Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Berita

Finorita Fauzi Hadirkan Pertunjukan Budaya Minang di Momen CFD

×

Finorita Fauzi Hadirkan Pertunjukan Budaya Minang di Momen CFD

Sebarkan artikel ini

Padang, Khazminang.id – Tak terasa sudah sepekan Finorita Fauzi berada di Padang. Kepulangan bankir tangguh ini disambut hangat para seniman di daerah ini. Bahkan mereka kolaborasi dengan anak muda pecinta seni budaya Minang menggelar pentas seni di ajang Car Free Day (CFD) Kota Padang, menampilkan tarian dan kepiawaian memainkan alat musik tradisional Minang.

Pertunjukkan mereka langsung mendapat sambutan warga yang pagi itu tengah berolahraga jalan santai di sepanjang Jalan Sudirman, Padang. Sejenak mereka menghentikan langkah dan bersantai sambil menikmati musik Minang mengiringi para gadis melenggak-lenggok mengikuti irama musik.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

“Momen CFD kemarin, Minggu (25/01/2026), saya membawa anak-anak tampil menyuguhkan musik talempong sambil mengiringi mereka menari di pertigaan gedung Bank Indonesia Perwakilan Sumbar. Rasanya sangat membahagiakan,” ujar Finorita Fauzi yang akrab disapa Pipin ini.

Kegiatan budaya yang dihadirkannya pada aktifitas CFD dimaksudkan untuk menyediakan ruang ekspresi seni yang terbuka dan inklusif bagi seniman lokal maupun komunitas kreatif. Selain itu, untuk mendekatkan seni kepada masyarakat luas, sehingga seni dapat dinikmati secara langsung tanpa batasan ruang formal.

Baca Juga:  Pemprov Sumbar Ajak Perantau Minang Sukseskan Konferensi Wakaf Internasional

“Tentunya kita juga berharap dengan adanya penampilan budaya di iven CFD terjadi peningkatan apresiasi dan literasi budaya di tengah masyarakat,” katanya.

Pipin juga bermaksud untuk menghidupkan suasana CFD agar tidak hanya berfungsi sebagai ruang olahraga, tetapi juga ruang rekreasi dan edukasi. Momen tersebut juga dapat mendorong interaksi sosial dan kebersamaan, memperkuat ikatan antarwarga melalui aktivitas positif.

“Pastinya dapat menumbuhkan ekonomi kreatif, khususnya bagi pelaku seni dan UMKM pendukung kegiatan. Dan tak ketinggalam dapat membangun citra kota yang ramah budaya, kreatif, dan berkelanjutan,” katanya.

Finorita Fauzi saat di area CFD Padang.

Tantangan Serius Budaya Minang

Pipin melewati masa kecilnya di Padang. Wanita kelahiran 26 Agustus 1968 ini tinggal di Indarung  bersama kedua orangtuanya. Usai menamatkan pendidikannya di Fakultas Pertanian Unand, Pipin merantau ke Jakarta. Jalan hidup membawanya berkecimpung di dunia perbankan, dari bank yang satu ke bank lainnya. Dan kini dia tercatat sebagai komisaris pada salah satu perbankan nasional.

Untuk mengimbangi pekerjaannya, Pipin melanjutkan kuliah mengambil Magister Manajemen di Universitas Airlangga hingga meraih gelar doktor Ilmu Manajemen dari Universitas Bina Nusantara (Binus University) Jakarta.

Baca Juga:  Pacu Kuda Wisata Derby Tahun 2025 Bukittinggi Agam Meningkatkan Kunjungan Pariwisata dan Pendapatan UMKM

Namun bankir yang satu ini sangat menyukai dan peduli dengan perkembangan seni budaya Minang. Baginya, berada dalam lingkungan seniman adalah suatu kebahagiaan yang tiada tara. Dia bisa menghabiskan waktu di sana. Lihat saja, saat ini sudah sepekan dia di Padang bergelut dengan kesenian dan budaya Minang.

“Tanpa seni, hidup seringkali terasa datar, monoton, dan kurang bermakna. Apalagi kita orang Minang yang terkenal kaya dengan seni budaya daerah,” kata mantan Eksekutif BSI.

Berbicara tentang seni budaya Minang, Pipin sangat antusias. Budaya Minangkabau memiliki kekayaan yang sangat khas dan langka, baik dalam bentuk warisan berwujud (tangible) maupun tak berwujud (intangible). Warisan berwujud (tangible) itu di antaranya rumah gadang dengan arsitektur tradisional, seni ukir, songket dan pakaian adat.

Sedangkan kekayaan tak berwujud (intangible) dalah berupa filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dan menganut sistem kekerabatan matrilineal terbesar di dunia. Ada pula randai, silek, tradisi lisan, hingga falsafah hidup yang sarat nilai etika, musyawarah, pendidikan karakter, dan keseimbangan antara manusia, alam, serta spiritualitas.

Baca Juga:  Memaknai HKG PKK ke-53 Tahun 2025 Dengan Melaksanakan Kegiatan Bazar dan Pasar Murah

“Nilai-nilai ini sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman modern yang cenderung individualistik dan materialistik,” katanya.

Di sisi lain, Pipin melihat adanya tantangan serius berupa degradasi bangunan bersejarah, berkurangnya regenerasi pelaku budaya, serta pergeseran minat generasi muda terhadap warisan tradisi. Kondisi ini menimbulkan dorongan moral dan intelektual dalam dirinya untuk turut berkontribusi dalam pelestarian, konservasi, dan promosi budaya Minangkabau agar tidak hanya bertahan, tetapi juga hidup dan berkembang secara bermartabat di tingkat nasional maupun internasional.

“Menjaga budaya Minangkabau berarti menjaga memori kolektif, jati diri, dan peradaban. Ini bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan investasi nilai untuk masa depan,” tegasnya. (*)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.