Padang, Khazminang.id – Dia terlihat sedang fokus dengan sebuah batu besar dihadapannya. Sebuah gerinda yang berputar seperti gasing di tangannya, didekatkan hingga menyentuh batu. Serpihan debu beterbangan di udara. Pada batu terdapat lubang dangkal bekas tebasan gerinda. Lalu dia letakkan gerinda, diambilnya palu dan pahat. Bekas lubang gerinda tadi dipahatnya hingga bongkahan kecil batu terpental.
Bulir keringat terlihat di dahinya. Sejenak dia beristirahat dan sekaligus jadi momen untuk bisa berinteraksi dengannya. Namanya Iwano Mashahito, seorang seniman kontemporer dan pematung asal Tokushima, Jepang. Ia hadir di Padang mengikuti The Arby Samah International Sculpture Residency & Exhibition 2026 yang dihelat di Taman Budaya Sumatera Barat memanfaatkan ruangan lepas pada bangunan terbengkalai.
“Saya memilih media batu sebagai bahan dasar karya saya. Temanya tentang “pusat” di Padang,” kata Iwano dibantu seorang mahasiswa Sastra Jepang Unand sebagai penerjemah.
Iwano sudah 2 kali ke Padang mengikuti iven pematung. Setahun lalu dia ke Padang mengikuti pameran patung dengan tema dunia gelombang. Iven tersebut adalah sebagai hiburan bagi anak-anak. Kali ini, dia datang lagi sambil memperagakan teknik membuat patung dari batu. Meski demikian, dia juga membawa karya patung yang sudah jadi dan dipamerkan di galeri Taman Budaya, judulnya “Kumo Nara Be in the Shizuoka Sky” yang dapat diartikan sebagai “Awan yang Berbaris di Langit Shizuoka.”
“Patung ini menonjolkan seri Kumo Nara Be- sebuah komposisi patung berbentuk awan waena warni yang emmadukan keindahan lanskap langit dengan pengalamanspasial dan interaksi publik di ruang terbuka,” jelas pria kelahiran 28 September 1961 ini.

Rekannya sesama pematung, Totok Basuki dari Australia, membuat karya patung juga dari batu dan besi. Pria kelahiran Indonesia, 4 April 1957 ini sudah mengoleksi berbagai penghargaan dalam karirnya sebagai pematung dan berbasis di Green Octopus Painting Studio, Australia Selatan.
Dalam karyanya kali ini, Totok ingin menggugah manusia untuk mencintai alam dan lingkungan. Alam memberikan segalanya untuk manusia dengan penuh cinta. Boleh memanfaatkan apa yang tersedia di alam, tetapi jangan dirusak. Sebab yang akan menikmati alam bukan mereka yang hidup saat ini saja tetapi juga generasi yang akan datang.
“Hal itu yang saya tumpahkan dalam karya patung ini. Sebenarnya patung ini terdiri dari 4 batu besar dan masing-masing batu dengan besi yang membentuk kata perkata “love”. Tapi karena terlalu banyak properti yang harus disiapkan, maka saya jadikan 1 batu saja untuk mengakomodir kata love,” terang Totok.
Saat ditemui, Totok sedang sibuk dengan tabung cat semprot di tangannya. Setiap kawat yang melambangkan huruf L, O, V dan E dihias cat sedemikian rupa.

Sementara Bettina Vogel dari Jerman, menyuguhkan patung dari kayu. Dia juga sedang berkutat dengan pahat dan palu di tangannya. Konsep patung yang diusungnya sangat dinamis, bergulir sesuai dengan alur kayu yang menjadi wadahnya.
“Saya membuat patung ini dengan konsep yang sesuai dengan alur kayunya,” terang Bettina.
Bettina memfokuskan praktik artistiknya di studio Kunstbrennerei yang berlokasi di Kolnstrabe 139, Bonn serta aktif berpartisipasi dalam agenda pameran studio terbuka Offene Ateliers.
Mereka bertiga, ternyata tidak asing dengan Sumatera Barat. Bahkan Bettina sangat fasih berbahasa Indonesia karena dia pernah tinggal di Jogjakarta. Bisa datang ke Ranah Minang adalah suatu kebanggaan bagi mereka yang sangat terkesan dengan keramahan penduduknya. (devi)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






