Padang, Khazminang.id – Sukses di perantauan tak membuatnya lupa kampung halaman. Secara rutin ia ke Padang, bertemu dan berdiskusi dengan banyak kalangan sambil menyerap aspirasi mereka tentang berbagai persoalan masyarakat untuk dicarikan solusinya. Finorita Fauzi yang akrab disapa Pipin ini, seorang bundo kanduang tangguh yang malang melintang di dunia perbankan tanah air.
Mantan Branch Manager – CIMB Niaga ini sangat menyukai budaya Minangkabau. Kecintaannya pada budaya Minang salah satunya diwujudkan Pipin dengan mendirikan Rumah Budaya Alam Takambang di Padang. Berbagai kerumitan yang ditemuinya dalam pekerjaannya bakal cair jika ia hadir di antara para seniman dengan segala karya-karya kreatifnya.
“Perhatian saya terhadap budaya Minangkabau lahir dari kesadaran bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi fondasi identitas, nilai hidup, dan kearifan yang membentuk karakter suatu masyarakat,” ujar Pipin saat berdiskusi dengan para seniman dan budayawan di Taman Budaya Sumbar, Rabu 928/01/2026).
Diskusi saat petang itu berlangsung hangat dengan dihadiri seniman dan budayawan yang antusias dengan kehadirannya, di antaranya Yeyen Kiram, SH, Afrimas, Dr. Andrea C Tamsin, Drs.Trikora Irianto, Ishak Fahmi, SH, MH, Dr.Hermawan, Joni Wahid, Tusriadi dan Yayas, seorang arsitek yang tengah melakukan survei untuk pembangunan laga-laga di Taman Budaya.
“Agak prihatin juga ya, karena fasilitas seperti sarana prasarana untuk seniman dan budayawan berkreasi sangat terbatas di sini,” kata Pipin yang juga dosen Nusantara Business Institute ini sambil tercenung.
Finorita Fauzi didampingi rekan seniman saat berdiskusi dengan Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Syamsul Bahri.Sebab kawasan Taman Budaya itu nyaris dipenuhi beton-beton terbengkalai. Seperti tak ada ruang bagi para pegiat seni itu berkarya. Terkadang dengan sangat terpaksa, di antara puing-puing itu mereka menggelar pameran seni dan pertunjukkan.
Kondisi seperti itu telah berlangsung selama hampir 15 tahun tanpa ada solusi meski mereka yang tergabung dalam Forum Perjuangan Seniman (FPS) Sumatera Barat itu telah berulang kali menggelar aksi menggugah perhatian pemerintah daerah.
Pipin mendengarkan suara-suara para pelaku seni budaya itu yang menyeru ke dalam relung hatinya. Sebuah cahaya pun berpendar. Ia akan membantu mewujudkan impian mereka yang ingin memiliki fasilitas untuk berkesenian. Sebuah laga-laga.
“Kita perlu bahas dengan Kepala Dinas Kebudayaan, ruang mana yang dapat kita manfaatkan untuk membangung laga-laga,” katanya.
Petang itu, gayung bersambut. Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Syaiful Bahri yang juga pegiat seni, menyambut antusias rencana tersebut. Langsung saja lokasi Taman Budaya itu disisir bersama-sama dan memperkirakan lokasi paling pas untuk membangun laga-laga yang representatif.
“Kedatangan Bu Pipin melengkapi iklim berkesenian kita. Semoga Allah mudahkan. Kami juga menyerahkan buku hasil diskusi bulanan selama dua tahun terakhir aktifitas kawan-kawan seniman FPS Sumbar,” ujar Yeyen Kiram. (*)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






