Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Opini

Catatan Tentang Berbagi di Tengah Dunia yang Hiruk-Pikuk, Tiga Cara Menjadi Manusia

×

Catatan Tentang Berbagi di Tengah Dunia yang Hiruk-Pikuk, Tiga Cara Menjadi Manusia

Sebarkan artikel ini
Singkatnya Gini...
  • Berbagi melalui aset ekonomi dan materi menjadi bentuk empati nyata dalam meringankan beban sesama yang membutuhkan secara finansial.
  • Penyebaran ilmu pengetahuan dan gagasan berperan krusial dalam membangun masa depan serta membuka wawasan baru bagi masyarakat luas.
  • Penyediaan waktu dan kehadiran secara personal merupakan wujud kepedulian paling mendalam untuk merawat nilai kemanusiaan di tengah tatanan dunia yang individualistik.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Oleh: Riri Satria*)

Di tengah dunia yang semakin bising oleh kepentingan, berbagi sering kali terdengar seperti kata yang sederhana bahkan klise. Ia hadir di spanduk, di kampanye sosial, di unggahan media, tetapi perlahan kehilangan kedalaman maknanya. Kita hidup dalam zaman di mana makna kerap terfragmentasi, tercerai-berai dalam citra dan simbol.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Namun, justru di sanalah berbagi menemukan relevansinya kembali yaitu sebagai tindakan yang diam-diam menyatukan, sebagai gestur kecil yang merawat kemanusiaan yang nyaris retak.

Ada banyak cara untuk berbagi, tetapi setidaknya ada tiga jalan yang paling nyata, paling membumi.

Pertama adalah berbagi dengan harta, aset, atau kekuatan ekonomi. Ini adalah bentuk yang paling kasat mata, yaitu memberi kepada yang membutuhkan, menyisihkan sebagian rezeki, atau sekadar mentraktir seseorang yang sedang kesulitan.

Saya pernah melihat seorang pedagang kecil yang tetap menyisihkan sebagian keuntungannya untuk memberi makan anak-anak jalanan di sekitar tokonya. Jumlahnya mungkin tidak besar, tetapi dari situlah saya belajar bahwa berbagi bukan soal berapa banyak, melainkan seberapa tulus.

Baca Juga:  Ruslan Ismail : Inspirator Kebangsaan

Dalam dunia yang sering mengukur segala sesuatu dengan angka, berbagi ekonomi justru mengajarkan kita tentang nilai yang tak terhitung yaitu empati.

Kedua adalah berbagi ilmu pengetahuan, gagasan, atau ide. Ini adalah bentuk berbagi yang sering kali tidak langsung terasa dampaknya, tetapi memiliki daya jangkau yang jauh lebih panjang.

Seorang guru yang mengajar dengan sepenuh hati, seorang penulis yang menuliskan kegelisahan sosialnya, atau bahkan percakapan sederhana yang membuka cara pandang baru, semuanya adalah bentuk berbagi yang membentuk masa depan.

Saya pernah mengalami bagaimana sebuah tulisan mampu mengubah cara saya memandang dunia, seolah-olah membuka jendela di ruang yang selama ini pengap. Di sinilah berbagi menjadi tindakan yang melampaui waktu. Ia tidak hanya meringankan beban hari ini, tetapi juga membangun kemungkinan esok.

Ketiga adalah berbagi waktu dan kesempatan, mungkin yang paling sunyi, tetapi juga yang paling manusiawi. Meluangkan waktu untuk mendengarkan, menemani seseorang yang sedang berduka, atau bekerja bersama dalam sebuah kegiatan sosial adalah bentuk berbagi yang tidak bisa digantikan oleh uang maupun kata-kata.

Baca Juga:  Tiada Henti Memeras Rakyat

Ada kehadiran yang tidak bisa diwakilkan. Saya teringat suatu sore ketika hanya dengan duduk dan mendengarkan cerita seorang teman, saya menyadari bahwa kadang-kadang yang dibutuhkan seseorang bukan solusi, tetapi ruang untuk merasa tidak sendirian. Di situlah waktu menjadi hadiah yang paling jujur.

Dalam lanskap yang sedikit postmodern ini, berbagi tidak lagi bisa dipahami sebagai satu narasi tunggal. Ia hadir dalam banyak bentuk, banyak tafsir, dan sering kali bercampur dengan motif yang kompleks.

Ada yang berbagi karena empati, ada yang karena citra, ada pula yang karena kebiasaan. Namun, mungkin yang terpenting bukanlah motif yang selalu murni, melainkan tindakan yang tetap menghadirkan manfaat. Dalam ketidaksempurnaan itulah berbagi tetap menemukan maknanya.

Pada akhirnya, berbagi adalah cara kita menegaskan bahwa kita masih manusia. Bahwa di tengah dunia yang serba cepat dan cenderung individualistik, kita masih mampu berhenti sejenak, menoleh ke sekitar, dan berkata: “Aku ada untukmu.”

Entah melalui harta, ilmu, atau waktu, setiap bentuk berbagi adalah upaya kecil untuk merawat dunia agar tidak sepenuhnya kehilangan rasa.

Baca Juga:  Menjaga Ruang Siber dan Tantangannya

Dan mungkin dengan bebagi , di situlah kita diam-diam menyelamatkan diri kita sendiri. (**)

*) Penulis adalah akademisi UI,  komisaris di BUMN, ketua komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) Jakarta dan seniman.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Opini

Oleh Fachrul Rasyid HF Terbetik berita dari kunjungan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo di Padang 29 Januari lalu. Katanya,…