Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Opini

Ramadan: Fragmen Cahaya di Dalam Jiwa

×

Ramadan: Fragmen Cahaya di Dalam Jiwa

Sebarkan artikel ini
Singkatnya Gini...
  • Ramadan menjadi momentum transformasi spiritual dan refleksi batin bagi individu untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sekaligus memperdalam makna pengampunan.
  • Bulan suci ini mengajarkan esensi kemuliaan jiwa melalui praktik berbagi serta menekankan pentingnya pengayaan nilai batiniah di atas pencapaian materi duniawi.
  • Ibadah Ramadan memperkuat nilai kebersamaan dan menegaskan bahwa hakikat kemuliaan manusia ditentukan oleh ketulusan serta kontribusi nyata bagi sesama.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Oleh: Riri Satria*)

Ramadan selalu datang seperti sebuah teks tua yang terus ditulis ulang oleh waktu. Ia bukan sekadar bulan yang berpindah di halaman kalender, melainkan semacam ruang batin yang tiba-tiba terbuka, tempat manusia diajak duduk kembali bersama dirinya sendiri. Pada awalnya ia turun seperti hujan rahmat yang halus, hampir tak terdengar, menyentuh hati yang lama sibuk oleh dunia. Di momen-momen seperti itu kita merasa langit sedikit lebih rendah dari biasanya, seolah Tuhan sedang berbisik perlahan kepada bumi bahwa kasih sayang-Nya tidak pernah benar-benar jauh.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Di pertengahan Ramadan, suasana berubah menjadi lebih sunyi, lebih reflektif. Ampunan terasa seperti sungai yang diam-diam mengalir di dalam jiwa. Kita datang dengan membawa debu-debu kehidupan, kesalahan yang tak sempat diakui, luka kecil yang disembunyikan, dan kerinduan yang kadang tak punya bahasa. Namun Ramadan tidak menghakimi. Ia hanya membuka pintu. Dan di ambang pintu itu, manusia belajar bahwa harapan selalu lebih besar daripada kesalahan yang pernah ia buat.

Baca Juga:  Orang Minang Manusia Pembelajar

Pelajaran paling lembut dari bulan ini sering kali datang dari sesuatu yang sangat sederhana, tangan yang memberi. Ada sebuah kemuliaan yang tak terlihat ketika seseorang berbagi dengan tulus. Tangan yang berada di atas bukanlah simbol kesombongan, melainkan metafora tentang kedewasaan jiwa. Memberi adalah cara manusia membebaskan dirinya dari ketakutan kehilangan, dan di saat yang sama menemukan sesuatu yang jauh lebih besar, sejenis kebebasan batin yang tidak bisa dibeli oleh apa pun.

Ramadan juga mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak tumbuh di ruang yang terlalu sepi. Ia hidup dalam kebersamaan, dalam tawa kecil saat berbuka, dalam piring yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain, dalam percakapan sederhana yang terasa hangat seperti cahaya lampu di rumah lama. Saya sering merasa bahwa manusia sebenarnya bukan diciptakan untuk menjadi pulau yang terpisah, melainkan jembatan yang menghubungkan satu hati dengan hati yang lain.

Di bulan suci ini, langit terasa seperti membuka sebuah pintu rahasia. Dari sana turun cahaya yang tidak selalu dapat dijelaskan oleh logika, tetapi dapat dirasakan oleh jiwa. Ramadan seakan mengingatkan bahwa yang perlu diperkaya bukan hanya harta duniawi, melainkan ruang batin kita sendiri. Dunia sering mengajarkan kita untuk mengumpulkan benda, tetapi Ramadan mengajarkan kita untuk mengumpulkan makna.

Baca Juga:  Saluang Dendang, Seni Pertunjukan Tradisional Minangkabau Yang Hampir Dilupakan oleh Gen-Z

Dan ketika bulan ini perlahan mendekati ujungnya, kita menyadari bahwa Ramadan sebenarnya bukan hanya perjalanan waktu, melainkan perjalanan ke dalam diri. Ia meninggalkan pertanyaan yang sederhana namun dalam, apakah yang membuat manusia benar-benar mulia? Barangkali jawabannya tersembunyi dalam hal-hal kecil yang sering kita abaikan, dalam kebaikan yang dibagikan, dalam ketulusan yang dilepaskan. Sebab pada akhirnya, yang akan tinggal bersama kita bukanlah apa yang kita miliki, melainkan apa yang pernah kita berikan.

*) Riri Satria, seniman, dosen, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Opini

Oleh Fachrul Rasyid HF Terbetik berita dari kunjungan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo di Padang 29 Januari lalu. Katanya,…

Opini

Catatan Reflektif dari Seorang Pendukung yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi Oleh: Riri Satria*)Iklan Scroll Untuk Baca Artikel Ada masa ketika…