Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Headline

Monev BNPT: Teknologi Digital ikut Semai Ekstremisme, Waspadalah

×

Monev BNPT: Teknologi Digital ikut Semai Ekstremisme, Waspadalah

Sebarkan artikel ini
Kegiatan Monev BNPT-FKPT di Jajarta
Singkatnya Gini...
  • Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyoroti pergeseran pola penyebaran paham ekstremisme yang kini kian masif menyasar anak dan remaja melalui ruang digital, termasuk media sosial dan gim daring.
  • BNPT mendorong Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) memperkuat strategi pencegahan melalui tiga pendekatan utama, yakni literasi digital, pendidikan karakter, dan pengasahan kemampuan berpikir kritis lintas sektor.
  • Melalui Monitoring dan Evaluasi (Monev) Triwulan III Tahun Anggaran 2026, FKPT di 36 provinsi, termasuk FKPT Sumatra Barat, menyatakan kesiapan menyelaraskan dan mengimplementasikan program pencegahan terorisme berbasis kearifan lokal di daerah.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Jakarta, Khazanah — Teknologi digital memberikan semakin banyak pilihan bagi anak dan remaja untuk memperoleh informasi, belajar, berkomunikasi, hingga menikmati hiburan. Namun, di balik manfaat tersebut, ruang digital juga menghadirkan tantangan baru berupa potensi penyebaran konten dan narasi ekstremisme yang dapat menyasar kelompok usia muda.

Persoalan ini menjadi perhatian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam memperkuat strategi pencegahan terorisme. Salah satu upaya dilakukan melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang menjadi mitra BNPT di berbagai daerah.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Kepala BNPT Eddy Hartono mengatakan, perkembangan teknologi telah mengubah pola penyebaran paham ekstremisme. Karena itu, strategi pencegahan juga perlu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut, termasuk dengan memberikan perlindungan kepada anak tidak hanya di lingkungan fisik, tetapi juga ketika mereka beraktivitas di dunia maya.

Kepala BNPT Eddy Hartono

“Perkembangan terorisme ini semakin masif terhadap anak-anak di bawah umur. Mereka banyak tergabung ke dalam grup-grup di media sosial, ada juga melalui game online,” kata Eddy dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Periode Triwulan Ketiga Tahun Anggaran 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Menurut Eddy, potensi paparan ekstremisme melalui platform digital membutuhkan perhatian lintas sektor. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri karena anak berinteraksi dengan lingkungan yang jauh lebih luas, mulai dari keluarga, sekolah, teman sebaya, komunitas hingga masyarakat di sekitarnya.

Baca Juga:  BNPT Pujikan Sumbar Cegah Radikalisme dengan Kearifan Lokal

Karena itu, orang tua dan tenaga pendidik memiliki posisi penting dalam membantu anak memahami informasi yang mereka temui di internet. Kemampuan mengenali konten berbahaya dan mempertanyakan informasi secara kritis menjadi bagian dari upaya membangun daya tangkal sejak dini.

Tiga Pilar Pencegahan

Dalam konteks pendidikan, BNPT mendorong FKPT memperkuat program pencegahan melalui tiga pendekatan utama, yakni literasi digital, pendidikan karakter, dan kemampuan berpikir kritis (critical thinking).

“Fokus intervensi FKPT adalah literasi digital, pendidikan karakter dan critical thinking. Outcome yang diharapkan adalah anak-anak dan remaja mampu mengenali dan menolak konten ekstremisme,” jelas Eddy.

Literasi digital diperlukan agar anak memiliki kemampuan menggunakan teknologi secara aman sekaligus memahami risiko yang terdapat di dalamnya. Sementara pendidikan karakter diharapkan dapat memperkuat nilai toleransi, kebangsaan, dan penghargaan terhadap perbedaan.

Adapun kemampuan berpikir kritis menjadi bekal bagi anak dan remaja untuk tidak menerima begitu saja informasi yang mereka temui di media sosial maupun platform digital lainnya. Mereka diharapkan mampu menilai sumber, memahami konteks, dan mengenali narasi yang berpotensi mengarah pada paham ekstremisme.

FKPT Perkuat Pencegahan di Daerah

Penguatan peran FKPT dinilai penting karena setiap daerah memiliki karakteristik sosial, budaya, serta tantangan yang berbeda. Kedekatan FKPT dengan masyarakat memungkinkan program pencegahan disesuaikan dengan kondisi lokal sehingga pesan edukasi dapat lebih mudah diterima dan menjangkau kelompok yang membutuhkan perhatian.

Baca Juga:  Ratusan Tanah Ulayat Nagari Belum Tercatat, Akademisi Desak Percepatan Sertifikasi di Sumbar

Pendekatan berbasis daerah juga memungkinkan upaya pencegahan dilakukan lebih dekat dengan lingkungan tempat anak tumbuh. Sekolah, keluarga, komunitas, dan organisasi masyarakat dapat dilibatkan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak sekaligus memperkuat ketahanan mereka terhadap berbagai pengaruh negatif.

BNPT menegaskan bahwa perlindungan anak dari paparan ekstremisme merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya perlu membangun sistem pencegahan yang tidak hanya berfokus pada dunia nyata, tetapi juga ruang digital.

Dengan kolaborasi tersebut, pencegahan terorisme dapat dilakukan lebih awal, sebelum paparan berkembang menjadi keterpaparan yang lebih serius. Upaya tersebut diarahkan untuk membentuk generasi muda yang memiliki karakter kuat, toleran, mampu berpikir kritis, serta bijak dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi digital.Kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) FKPT se-Indonesia Periode Triwulan III Tahun Anggaran 2026 dibuka langsung oleh Kepala BNPT RI Komjen Pol. (Purn) Eddy Hartono, SIK., MH. bersama Deputi Bidang Kesiapsiagaan Nasional dan Kontra Radikalisasi Mayjen TNI Sudaryanto, S.E., M.Han., serta Plt. Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Irjen Pol. Wawan Ridwan, SIK., SH., MH.

Kepala BNPT RI, Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono, dalam sambutan menyampaikan bahwa ancaman terorisme saat ini tidak lagi berupa tindak kekerasan fisik semata, namun paham ekstremisme berbasis kekerasan semakin menyebar melalui media sosial, jaringan komunikasi tertutup, dan interaksi sosial di tingkat lokal.

Baca Juga:  Cuaca Buruk, Sampai 15 September Sumbar Harus Waspada Bencana

“Disinilah FKPT memegang peran strategis sebagai wadah koordinasi dan kolaborasi di daerah yang menjembatani kebijakan nasional dengan kondisi nyata di masyarakat,” ujar Eddy Hartono.

Kegiatan ini bertujuan mengevaluasi capaian program FKPT sepanjang Triwulan III tahun anggaran 2026, memetakan kendala yang dihadapi di lapangan, dan merumuskan langkah perbaikan kedepan.

BNPT juga menggunakan forum ini untuk mensosialisasikan rencana program kerja Subdirektorat Penguatan Kapasitas Lembaga dan Literasi Pencegahan Tahun Anggaran 2026. Dengan begitu, program pusat dan daerah bisa berjalan seirama.

Pada kesempatan ini Deputi Bidang Kerjasama Internasional BNPT menyampaikan paparan “Penguatan Peran FKPT dalam Mendorong Penyusunan dan Implementasi RAN PE Fase Kedua Melalui RAD PE” dan Direktorat Kordinasi Penegakan Hukum dan Perlindingan Aparat Penegak Hukum dengan paparan “Kajian Barang Bukti Buku Tindak Pidana Terorisme”.

Selama tiga hari, rangkaian acara mencakup pemaparan evaluasi kinerja, arahan pimpinan BNPT, serta diskusi antar-FKPT se-Indonesia mengenai teknis pelaksanaan dan kalender kegiatan.

Kegiatan ini juga menetapkan program pelibatan masyarakat dalam pencegahan terorisme melalui FKPT untuk tahun anggaran 2026, yang akan dilaksanakan pada bulan Oktober-Desember dan akan diakhiri dengan penyelenggaraan Rakornas BNPT 2026 (Eko)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.