MALANCA hari ini, berbeda dengan Malanca kemarin. Apalagi jika dibandingkan dengan Malanca setahun yang lewat.
Meski tetap berkawan dengan Si Anu dan menghangatkan tubuh dengan setengah gelas kopi pahit di kedai Tek Upik, namun sekarang saat berbicara, tokoh kita ini lebih sering menatap benda persegi di telapak tangannya.
Hmmm, sudah naik kelas Malanca rupanya. Jika biasanya telapak tangan Malanca mempermainkan korek api atau catuih, sejak tadi pagi sudah hape yang dipegangnya.
Malanca yang biasanya anti dengan kemajuan teknologi, sampai – sampai dia bela-belain naik ojek untuk nonton bola di ibu kota kecamatan, kini benar-benar tacelak.
Kemenakan Sutan Bandaro ini, sebentar-sebentar tertawa sendiri, sebentar -sebentar kepalanya berkerut. Tak dipungkiri, kawan Si Anu ini sudah seperti orang tenggen saja.
“Apa yang membuat Waang gelak-gelak surang Malanca? Agak lain waang hari ini, kan belum habis obat dari engkau dokter kemarin?” Tek Upik coba memecah suasana.
“Indak jelas dek Etek ini. Perang Timur Tengah sudah selesai, Piala Dunia sudah selesai, eh kemarin ada orang perempuan berlaki dengan perempuan pula,” jawab Malanca tertawa lepas.
“Kenapa pula bisa begitu? Dari mana pula Malanca dapat info bagalau itu?” kembali Tek Upik melepas tanya.
“Oh itu yang membuat Etek penasaran. Dari hape ini,” kata Malanca memperlihatkan asal mula info yang didapatnya itu.
Tak hanya Tek Upik yang ternganga, orang selepau pun mengakui kehebatan Malanca saat ini.
Saking bangga dengan hapenya, orang selepau diberi kesempatan untuk melihat dan memegangnya.
‎Setelah hale tersebut berpindah dari tangan ke tangan, Malanca yang ingin malagak, menunjukkan cara membuka dan mencari informasi di hape merek songsang itu.
Malang tak bisa ditolak, mujur tak dapat diraih. Saat asyik mengusap -usap hape dengan jemarinya, tak disangka, layar hapenya ikut bergerak.
“Brakkk,” layar hape Malanca berderai saat jatuh ke lantai kedai Tek Upik.
“Hape kulera, mentang-mentang Aden tebus dari Si Anu dengan harga murah, membuat malu malah kiranya,” tanpa sadar Malanca menyebutkan asal usul hapenya.
“O, hape seken?” sebuah tanya melesat dari mulut Tek Upik.
Malanca yang masih malu dan kesal, bukannya menjawab tantangan, justru bergegas keluar kedai sambil terus menggerutu. ***
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






