kolaborasi yang cukup luas antara kapasitas BPVP dengan kebutuhan masyarakat yang dapat dijangkau melalui jaringan komunitas AMS.106 Sumbar,” ucap Amin Prabu.
Hal lain yang menjadi perhatian dalam diskusi adalah akses masyarakat terhadap informasi dan mekanisme pendaftaran pelatihan. AMS.106 Sumbar mengusulkan pendekatan yang menggabungkan media sosial, pendaftaran melalui tautan digital, serta mekanisme pendaftaran secara langsung atau offline.
Pendekatan tersebut diperlukan untuk menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam penguasaan teknologi maupun bahasa, tetapi memiliki minat dan potensi untuk mengikuti pelatihan.
Dengan memanfaatkan jaringan komunitas, informasi mengenai program pelatihan dapat disampaikan secara lebih dekat kepada calon peserta, sekaligus membantu masyarakat dalam memahami pilihan kejuruan dan mekanisme pendaftaran.
Model ini juga diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan ketika suatu kejuruan memiliki kapasitas pelatihan tetapi belum memperoleh jumlah peserta yang optimal.
Dari seluruh pembahasan, kedua pihak melihat adanya peluang konkret untuk membangun kemitraan kelembagaan. AMS.106 Sumbar dan BPVP Padang sepakat untuk segera menindaklanjuti peluang tersebut melalui penyusunan Perjanjian Kerja Sama (PKS).
Kemitraan nantinya diharapkan dapat mencakup pengembangan pelatihan yang sesuai kebutuhan masyarakat, pemanfaatan jaringan komunitas, sosialisasi dan perluasan akses pendaftaran, serta pengembangan pelatihan berbasis proyek yang memiliki keterkaitan dengan kebutuhan dunia usaha dan kegiatan ekonomi masyarakat. (*)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






