H. SYAILENDRA, ialah satu dari sekian banyak pelaku usaha yang membuktikan bahwa tak ada yang mustahil, dan tak ada pula yang tak mungkin dalam dunia usaha. Selama berpegang teguh pada keyakinan, melangkah dalam optimisme dan kejujuran, maka niscaya tak akan bersua hasil dan pencapaian yang berkhianat pada prosesnya.
“Dengan memegang teguh prinsip, senantiasa menyerahkan sepenuh asa dan harapan kepada Allah SWT, Insha Allah, tak ada yang tak mungkin,” ujar H. Syailendra, owner usaha roti “Aceng Bakery”, ketika ditemui media ini rumah produksinya di Jl. M. Hatta, Pasar Baru, Kec. Pauh, Kota Padang, Rabu 22 Oktober 2025.
Sepakat kita, bahwa merintis usaha sejak dari mula, memang tidaklah mudah itu perkara. Ada banyak proses dan tahapan yang menyertainya. Kadang mulus dan manis-manis saja, namun tak jarang pula bersua pahit nan berbuah duka. Ada yang jatuh lalu bergegas bangkit. Namun tak sedikit pula yang pada akhirnya memilih mundur dan suka tak suka berkarilaan saja menerima nasibnya.

“Lelah, iya. Putus asa, ada. Namun Insha Allah, saya adalah seorang hamba yang selalu berpegang teguh pada keyakinan, bahwa sebesar dan seberat apapun tantangan, jangan pernah lupa melibatkan Maha Pencipta. Serahkan diri pada-Nya. Yakin, adalah kuncinya,” ujar Syailendra, mencoba memungut kembali kepingan cerita manakala ia memutuskan untuk membanderol diri sebagai seorang pengusaha.
Tahun 2008, atau genap 17 tahun merangkak membangun usaha dengan segala warna, dinamika, suka pun duka, tentu bukan pula rentang waktu yang singkat, sebelum akhirnya mengantarkan seseorang menggapai puncak sukses, masa emas dan kejayaannya. Ada keluh, kesah, duka, bahkan air mata. Begitulah pula halnya dengan Syailendra.
“Jujur saja, saya pernah benar-benar sampai di puncak, lalu jatuh, terpuruk dan bahkan nyaris menutup usaha ini. Karena apa? Karena terlilit hutang dan pinjaman di banyak bank, karena didesak oleh tuntutan dan gaya hidup,” ujar Syailendra, penerima Gold Certificate pada ajang Semen Padang UKM Award tahun 2012 untuk kategori penyerapan tenaga kerja terbanyak itu.

Namun, bukanlah seorang Syailendra jika harus mengalah surut dan berlarut-larut dalam marasai dan nestapa. Pantang benar itu baginya. Karena keyakinan Syailendra, jatuh gagal dalam usaha adalah hal biasa dan bukan pula akhir dari segala. “Dunia belum kiamat, Saudara,” begitu keteguhan hatinya.
Pasai dirundung malang, lanyah ditikam pahit getir kenyataan, justru membuat ayah dua anak ini kian masak. Ujian demi ujian, justru semakin meneguhkan hatinya untuk menerobos badai, menyongsong gelombang, menjemput hari depan bergelimang cahaya.
Pengalaman, ia jadikan maha guru, tempat ia belajar, tempat akhirnya ia kembali memutuskan untuk melangkah mantap menjemput sukses tertunda, sukses nan dulu sudah pernah ada di genggamannya.

Jerat dari segala apa yang membelenggu, diputus. Mesin dan nyala api semangat yang sempat pudur, kembali dinyalakannya. “Ndak ada hari lagi,” batinnya dalam keyakinan yang kian menggurita.
Nol Kilometer Lagi
Awal tahun 2020, adalah babak “baru” bagi Syailendra. Tahun itu, sekaligus menjadi awal kebangkitan usaha roti Aceng Bakery, yang sesungguhnya memang telah mendapat tempat di hati masyarakat dan para pelanggan setianya. Tak hanya di Kota Padang sebagai daerah tempat produksinya, melainkan juga di seluruh kabupaten kota di Sumatera Barat.
“Tekad saya semakin kuat. Dengan Bismillah, saya mulai bergerak dan bangkit kembali. Satu hal yang pasti, 2020 adalah satu titik dalam rentang perjalanan usaha, dimana saya memutuskan untuk tidak lagi berurusan dengan bank. Saya jera,” ujar Syailendra.
Dulu, 17 tahun yang lalu kenang Syailendra, semua proses dan tahapan produksi dilakukan secara manual mengandalkan tenaga manusia. Mulai dari proses cetak dengan menggunakan tangan, lanjut pada proses pengolahan roti yang dimasak atau dibakar dengan menggunakan tungku, hingga proses packaging yang dikemas langsung menggunakan plastik dengan label merk dari potongan kertas.
Perlahan namun pasti, kapasitas produksi yang awalnya hanya berkisar di angka 7.000 pack perhari, lambat laun meningkat signifikan. Penikmat dan pelanggan Aceng Bakery kian banyak dan tersebar merata hampir di seluruh kabupaten kota. Nafsu duniawi pun mulai menggoda. Syailendra pun seperti tak kuasa mengelak darinya.

“Disinilah petaka itu bermula. Tawaran kredit berdatangan dari banyak bank. Nyaris tak ada yang alfa, saya sikat semua. Berbekal hutang dan pinjaman bank itulah saya lengkapi segala peralatan produksi, berikut mesin-mesin pengolahan roti berteknologi canggih yang mengikuti trend dan kebaruan. Walau sesungguhnya niat saya semata untuk pengembangan usaha, namun akhirnya apa, saya terperangkap juga,” kenang Syailendra.
Lelaki berkacamata yang diam-diam juga ternyata seorang pemusik ini mengatakan, lewat usaha roti Aceng Bakery, kini dirinya sudah mempekerjakan sedikitnya 20 orang karyawan di bagian produksi. Tidak itu saja, Syailendra kini juga diperkuat oleh 32 orang sales yang bekerja secara freelance, yang membantu memasarkan produknya hingga ke seluruh pelosok Sumbar.
Mengawalinya dengan sedikit tertatih-tatih, karena harus memulai semuanya dari nol kembali, maka sejak memulai babak baru di awal tahun 2020, Aceng Bakery yang mengusung slogan “Rotinyo Urang Awak”, hingga kini telah memproduksi di atas 25.000 pack roti dengan aneka varian rasa setiap harinya. Seperti varian cream coklat, roti manis, mentega meses dan srikaya.
Meski sudah termasuk dalam skala besar, namun jumlah produksi sebanyak itu kata Syailendra, diakui belumlah memenuhi permintaan pelanggan secara keseluruhan. Bukan berarti tak mampu meningkatkan kapasitas produksi, namun bagi Syailendra, ini menjadi salah satu bagian dari strategi tata kelola perusahaan, terutama dalam upaya membangun penguatan sistem dan mengantisipasi kebocoran di segala lini usaha.
“Jadi, produksi kita by order, atau sesuai permintaan saja. Dalam sehari, paling hanya dilebihkan sekitar 2.000 pack saja,” ujar Syailendra.
Kualitas dan Cita Rasa
Rasanya, tak susah-susah benar mencari keberadaan roti berlabel Aceng Bakery ini. Di grosir, di kedai-kedai kopi dan di warung-warung rumahan di sepanjang labuh, baik di kawasan perkotaan hingga ke pelosok pedesaan di seluruh daerah di Sumatera Barat, Aceng Bakery menjadi salah satu cemilan ringan yang terbukti paling dinanti-nanti hadirnya.
Cita rasa yang khas dengan tekstur roti yang lembut berpadu aneka varian rasa di dalamnya, sebenar kadam ke untuk kawan mengopi, ngeteh, atau sekadar kudapan ke untuk kawan meota di lepau-lepau, maupun di rumah untuk dinikmati bersama keluarga. Selain kualitas dan cita rasa yang terjaga, harganya yang merakyat juga membuat Aceng Bakery cepat tandasnya.

“Sakali ngantar itu, sales kasih saya 50 pack biasanya. Kadang tak sampai tiga hari saja, sudah habis itu, Om. Enak sih rotinya,” kata Mbak Ana, salah seorang pemilik kedai di Komp. Rindang Alam, Koto Lua.
Bagi Syailendra, kualitas dan cita rasa, memang menjadi harga mati yang tak bisa ditawar-tawar. Kepuasan dan kepercayaan konsumen, adalah segala-galanya. Maka tak heran, Aceng Bakery sedikitpun tak pernah redup dan tetap tegar menghadapi ketatnya persaingan pasar. Karena ia telah terlanjur disukai seluruh kalangan.
Di balik semua itu, pengalaman yang telah memberikan Syailendra banyak waktu dan kesempatan untuk memetik hikmah serta pelajaran, membuat ia hari ini menjelma menjadi sosok pribadi yang tenang, tidak ambisius, namun tetap berkarakter sebagai pengusaha yang optimis.
“Insha Allah, kita berusaha untuk tidak lagi diburu dan dibayang-bayangi oleh nafsu untuk semata mengejar kuantitas. Namun lebih kepada mencari banyak keberkahan dalam usaha dan ketenangan dalam menjalani hidup. Mudah-mudahan Allah setuju,” ucap Syailendra mengakhiri. Ryan Syair
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






