Bukittinggi, khazminang.id- Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) sebagai cadangan Nasional di bidang komunikasi radio dengan memberikan Dukungan komunikasi (Dukom) dalam keadaan bencana alam maupun bukannya bencana alam, Orari secara otomatis melekat pada beberapa instansi Pemerintah yang menangani Penanggulangan Bencana diantaranya BNPB, Basarnas, Satkorlak PB atau BPBD di setiap Provinsi, PMI, BMKG dan LAPAN. Dan juga Orari membantu upaya Penanganan Bencana dan memerlukan dukungan komunikasi darurat (emergency communication).
Berkenaan dengan hal tersebut, Orari lokal (Orlok) Bukittinggi Agam-YH5AK, Sabtu (20/12/2025) bertempat di halaman sekretariat menyelenggarakan pelatihan Komunikasi dalam Penyelamatan dan Keadaan Darurat (Communication in Rescue and Emergency) atau disebut CORE Orari yang mengacu pada Keputusan Ketua Umum Orari nomor SKEP- 063/ORPUS/KETUM/2025. Pelatihan ini diikuti sebanyak 47 orang pengurus dan anggota.

Pada pembukaan pelatihan CORE ini, Ketua Orlok Bukittinggi Agam-YH5AK, Syahrul Junaidi, SH-YB5AJO, mengatakan, kegiatan pelatihan ini adalah momen yang baik sebagai bentuk pengabdian kita di tengah masyarakat disaat kondisi kebencanaan sangat memperhatikan.
Pelatihan CORE ini merupakan langkah awal dalam membangun sumber daya manusia Orari yang siap mendukung tugas-tugas kemanusiaan. Dan pelatihan basic ini adalah pelatihan dasar yang sangat penting agar anggota Orari memiliki kesiapan dalam komunikasi rescue dan penanganan bencana.
Dalam pelatihan CORE hari ini sesuai petunjuk Ketua Umum Orari Pusat ada 3 tingkatan yang kita akan lalui prosesnya, yaitu CORE Basic, CORE Intermediate, CORE Advanced. Terkait pelatihan CORE Basic akan disampaikan oleh Kepala bidang operasi teknik Orari lokal Bukittinggi Agam, Suhardedi-YB5DDE mengenai dasar-dasar tentang teknik radio, manajemen posko dan lainnya, ungkap Syahrul Junaidi-YB5AJO
Ia berharap semua peserta dapat mengikuti pelatihan CORE Basic, CORE Intermediate, CORE Advanced dan kita upayakan di tahun 2026 melalui bantuan dana aspirasi Pokok-pokok pikiran (Pokir) Wakil Ketua Orlok Bukittinggi Agam-YH5AK, Dedi Fatria, SH,MH-YC5AWC semua peserta akan memakai baju seragam CORE. Setelah mengikuti pelatihan CORE tersebut, kita perlihatkan kemampuan dan kepedulian kemanusiaan di lapangan dalam penanganan kebencanaan alam.
Doktrin saya kepada kawan-kawan “Kejadian yang sama tidak akan terjadi di tempat yang sama pada tahun berikutnya, tetapi kejadian yang lain akan terjadi di tempat yang sama tapi beda kejadiannya”. Maka berbahagialah dan berbanggalah kawan-kawan yang telah terlibat membantu kemanusiaan di setiap kejadian-kejadian bencana itu, ucap Syahrul Junaidi-YB5AJO.
Dijelaskannya, pelatihan dilaksanakan melalui pemberian materi dasar, simulasi, dan pembekalan teknis komunikasi darurat, sehingga peserta dapat memahami peran dan tanggung jawab ORARI dalam kondisi krisis. Syahrul Junaidi-YB5AJO berharap, melalui pelatihan berjenjang tersebut, Orari lokal Bukittinggi Agam semakin siap menjadi mitra strategis Pemerintah dan masyarakat dalam penanggulangan bencana.
Dan saya mengucapkan terima kasih kepada tim yang hadir membantu kebencanaan kemanusiaan yang baru-baru ini terjadi di Kabupaten Agam, yaitu mendirikan posko dukungan komunikasi di Kecamatan Banuhampu, Kecamatan Malalak dan juga di Kecamatan Palembayaan, pungkas Syahrul Junaidi-YB5AJO.

Sementara itu Kepala bidang operasi teknik Orari lokal Bukittinggi Agam, Suhardedi-YB5DDE pada sesi teknik radio, menjelaskan kepada peserta pelatihan terkait pengertian dan pemahaman CORE, materi dasar, pembekalan teknis komunikasi darurat dan langsung dipraktekan cara menyolder dan membuat antenna darurat, sehingga peserta sebagai anggota Orari dapat memahami peran dan tanggung jawabnya dalam kondisi krisis.
Pada era kemajuan teknologi informasi saat ini, melalui pengembangan luas informasi yang dikemas dengan baik, tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini Orari lokal Bukittinggi Agam-YH5AK telah berperan aktif untuk memberikan dukungan komunikasi dalam penanggulangan berbagai bencana alam khususnya di Kota Bukittinggi-Kabupaten Agam dan pada umumnya di Provinsi Sumatera Barat maupun di luar Provinsi Sumatera Barat.
Lebih lanjut disampaikannya, kedepannya diharapkan untuk mampu meningkatkan peran serta dan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat, terlebih lagi Orari merupakan salah satu organisasi yang mitra Pemerintah dalam menyebarluaskan informasi kepada publik sesuai dengan kode etik amatir radio.
Namun dengan adanya dukungan komunikasi Orari, maka upaya memberikan informasi tentang potensi kebencanaan dapat dilakukan secara lebih cepat dan efektif, dalam memberikan informasi yang cepat dan akurat melalui alat komunikasi gelombang radio amatir, maka masyarakat dapat dengan segera menyiapkan diri mengantisipasi ancaman bencana yang ada.
Dikatakan Suhardedi, sesuai pedoman baru dari Keputusan Ketua Umum Orari nomor SKEP- 063/ORPUS/KETUM/2025, ORARI menyelenggarakan pelatihan bertingkat, CORE Basic, CORE Intermediate dan CORE Advanced. Peserta yang lulus memperoleh Sertifikat CORE Operator serta Tanda Kecakapan Khusus yang dikeluarkan ORARI Pusat. Materi pelatihan mengacu pada IARU Emergency Communication Guide.
Kata Suhardedi, pedoman baru CORE ORARIÂ menetapkan 4 tujuan strategis, yaitu 1.Meningkatkan kesiapsiagaan komunikasi radio dalam menghadapi bencana, 2.Menghubungkan jaringan komunikasi amatir radio dengan Pemerintah dan masyarakat, 3.Menumbuhkan solidaritas kemanusiaan di kalangan anggota ORARI dan 4.Meningkatkan kapasitas teknis dan operasional anggota sesuai standar internasional.
Sedangkan Jaringan Frekuensi Darurat mengacu pada IARU Region 3, pedoman baru menetapkan penggunaan frekuensi darurat Internasional sebagai berikut frekuensi 7.110 MHz (HF), 14.300 MHz (HF), 21.360 MHz (HF), 28.300 MHz (HF), Frekuensi VHF/UHF khusus ORARI.
Selama operasi darurat berlangsung, frekuensi ini tidak boleh dipakai untuk komunikasi umum. Struktur operasi menggunakan Net Control Station (NCS) dijalankan secara berjenjang: Lokal, Daerah (Regional), hingga Nasional.
Sebagai posisi operator Net Control Station (NCS) harus memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan tata cara atau prosedur komunikasi dan menggunakan call sign resmi, serta didokumentasikan dalam log sesuai standar IARU. Dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga dapat dimengerti si penerima, memahami cara berkomunikasi dalam menerima dan mencatat untuk diteruskan informasi tersebut yang bersifat jelas dari sumber.
Dalam manajemen posko, pedoman CORE mengatur tiga fase utama, yaitu, Pra-Bencana, Pelatihan, Simulasi, Pengecekan kesiapan peralatan, Tanggap Darurat, Aktivasi Emergency Net, Pelaporan situasi real-time, Koordinasi lintas lembaga, Pasca-Bencana, Penonaktifan jaringan, Evaluasi dan Publikasi laporan kegiatan, pungkas Suhardedi-YB5DDE. (Iwin SB)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






