Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
BeritaHeadlineSabana Minang

Surau, Dangau dan Lapau Masih Relevan Jadi Pembentuk Karakter Minang

×

Surau, Dangau dan Lapau Masih Relevan Jadi Pembentuk Karakter Minang

Sebarkan artikel ini
Bedah buku ‘Surau Dangau Lapau dan Peradaban’ karya Prof Musril Zahari di Perpustakaan Nasional Jakarta, Minggu pagi
Bedah buku ‘Surau Dangau Lapau dan Peradaban’ karya Prof Musril Zahari di Perpustakaan Nasional Jakarta, Minggu pagi

— Tiga Institusi sosial di Minangkabau merupakan tiga elemen penting dalam memgkonstruksi karakter Minangkabau. Ketiganya adalah surau, dangau dan lapau.
Terutama anak laki-laki Minang, akan mengalami kehidupan dan edukasi pada ketiga institusi sosial tadi.
“Tapi pada masa ini keberadaannya mulai surut, terutama surat dan dangau, anak anak lebih banyak tidur di rumah dan tak banyak yang ke dangau untuk bekerja meneruka kehidupan,” kata Ketua Umum Forum Alumni Mahasiswa Minang, H Guspardi Gaus pada acara bedah buku ‘Surau Dangau Lapau dan Peradaban’ karya Prof. Musril Zahari di aula Perpustakaan Nasional Jakarta, Minggu pagi.
Guspardi mengapresiasi Prof. Musril yang dalam bukunya ini sudah memberi warning kepada masyarakat Minang tentang tiga lembaga sosial yang membentuk katakter Minang tapi kinj meluntur itu.
“Pesan moral Prof. Musril ini patut direnungkan bersama oleh seluruh komunitas Minangkabaudi seluruh dunia agar hal baik yang sudah di lahirkan ketuga institusi sosial ini dapat dihangatkan kembali. Saya kira peran ketiganya masih relevan saat ini,” ujar mantan Anggota Komisi II DPR RI ini.
Sementara Presiden Minang Diaspora Global Network, Prof. Fasli Jalal menyebut ketiga institusi sosial Minangkabau itu masih relevan untuk saat ini.
“Terutama dikaitkan dengan konsep pendidikan modern yang menyertakan ‘boarding school’ untuk menukuk ilmu dan pengetahuan peserta didik diluar apa yang mereka peroleh melalui silabus dan kurikulum. Orang Minang dulu bersekolah formal tapi mendapatkan tambahan ‘ilmu hidup’ di surau, dangau dan lapau,” ujar Fasli.
Anak lelaki Minang tempo dulu tidak tidur di rumah, melainkan di surau. Mereka mengaji, belajar silat, belajar adat di surau. Sementara di dangau mereka belajar ekonomi, belajar hidup. “Di lapau mereka menimba ilmu pergaulan, berinteraksi sesama,” kata Fasli.
Walikota Padang yang diwakili Asisten II Edi Hasymi juga memberikan apresiasi kepada Prof Musril yang sudah membuka kembali pemikiran tentang pentingnya arti surau, dangau dan lapau dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. “Ketiganya itu masih sangat relevan dikembangkan apalagi dengan telah diakuinya oleh negara tentang filosofi dasar Minangkabau ABS SBK melalui UU Provinsi Sumatera Barat,” kata Edi Hasymi.
Prof Musril sebagai penulis buku mengatakan bahwa memang diakui bahwa surau, dangau dan lapau adalah sesuatu yang berasal dari masa lalu.
“Memang anak sekarang tidak di surau tidurnya tapi marilah kita implementasikan surau itu pada lembaga sekolah, dangau bisa kita implementasikan lembaga lembaga kemasyarakatkan yang mampu mendidik semangat dan etos entrepreneur yang menjadi ciri khas Minangkabau,” kata Musril.
Sedangkan pada konsep lapau, saat ini masih terasa keberadaannya. “Hanya saja bagaimana membuat lapau zaman sekarang ‘berisi’ juga dengan semangat mengajarkan bagaimana bergaul dan menjaga interaksi positif Minangkabau,” kata Musril.
Prof.Musril Zahari adalah guru besar STIE Indonesia. Pria kelahiran Sikucur Pariaman ini sudah menulis sejumlah buku antara lain ‘Kekelirua. Pemahaman Hubungan Adat dan Syarak di Minangkabau’ dan ‘Peredupan Rasa Keminang’. (Eko)

Baca Juga:  DHY Bersafari Ramadhan ke Pessel

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.