Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Opini

Ada Apa dengan Semen Padang FC?

×

Ada Apa dengan Semen Padang FC?

Sebarkan artikel ini

Catatan Reflektif dari Seorang Pendukung yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Oleh: Riri Satria*)

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Ada masa ketika menyebut nama Semen Padang FC terasa seperti menyebut rumah. Ia bukan sekadar klub sepak bola, melainkan ingatan kolektif: stadion yang berdebu, teriakan tribun yang serak, dan denyut kebanggaan yang tumbuh pelan-pelan di dada. Bagi saya, menonton Semen Padang FC di stadion adalah salah satu kebahagiaan paling jujur di masa muda dulu di Padang. Sepak bola memberi saya alasan untuk pulang lebih cepat, untuk berdiri lebih lama di tribun, dan untuk percaya bahwa kebersamaan bisa lahir dari sebelas orang yang berlari mengejar bola.

Kebahagiaan itu tidak berhenti di masa lalu. Hingga hari ini saya masih menyempatkan diri menonton Semen Padang FC bertanding tandang di Jakarta atau sekitarnya, selama tidak bentrok dengan berbagai agenda. Ada rasa yang sulit digantikan ketika melihat seragam merah atau kuning itu masuk lapangan, meski stadionnya berbeda, meski sorak-sorai tak lagi seramai dulu. Rasanya seperti bertemu kawan lama, tidak selalu membanggakan, tetapi selalu berarti.

Musim ini, perasaan itu diuji. Semen Padang FC lebih sering hadir bersama kabar yang membuat dahi berkerut, yaitu kekalahan, zona degradasi, pergantian pelatih, dan perombakan skuad besar-besaran. Sebagai pendukung, saya mencoba jujur pada diri sendiri bahwa ini bukan semata soal hasil. Ini tentang hilangnya rasa percaya. Tentang pertanyaan, ke mana perginya ruh yang dulu membuat tim ini bertarung pun semangat tinggi, harga diri, serta tanpa rasa takut?

Baca Juga:  Melegalisasi Tambang Ilegal

Kedekatan saya dengan Semen Padang FC juga tidak bisa dilepaskan dari kedekatan emosional saya dengan PT Semen Padang. Almarhum ayah saya pernah menjadi konsultan sekaligus penasihat di perusahaan ini. Dari cerita-cerita beliau, saya mengenal Semen Padang bukan hanya sebagai industri, tetapi sebagai ekosistem kehidupan yang menumbuhkan banyak orang. Saya sendiri pernah menjalani kerja praktik semasa kuliah di perusahaan ini, menyusuri lorong-lorong kerja yang penuh disiplin, tanggung jawab, dan kebanggaan sebagai bagian dari sesuatu yang besar.

Di masa muda dulu saya juga memiliki banyak sahabat yang tinggal di kompleks PT Semen Padang karena orang tua mereka bekerja di sana. Saya sering bermain dan menghabiskan waktu di kawasan itu. Dari situlah rasa memiliki itu tumbuh di mana Semen Padang bukan nama asing, melainkan bagian dari lanskap hidup saya. Maka, ketika menyebut Semen Padang FC, yang terbayang bukan hanya klub sepak bola, tetapi jejaring kenangan, persahabatan, dan sejarah keluarga.

Barangkali karena itu pula, situasi hari ini terasa lebih menyakitkan. Sepak bola memang akumulasi banyak hal, taktik, fisik, mental, dan manajemen. Ketika satu saja timpang, yang lain ikut goyah. Perombakan skuad dan banjir pemain baru bisa dibaca sebagai kepanikan, tetapi juga bisa dimaknai sebagai keberanian mengakui bahwa ada yang salah dan perlu diperbaiki. Harapan kembali disusun, meski kini lebih hati-hati, lebih dewasa, dan tidak lagi gegabah.

Baca Juga:  Inayah Menampar Pemimpin

Kedewasaan itu juga lahir dari sejarah panjang saya bersama sepak bola Padang. Semen Padang FC, bersama PSP Padang adalah sejarah pribadi saya sejak muda sebagai penggemar sepak bola. Dari dua klub itulah saya belajar bahwa sepak bola bukan semata kompetisi, melainkan kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat.

Saya masih ingat betul masa ketika gelombang pemain asing pertama datang ke Semen Padang FC. Ada kegembiraan yang tulus saat menyaksikan nama-nama seperti Antonio Toyo Claudio, Luzardi, dan Didier Malanga Kesack. Mereka membawa warna baru, gaya bermain yang berbeda, dan imajinasi bahwa sepak bola kita bisa melangkah lebih jauh. Menikmati permainan mereka adalah bagian dari proses saya jatuh cinta lebih dalam pada klub ini bahwa perubahan, jika dikelola dengan tepat, bisa menjadi harapan.

Kini yang dibutuhkan Semen Padang FC bukan hanya kemenangan, tetapi keberanian untuk kembali mengenali jati dirinya. Bermain bukan sekadar untuk keluar dari degradasi, melainkan untuk memulihkan martabat dan kepercayaan. Sebab di balik logo dan seragam itu, ada sejarah panjang, ada keluarga-keluarga yang tumbuh bersamanya, dan ada pendukung yang setia meski sering terluka.

Baca Juga:  Surat Terbuka untuk Sahabat KADIN Sumbar, Momentum Ketika Panggung Besar Tak Lagi Bersama

Sebagai pendukung, saya belajar satu hal bahwa mencintai klub tidak selalu berarti merayakan kemenangan. Kadang mencintai justru berarti bertahan dalam kekecewaan, sambil menyimpan keyakinan kecil bahwa suatu hari nanti kita bisa berkata, “Kita pernah jatuh sedalam ini, dan kita berhasil bangkit.” Untuk Semen Padang FC, keyakinan itu masih ada meski kini saya genggam dengan lebih sunyi, lebih sabar, dan lebih setia. Semoga demikian.

*)Riri Satria adalah pencinta klub Semen Padang sejak muda, saat ini seorang dosen di Universitas Indonesia, komisaris utama sebuah BUMN, serta pengamat teknologi dan transformasi digital.

 

 

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.