Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Ekonomi

Cabai Sumbar Makin Pedas Harganya Tembus Rp95 Ribu/Kg di Riau

×

Cabai Sumbar Makin Pedas Harganya Tembus Rp95 Ribu/Kg di Riau

Sebarkan artikel ini
Cabai makin pedas harganya
Singkatnya Gini...
  • Harga cabai merah di Kota Padang dan Pekanbaru melonjak hingga menembus Rp95.000 per kilogram, yang membebani pengeluaran masyarakat serta berpotensi menaikkan laju inflasi daerah.
  • Lonjakan harga tersebut dipicu oleh penurunan produksi dan gangguan pasokan dari sentra pertanian di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Jawa akibat bencana alam serta cuaca ekstrem.
  • Pemerintah Provinsi Sumatra Barat berkoordinasi lintas instansi bersama Bulog dan Bank Indonesia untuk menyiapkan langkah stabilisasi pasokan serta mengawasi distribusi agar harga lekas terkendali.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Padang, Khazanah — Harga cabai merah di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), dan Pekanbaru, Riau, melonjak hingga Rp95.000 per kilogram akibat penurunan produksi dan terganggunya pasokan dari sejumlah sentra pertanian. Kondisi ini menambah beban pengeluaran masyarakat dan berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi.

Di Padang, harga cabai merah di Pasar Raya berkisar Rp85.000 hingga Rp95.000 per kilogram. Sementara itu, di Pasar Selep, harganya mencapai sekitar Rp90.000 per kilogram.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Kepala Dinas Perdagangan Kota Padang, Fizlan Setiawan, mengatakan kenaikan harga yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir dipicu terganggunya pasokan dari sejumlah daerah, terutama Sumatera Utara (Sumut). Bencana di wilayah pemasok tersebut dilaporkan berdampak terhadap produksi dan menyebabkan petani mengalami gagal panen.

“Pasokan dari Sumatera Utara yang seharusnya masuk dalam tiga bulan ini, yakni Agustus, September, dan Oktober, terputus karena adanya kejadian bencana ataupun gunung meletus di beberapa wilayah yang mengakibatkan gagal panen petani kita,” kata Fizlan, Kamis (15/10/2026).

Menurutnya, kenaikan harga dalam dua pekan terakhir tidak hanya terjadi pada cabai merah, tetapi juga cabai hijau dan cabai rawit. Selain pasokan dari Sumut, pasokan dari sentra produksi di Sumbar, seperti Padang Panjang dan Alang Panjang, juga mengalami penurunan.

Baca Juga:  Bencana Usai, Ekonomi Sumbar Menggeliat Naik

Cabai yang didatangkan dari Kerinci, Jambi, saat ini dijual dengan harga Rp75.000 hingga Rp77.000 per kilogram. Tingginya harga di tingkat pemasok turut memengaruhi harga jual di pasar Kota Padang.

Fizlan berharap panen raya yang diperkirakan berlangsung pada akhir Oktober di Aceh dapat meningkatkan pasokan dan membantu menekan harga cabai di pasaran.

Harga Tinggi Merembet ke Pekanbaru

Kenaikan harga cabai merah juga dirasakan masyarakat Kota Pekanbaru, Riau. Cabai merah asal Sumbar di pasar tradisional setempat dijual dengan harga Rp90.000 hingga Rp95.000 per kilogram. Kenaikan tersebut telah berlangsung hampir tiga pekan dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Pedagang di Pasar Sukaramai Pekanbaru, Ajo, mengatakan kenaikan harga kemungkinan dipengaruhi kondisi kemarau yang menyebabkan sejumlah petani gagal panen sehingga pasokan berkurang.

“Harga cabai ini sudah naik hampir tiga minggu. Kemungkinan karena kemarau kemarin, sehingga banyak petani mengalami gagal panen,” kata Ajo, Senin (19/10/2026).

Ia menjelaskan, harga tinggi juga terjadi pada cabai dari daerah lain. Cabai yang didatangkan dari Medan dan Pulau Jawa dijual sekitar Rp80.000 hingga Rp85.000 per kilogram.

Baca Juga:  Didukung Banyak Tokoh, Tommy Makin Pede Maju Sebagai Ketum KONI Sumbar

Kenaikan harga tersebut turut membebani rumah tangga. Dewi, salah seorang warga Pekanbaru, mengatakan harga cabai yang belum kunjung turun, ditambah kenaikan sejumlah jenis sayuran, membuat pengeluaran kebutuhan sehari-hari semakin besar.

Kondisi itu memaksa masyarakat mengatur belanja secara lebih cermat. Warga berharap harga cabai dan komoditas pangan lainnya segera turun agar daya beli tetap terjaga.

Produksi Menurun, Pemprov Sumbar Siapkan Langkah Pengendalian

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumbar, Novrial, mengatakan kenaikan harga cabai merah menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Pemprov Sumbar bahkan telah menggelar rapat untuk membahas langkah pengendalian harga komoditas tersebut.

Menurut Novrial, kenaikan harga tidak hanya terjadi di Sumbar, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia. Penyebab utamanya adalah penurunan produktivitas cabai merah yang membuat pasokan ke pasar tidak stabil.

Produksi cabai merah lokal Sumbar saat ini belum cukup besar untuk memenuhi kebutuhan pasar. Akibatnya, sebagian besar pasokan harus didatangkan dari luar provinsi, terutama Jawa, Medan, dan Kerinci.

Novrial menyebut fenomena El Nino dan La Nina, serta dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), turut menjadi faktor yang memengaruhi produksi cabai merah.

Baca Juga:  Segenggam Beras, Sejuta Manfaat: Program Nagari Pangian Bersama Mahasiswa KKN UNP

Untuk mengendalikan harga, Pemprov Sumbar akan berkoordinasi melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pangan, Dinas Pertanian, Perum Bulog, serta Bank Indonesia. Langkah konkret diperlukan agar pasokan kembali stabil dan harga cabai dapat ditekan.

“Saya berharap kondisi ini tidak berlangsung lama, agar inflasi lebih terjaga. Kepada pedagang atau pengepul, saya meminta jangan sampai mengambil kesempatan di saat kesempitan ini, yang artinya sengaja menahan-nahan pasokan ke pasar,” kata Novrial.

Pemerintah berharap perbaikan pasokan dari sentra produksi dan koordinasi antarlembaga dapat segera menstabilkan harga. Dengan demikian, tekanan terhadap inflasi dapat dikendalikan dan beban pengeluaran masyarakat tidak semakin meningkat.

Catatan penyuntingan: Saya menempatkan lonjakan harga sebagai lead, disusul penyebab gangguan pasokan di Padang, dampaknya di Pekanbaru, kemudian respons pemerintah provinsi. Dengan susunan ini, berita bergerak dari dampak yang paling dirasakan masyarakat menuju penyebab dan upaya penanganan. Klaim mengenai pengaruh El Nino, La Nina, bencana, dan karhutla tetap diatribusikan kepada narasumber, bukan dinyatakan sebagai kesimpulan independen.(eko/berbagai sumber)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.