Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Berita

Puncak Musim Hujan Sumbar Diprakirakan Mulai Akhir Oktober

×

Puncak Musim Hujan Sumbar Diprakirakan Mulai Akhir Oktober

Sebarkan artikel ini

Padang, Khazanah โ€” Masyarakat Sumatera Barat diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim hujan yang diprakirakan berlangsung mulai dasarian ketiga Oktober hingga dasarian kedua November 2026. Peningkatan curah hujan berpotensi memicu cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan tanah longsor.

Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Minangkabau, Edolatama, mengatakan memasuki Oktober 2026 pola hujan di Sumatera Barat mulai menunjukkan peningkatan. Peralihan menuju musim hujan, menurut dia, terlebih dahulu terjadi di sejumlah wilayah bagian utara dan selatan Sumbar.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

“Pada dasarian pertama Oktober ini sudah mulai memasuki musim hujan. Prediksi kita, puncak musim hujan di Sumbar secara umum diperkirakan terjadi mulai dasarian ketiga (20โ€“31) Oktober hingga dasarian kedua (10โ€“20) November,” jelas Edolatama.

Menurut dia, peningkatan intensitas hujan tersebut diperkirakan meluas ke wilayah timur Sumatera Barat dan dapat berlangsung hingga Desember 2026. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah dengan tingkat kerawanan bencana hidrometeorologi tinggi.

Baca Juga:  Keresahan Warga Bayang atas Pembalakan Liar Direspon DPRD Pessel

Edolatama menjelaskan, meningkatnya curah hujan dipengaruhi sejumlah dinamika atmosfer yang secara bersamaan mendorong bertambahnya massa udara basah di wilayah Indonesia bagian barat.

Beberapa faktor tersebut antara lain:

Peralihan angin monsun, yakni perubahan pola angin dari Monsun Australia menuju Monsun Asia yang membawa lebih banyak massa udara lembap ke wilayah Indonesia.

Aktivitas gelombang atmosfer, berupa meningkatnya aktivitas gelombang Kelvin dan Equatorial Rossby yang dapat memengaruhi pembentukan awan hujan.

Madden-Julian Oscillation (MJO) yang melintasi wilayah Indonesia bagian barat dan berpotensi meningkatkan aktivitas konvektif serta pembentukan awan hujan.

Faktor lokal, berupa kondisi atmosfer yang labil serta anomali suhu muka laut yang relatif hangat di perairan sebelah barat Sumatera.

Kombinasi faktor global, regional, dan lokal tersebut dapat meningkatkan potensi terjadinya hujan lebat, termasuk hujan yang berlangsung dalam durasi panjang dan disertai angin kencang.

Karena itu, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan longsor, bantaran sungai, daerah dataran rendah, maupun wilayah pesisir diminta meningkatkan kewaspadaan selama periode puncak musim hujan dan masa peralihan atau pancaroba.

Baca Juga:  Bantuan Rp5 Miliar dari Raffi Ahmad untuk Pemulihan Pascabencana di Sumbar

Masyarakat juga diimbau secara rutin memantau informasi dan peringatan dini cuaca yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Langkah tersebut penting untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem serta dampaknya terhadap aktivitas dan keselamatan masyarakat.(eko)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.