Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Gaya Hidup

Lebarnya Kerianggembiraan Lebaran

×

Lebarnya Kerianggembiraan Lebaran

Sebarkan artikel ini
Singkatnya Gini...
  • Perayaan Lebaran cenderung mengalami pergeseran makna dari kemenangan spiritual menjadi euforia duniawi yang berlebihan dan melampaui batas kewajaran.
  • Tradisi mudik masih diwarnai oleh pengabaian faktor keselamatan, tecermin dari tingginya volume pengendara sepeda motor jarak jauh yang menantang risiko kecelakaan fatal.
  • Peningkatan konsumtivisme masyarakat dan lonjakan pengunjung di destinasi wisata Sumatra Barat memicu kemacetan parah serta pengeluaran biaya besar yang tidak sejalan dengan tuntunan sunah.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Oleh Eko Yanche Edrie

 

Sebuah kerianggembiraan bernama: lebaran, akhirnya berlalu jua.Dalam diskursus syariah tentu saja yang dimaksud adalah kerianggembiraan setelah melewati perjuangan 30 hari 30 malam melawan perlawanan iblis. Lepas dari apakah dalam perjuangan itu kita yang kalah atau iblis yang kalah atau hanya podo, tapi syariah sudah mengaturnya sedemikian rupa, pada 1 Syawal saat Ramadhan berakhir, kemenangan dirayakan. Artinya dapat kita raba aba-aba dari dari syariah bahwa kita harus menang! dan iblis harus kalah. Podo pun tak boleh.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Itu Syariah.

Kerianggembiaraan di luar syariah juga tak kalah gegap gempitanya. Bahkan diluar sadar, sudah mendekati berlebihan. Kerianggembiraan merayakan lebaran sedemikian menonjolnya dibanding kegembiraan merayakan keberhasilan mengalahkan iblis selama 30 hari.

Bahkan yang saya maksud terakhir ini, sudah terlihat aba-abanya sepekan menjelang lebaran. Mabuk mudik yang tak memedulikan keselamatan diri pun sudah dirancang. Puluhan ribu berkendara roda dua dari Jakarta menuju desa-desa di Jawa dan Sumatra. Jaraknya ribuan kilometer. Dingin, hujan, panas, buruknya jalan, rawannya kecelakaan bahkan tak membuat gentar mereka. Ada yang sambil menggendong bayi bersepdamotor sampai ribuan kilometer dari Jakarta, alaaamak!.

Baca Juga:  Kunjungi Subang, Wakil Ketua ICCN Raffi Ahmad Bawa Harapan Baru bagi Ekraf Lokal

Di daerah lain termasuk di Sumatra Barat, kerianggembiraan menyambut lebaran (bukan merayakan kemenangan mengalahkan iblis 30 hari) tak kalah gila-gilaannya.

Sehari menjelang lebaran semua hotel di daerah ini sudah full book. Hotel-hotel kecil di Padang Panjang, Solok, Pariaman, Batusangkar dan Payakumbuh pun dibooking para peharirayawan dan peharirayawati.

Malam-malam 1 dan 2 Syawal, kota macam Bukittinggi benar-benar menjerit disesaki pengunjung. Berbagai kota  benar-benar terang benderang lantaran bersaput cayaha kembang api.

Sebuah kembang api dikombinasikan dengan mercon harganya Rp30ribu dibakar. Lima ledakan sekelas ledakan senjata tua jungle atau jenis LE Springfield berdentang di langit berbagai kota. Dalam semenit paling tidak ada dua kembang api ditembakkan, jadi abu lah duit Rp60 ribu. Anda hitung saja panjang pesta kembang api itu dari pukul 18.00 hingga pukul 00.00 WIB. Lalu hitung sejak 1 hingg 7 Syawal x Rp30 ribu sekali tembak.

Siangnya puluhan ribu liter bensin dan solar juga dibakar sepanjang jalanan yang macet. Minta ampun, dari Bukittinggi ke kampung saya di Aie Angek Kecamatan X Koto Tanah Datar yang jaraknya 11 Km terpaksa saya tempuh 4 jam. Di obyek wisata macam Minang Fantasi, orang tak peduli pula harus membayar puluhan ribu rupiah. Semua melakukannya dengan sadar. Dan…….yang pasti tak ada kerut di kening sambil menyumpah serapah. Semua merayakan kerianggembiraan lebaran. Meskipun belum tentu merayakan Idul Fitri sebagaimana tuntunan sunnah.

Baca Juga:  ParagonCorp Boyong 8 Penghargaan di Mob-Ex Awards Asia-Pasifik 2025 Lewat Inovasi Digital Wardah, Make Over, Kahf, dan OMG

Akhirnya satu pertanyaan: kegembiraan tak bisa dinilai dengan uang. Maka bae bana lah!***

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.