Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Kesehatan

Jika Ingin Sehat, Ganti Sikat Gigi Anda Setiap 3 Bulan

×

Jika Ingin Sehat, Ganti Sikat Gigi Anda Setiap 3 Bulan

Sebarkan artikel ini
Singkatnya Gini...
  • Asosiasi Dokter Gigi Amerika merekomendasikan penggantian sikat gigi secara rutin setiap tiga hingga empat bulan serta menyimpannya dalam posisi tegak di ruang terbuka agar mengering dengan sempurna.
  • Risiko terinfeksi kembali oleh kuman pada sikat gigi sendiri tergolong rendah karena tubuh telah membentuk antibodi dan sebagian besar kuman akan mati seiring mengeringnya sikat gigi.
  • Penggantian sikat gigi secara langsung disarankan setelah seseorang sembuh dari infeksi bakteri, jamur, atau virus tertentu seperti radang tenggorokan, kandidiasis mulut, dan herpes bibir.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Asosiasi Dokter Gigi Amerika merekomendasikan untuk mengganti sikat gigi Anda setiap tiga hingga empat bulan. Anda juga harus menggantinya lebih cepat jika Anda melihat tanda-tanda keausan yang terlihat, seperti bulu sikat yang melebar, melengkung, atau melunak

Selain penggantian terjadwal secara rutin, mengganti sikat gigi setelah menyelesaikan perawatan untuk infeksi bakteri atau jamur tertentu, seperti radang tenggorokan atau sariawan mulut, merupakan tindakan pencegahan yang wajar. Beberapa virus, seperti virus penyebab herpes simpleks, juga dapat bertahan pada bulu sikat gigi selama 24 jam atau lebih. Untuk menjaga kebersihan di antara penggantian, para ahli menyarankan untuk membilas sikat gigi Anda secara menyeluruh di bawah air mengalir dan menyimpannya dalam posisi tegak agar dapat mengering sepenuhnya.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Kebanyakan dari kita memahami cara-cara umum penyebaran penyakit, misalnya ketika rekan kerja batuk saat rapat, seseorang bersin di kursi belakang kita selama penerbangan jarak jauh, atau ketika kita menyentuh gagang pintu maupun pegangan troli belanja yang terkontaminasi, lalu tanpa sadar mengusap mata atau hidung.

Baca Juga:  Wakil Ketua DPRD Sumbar Evi Yandri Serahkan 10 Unit Bentor ke Kelompok Lembaga Pengelolaan Sampah di Padang

Namun, dalam beberapa tahun terakhir perhatian mulai beralih ke sumber kuman yang kurang disadari, seperti botol minum yang digunakan berulang kali, spons dapur, telepon seluler, hingga kuas rias. Media sosial semakin memperbesar kekhawatiran tersebut, dengan banyak unggahan viral yang mengklaim bahwa benda-benda yang digunakan sehari-hari dapat menjadi penyebab kita jatuh sakit.

Salah satu benda yang mendapat sorotan khusus adalah sikat gigi. Di berbagai platform daring, beredar anggapan bahwa alat yang dirancang untuk menjaga kesehatan mulut itu justru dapat menjadi tempat berkembangnya kuman yang berpotensi menyebabkan penyakit. Benarkah kekhawatiran tersebut berdasar, atau justru berlebihan?

Ketika membahas apakah sikat gigi dapat membuat seseorang sakit, kekhawatiran utamanya adalah kemungkinan terinfeksi kembali oleh kuman yang tertinggal di sikat gigi setelah seseorang sakit. Kuman-kuman tersebut dikhawatirkan dapat masuk kembali ke tubuh saat sikat gigi digunakan setelah pemiliknya sembuh.

Memang, setelah digunakan saat seseorang sedang sakit, sikat gigi dapat menjadi tempat menempelnya berbagai mikroorganisme, seperti bakteri, virus, dan jamur. Namun, menurut Dr. Jason Nagata, dokter spesialis anak di UCSF Benioff Children’s Hospital di San Francisco, kasus infeksi ulang akibat penggunaan sikat gigi sendiri sebenarnya jarang terjadi.

Baca Juga:  Antisipasi Kanker, Sumbar Siapkan 78 Rumah Sakit

Hal ini terutama karena setelah sembuh, sistem kekebalan tubuh umumnya telah membentuk antibodi dan mekanisme pertahanan lain yang mampu mengenali serta melawan virus atau bakteri yang sama apabila tubuh kembali terpapar dalam waktu yang tidak lama.

 

Selain itu, sebagian besar kuman akan kehilangan kemampuan menginfeksinya secara bertahap ketika mengering, terutama jika sikat gigi disimpan di tempat terbuka sehingga dapat terkena sirkulasi udara.

Sebaliknya, menurut Dr. Briar Voy, dokter gigi sekaligus prostodontis dari Amsterdam Dental Group di New Jersey dan juru bicara Supersmile, sikat gigi yang disimpan di dalam wadah tertutup atau tetap lembap dalam waktu lama cenderung menjadi tempat bertahannya bakteri lebih lama dibandingkan sikat gigi yang dibiarkan mengering secara alami.

Beberapa jenis infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau jamur memang memerlukan kewaspadaan lebih dalam penggunaan sikat gigi.

“Untuk infeksi bakteri seperti radang tenggorokan akibat bakteri Streptococcus (strep throat), bakteri tersebut dapat bertahan hidup di sikat gigi selama beberapa hari dan sangat mudah menular. Karena itu, mengganti sikat gigi setelah menyelesaikan pengobatan merupakan langkah pencegahan yang masuk akal,” ujar Dr. Jason Nagata.

Baca Juga:  DPD RI Dorong Program MBG Libatkan Petani, Nelayan, dan UMKM Daerah

Hal serupa juga berlaku untuk kandidiasis mulut (oral thrush), yaitu infeksi jamur yang disebabkan oleh Candida. Jamur ini dapat bertahan lebih lama pada permukaan rongga mulut maupun bulu-bulu sikat gigi.

Pengecualian lain yang perlu diperhatikan adalah herpes bibir (cold sores). Menurut Dr. Briar Voy, virus penyebab herpes bibir diketahui dapat tetap bertahan pada sikat gigi selama 24 jam atau lebih, meskipun berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar virus tersebut biasanya sudah mati dalam waktu sekitar dua jam setelah menempel di permukaan sikat gigi. (Eko/nyt)

 

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.