Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Opini

Ketika Planet Biru tak Lagi Balance, Manusia Menuai Bencana

×

Ketika Planet Biru tak Lagi Balance, Manusia Menuai Bencana

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Fitri Alrasi, M.A

Dosen UM Sumatera Barat

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

 

“Siapakah yang dapat melindungi kamu dari Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” (QS. Al Ahzab (33) : 17

Bumi mulai kehilangan keseimbangannya, seperti keseimbangan geraknya, keseimbangan iklimnya, keseimbangan sirkulasi air hujan, keseimbangan rantai makanan dan lain-lain. Pergeseran keseimbangan itu muncul disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, disebabkan oleh Continental Drift yaitu pergerakan lempeng tektonik. Pergerakan selama jutaan tahun ini sedang mencari keseimbangan finalnya. Dalam pergerakan  ini muncul tabrakan-tabrakan antar lempeng bumi sehingga terjadi gempa-gempa tektonik dalam berbagai skala, dan juga aktifitas gunung berapi. Hal ini wajar terjadi karena memang usia bumi ini sudah terlalu renta yaitu hampir dari 5 miliaran tahun, ibarat usia manusia yang sudah renta akan mengalami gejala-gejala ketuaannya seperti, penyakit degenerative tulang-tulang tidak lagi kuat dan kropos, otot-otot mengeras dan kaku, kulitnya mengeriput dan pikiran tidak lagi sempurna. Maka dari itu bumi ini sering goyang, sering terjadi gempa dan iklim tidak teratur.

Kedua, memburuknya keseimbangan bumi itu disebabkan oleh aktifitas manusia yang berlebihan dalam merusak kondisi bumi. Manusia telah merusak lingkungannya sendiri yang disebabkan oleh keserakahan dan akhlak buruk mereka. Bumi ini sedang dalam keadaan kritis untuk menyeimbangkan kembali kondisinya karena kerusakannya sudah begitu parah. Jika kita analogikan bumi ini seperti ban mobil yang sedang bergerak dengan kecepatan tinggi, kita akan merasakan mobil kita bergetar-getar yang disebabkan ban mobil kita tidak balance yang disebabkan berbagai hal seperti, velgnya yang penyok, atau karena permukaan bannya sudah cuil di sana sini, atau barangkali dikarenakan aus secara tidak merata. Oleh karena itu, ban harus dibawa ke bengkel spooring dan balancing  agar ban seimbang kembali, artinya kita manusia harus mendekatkan diri kepada Yang Maha Tahu yaitu Allah Ta’ala untuk berdoa agar bumi ini dipulihkan kembali keseimbangannya.

Baca Juga:  Tiada Henti Memeras Rakyat

Kenapa bencana datang beruntun kepada kita? Apa salah kita? Bukankah yang terdampak bencana mayoritas muslim, mereka melaksanakan sholat, di sana sini berkumpul mengadakan pengajian, doa bersama, menjamurnya majlis-majlis dzikir, bahkan berlomba-lomba membangun masjid di sepanjang jalan raya. Untuk kita ketahui bahwa bencana tidak memandang siapa rajin sholat, rajin puasa dan lain-lain, bencana akan menimpa orang baik, orang jahil, anak-anak, dewasa. Jadi bencana merupakan ujian bagi orang-orang baik agar dia menjadi lebih tinggi derjadnya di sisi Allah dan menjadi azab bagi orang-orang yang berbuat kezhaliman dimuka bumi Allah. Akibat dari kezhaliman manusia itulah bumi menjadi tidak bersahabat dan tidak seimbang, sebelumnya air hujan adalah rahmat yang menyuburkan tanah untuk para petani sehingga pada akhirnya mereka menuai hasil pertaniannya dengan sempurna, ketika Allah menghendaki air menjadi ujian maka semua Allah ratakan semua tanaman dalam sekejap.

Di dalam benak manusia masih menyimpan ungkapan air adalah sumber kehidupan dan turunnya hujan adalah rahmat bagi manusia. Namun kondisi yang terjadi ketika bumi tidak lagi seimbang, ratusan miliar ton air yang siap mengancam kehidupan manusia, air menjadi bencana yang mengerikan dan air hujan deras telah berubah menjadi banjir bandang. Apakah ini cobaan atau ujiankah bagi manusia ataukah azab?

“Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka  sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum (30 : 41)

Ayat ini menunjukkan bahwa bencana alam bias menjadi peringatan bagi manusia untuk kembali ke jalan yang benar, bertaubat, dan memperbaiki perilaku mereka. Dalam konteks bencana banjir, tanah longsong dan hujan deras disertai angin puting beliung di Sumatera, kita bias mengambil pelajaran bahwa bencana alam harus menjadi pengingat bagi kita untuk lebih menjaga lingkungan, tidak merusak alam, dan selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan.

Baca Juga:  Advokat Jangan Jadi Tukang Pakang Perkara

Sebenarnya bumi ini telah memiliki mekanisme sempurna untuk mengendalikan musim dan iklim. Rezeki yang disediakan Allah dimuka bumi untuk kehidupan manusia ini tidak akan habis asal saja manusia tidak serakah dan mementingkan diri sendiri. Namun kini semua itu telah kacau disebabkan manusia lebih mengandalkan teknologi, zat-zat kimiawi, dan pemaksaan-pemaksaan atas kondisi alam. Hal ini terjadi bukan produktifitas yang meningkat, melainkan semakin kacaunya proses produksi. Unsur-unsur hara di dalam tanah mengalami kerusakan. Dan yang paling merepotkan, iklim dan musim kini semakin sulit diprediksi. Hujan salah musim, volume air yang turun jauh melebihi biasanya. Banyak lahan-lahan gundul yang memicu terjadinya tanah longsong, banjir dimana-mana, membuat jalan putus, jembatan hanyut. Lapisan subur permukaan tanah pun mengelupas, sehingga semakin banyak daerah kritis dan tandus.

Oleh karena hal demikian, maka bencana ini bisa jadi cobaan bisa juga jadi peringatan keras atau azab.  Kita harus introspeksi diri dalam menyikapi hal ini. Bagi orang-orang yang menggunakan akalnya dan opened mind, mereka  bakal bisa mengambil hikmah dari berbagai peristiwa yang terjadi disekitar mereka. Hikmah yang terkandung di dalam bencana itu selalu memuat beberapa pelajaran agar kita berintrospeksi, dan kemudian termotivasi untuk melangkah ke arah yang  lebih baik dan produktif.

Memang kita selalu bertanya-tanya, kenapa ya kita terkena bencana dan musibah ini. Dan selalu jawabannya tidak pernah tuntas. Padahal sebenarnya kita bisa berkaca kepada bencana-bencana yang telah terjadi, termasuk pada zaman para nabi. Bahwa bencana selalu memiliki pelajaran multi-dimensi. Tiga dimensi di antaranya adalah ujian, cobaan, dan azab. Bagi orang-orang yang positive thingking, mereka akan selalu berpendapat bahwa selama ini adalah ujian dan cobaan. Ujian terhadap keimanan kita. Dan cobaan bagi kesabaran kita di dalam musibah. Karena semuanya itu datang dari Allah. Tak ada yang kebetulan di alam semesta ini. Begitulah salah satu sikap yang diajarkan Allah kepada kita dalam menghadapi bencana, yaitu sikap positif yang mengarah kepada ketauhidan yang kokoh.

Baca Juga:  FPS Bersama AJPLH Sepakati Komitmen Jaga Iklim Investasi yang Sehat dan Berkelanjutan di Sumbar

Berserah diri kepada Allah, setelah melewati proses. Bukan pasrah diri tanpa usaha namun menyadari semuanya datang dari Allah dan terjadi atas izin Allah. Dalam menghadapi bencana itu juga Allah mengajarkan kita untuk sabar karena Allah memang menguji kesabaran kita. Kesabaran itu tidak hanya dimulut melainkan juga dibuktikan dengan perbuatan, yaitu dengan meyakini bahwa Allah telah berkehendak dan tugas kita adalah berdoa dengan penuh harap kepada Allah untuk menolong kita. Bukannya minta pertolongan kepada selain Allah apalagi sampai menggugat Allah. Karena dibalik bencana yang Allah timpakan ada Rahmat dan hikmah dibaliknya. Allah selalu mendampingi orang-orang yang berorientasi pada kebaikan dan menjalani hidup dalam kesabaran. Sifat sabar dalam menghadapi bencana juga membawa kita saling peduli, saling membahu, saling mengasihi dan saling membantu. Inilah hikmah besar dari bencana yang sebagian manusia mengetahui hal tersebut. Dari mana-mana akan melakukan donasi penggalangan dana, terjun menjadi relawan di lokasi bencana, datang memberikan pendampingan trauma healing atau psiko-traumatik pada anak-anak. Semua kegiatan itu menyadarkan manusia bahwa setiap kejadian ada hikmahnya. Bagi orang-orang yang selalu berprasangka baik kepada Allah, malahan dibalik kejadian bencana dia mampu tetap bersyukur dengan segala nikmat dan rahmat yang sudah diterimanya sebelum terjadinya bencana, dan akhirnya dia bertawakkal kepada Allah seraya mengucapkan Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un, semua yang dating dari Allah akan kembali kepada Allah. Wallahu A’lam bi as-Shaw

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Opini

Catatan Reflektif dari Seorang Pendukung yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi Oleh: Riri Satria*)Iklan Scroll Untuk Baca Artikel Ada masa ketika…

Opini

Oleh : Rudy Rinaldy Kepala Dinas Kominfotik Provinsi Sumatera BaratIklan Scroll Untuk Baca Artikel   Ruang siber secara sederhana dapat…