Oleh: Novrizal
Setiap 17 Agustus, Indonesia punya sebuah tradisi yang begitu rutin sehingga hampir tidak ada lagi yang merasa perlu bertanya: mengapa rakyat harus berdiri di bawah matahari, sementara para pejabat duduk nyaman di bawah tenda?
Pemandangan itu muncul hampir di setiap pelosok negeri. Di lapangan sekolah, halaman kantor, alun-alun kota, hingga arena upacara tingkat kabupaten dan provinsi. Anak-anak sekolah berdiri berbaris. Guru berdiri. Petugas upacara berdiri. Pasukan pengibar bendera berdiri. Undangan dari masyarakat berdiri. Panitia mondar-mandir di bawah matahari. Pedagang kecil menunggu di pinggir lapangan.
Matahari memang tidak mengenal jabatan, dan ia memang sangat demokratis tetapi rupanya upacara 17 Agustus mengenal kasta.
Di satu sisi lapangan, rakyat menjalani apa yang disebut “penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan” dengan keringat, tenggorokan kering, kepala berkunang-kunang, bahkan sesekali tubuh yang akhirnya roboh. Di sisi lain, para pejabat, elite politik, tokoh penting, dan orang-orang yang dianggap “tamu kehormatan” duduk rapi di bawah tenda besar.
Mereka tidak perlu khawatir, kalau cuaca terlalu panas, tersedia kipas, kalau hujan turun, tersedia atap, kalau matahari menyengat, tersedia perlindungan, dan kalau rakyat yang tumbang, tersedia petugas Kesehatan!
Begitulah cara kita merayakan kemerdekaan, yang satu merasakan panasnya matahari, yang lain merasakan dinginnya pendingin udara. Ironis memang karena semuanya dilakukan atas nama nasionalisme. Kita kemudian menyebutnya seremoni, dan karena sudah dilakukan bertahun-tahun, pertanyaan kritis dianggap hampir seperti penghinaan terhadap patriotisme.
Padahal ada pertanyaan sederhana yang layak diajukan, sejak kapan penghormatan kepada kemerdekaan harus dibuktikan dengan kemampuan menahan panas?
Apakah semakin lama seorang anak berdiri di bawah matahari, semakin besar cintanya kepada Indonesia? Apakah orang yang pingsan karena dehidrasi sedang menunjukkan nasionalisme yang lebih tinggi daripada pejabat yang duduk teduh? Apakah rakyat yang kepanasan lebih patriotik daripada pejabat yang terlindungi tenda? Kalau jawabannya tidak, lalu mengapa formatnya masih seperti itu?
Kemerdekaan yang Dideklarasikan Tanpa Tenda
 Ada ironi sejarah yang menarik, proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tidak berlangsung di stadion megah. Tidak ada panggung raksasa. Tidak ada tenda VIP. Tidak ada karpet merah. Tidak ada kursi berdasarkan eselon. Tidak ada daftar “very very important person”.
Proklamasi dibacakan di sebuah rumah sederhana di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Sederhana memang! Justru kesederhanaan itu yang mengandung kemewahan moral. Kemerdekaan lahir dari sebuah momentum yang tidak mengenal protokol kekuasaan seperti yang kita kenal sekarang. Tidak ada rakyat kelas bawah yang dipanggang matahari sementara elite duduk di tempat paling nyaman.
Tetapi puluhan tahun kemudian, kita berhasil melakukan sesuatu yang cukup kreatif yakni  mengubah perayaan kemerdekaan menjadi semacam diagram struktur kekuasaan.
Semakin tinggi jabatan, semakin nyaman tempat duduknya. Semakin rendah posisi sosial, semakin besar kemungkinan berdiri. Semakin penting seseorang menurut protokol, semakin besar kemungkinan mendapatkan tenda. Semakin biasa seseorang menurut negara, semakin besar kemungkinan mendapatkan matahari. Barangkali inilah inovasi Indonesia dalam merawat tradisi: sejarahnya tetap sama, tetapi posisi kursinya diperbarui.
Rakyat sebagai Dekorasi Nasionalisme
 Yang paling menarik adalah bagaimana rakyat sering ditempatkan sebagai latar belakang dari seremoni. Anak-anak sekolah mengenakan seragam terbaik, petugas mengenakan pakaian paling rapi, pasukan pengibar bendera berlatih berhari-hari, guuru-guru mengatur barisan, dan masyarakat memenuhi lapangan. Semua tampak indah dari kejauhan!
Kamera televisi menangkap bendera merah putih yang berkibar paduan suara bernyanyi, komandan upacara memberi aba-aba, inspektur upacara membacakan amanat, lalu kamera sesekali memperlihatkan wajah-wajah peserta yang mulai pucat.
Seorang anak mengusap keringat yang lain menggoyang-goyangkan kaki karena terlalu lama berdiri. Seorang petugas berlari membawa air kemudian seseorang jatuh, dan upacara tetap berlangsung karena negara harus tetap terlihat gagah.
Barangkali inilah bentuk nasionalisme yang paling unik: rakyat boleh hampir tumbang, tetapi seremoni tidak boleh kehilangan wibawa. Kalau ada peserta pingsan, biasanya responsnya cepat: “Kasihan.”
Tetapi jarang sekali muncul pertanyaan yang lebih mengganggu: Mengapa sejak awal mereka harus dibuat berada dalam kondisi yang memungkinkan mereka pingsan? Bukankah negara seharusnya punya cukup kecerdasan administratif untuk mengetahui bahwa matahari tropis Indonesia bukan lampu dekorasi?
Tenda dan Teori Kasta
 Tenda pejabat sebenarnya bukan masalah karena pejabat juga manusia. Mereka bisa kepanasan, bisa dehidrasi, dan juga bisa sakit. Masalahnya adalah ketika perlindungan itu menjadi simbol bahwa kenyamanan merupakan hak struktural bagi mereka yang memiliki jabatan, sementara ketidaknyamanan dianggap sebagai kewajiban bagi mereka yang tidak punya jabatan.
Di sinilah tenda berubah dari benda menjadi simbol. Ia menjadi semacam arsitektur kekuasaan. Di bawah tenda adalah tempat pejabat, dan di bawah matahari adalah tempat rakyat. Di bawah tenda adalah tempat orang yang memberi pidato tentang perjuangan rakyat. Di bawah matahari adalah rempat rakyat yang mendengarkan pidato tersebut. Sungguh sebuah pembagian ruang yang sangat filosofis.
Kalau Karl Marx masih hidup, mungkin ia tidak perlu lagi mengamati pabrik. Cukup datang ke lapangan upacara 17 Agustus dan melihat distribusi naungan. Di sana struktur kelas bisa dipelajari tanpa membaca buku teori sosial.
Ada kelas yang mendapatkan kursi. Ada kelas yang mendapatkan tenda. Ada kelas yang mendapatkan kipas. Dan ada kelas yang mendapatkan matahari. Untungnya semuanya sama-sama mendapatkan bendera.
Nasionalisme Jangan Diukur dari Keringat
 Kita tentu tidak sedang mengatakan bahwa upacara 17 Agustus tidak penting. Penghormatan terhadap sejarah penting, mengenang perjuangan para pahlawan penting. Mengibarkan bendera penting. Menanamkan rasa kebangsaan kepada generasi muda juga penting.
Tetapi nasionalisme tidak semestinya diukur dari seberapa lama seseorang mampu berdiri tegak di bawah matahari. Nasionalisme justru mestinya terlihat dari bagaimana negara memperlakukan warganya.
Kalau seorang anak sekolah hampir pingsan karena kepanasan, lalu kita mengatakan, “Itulah pengorbanan,” kita perlu berhati-hati. Sebab pengorbanan dalam perjuangan kemerdekaan adalah sesuatu yang dilakukan karena keadaan sejarah yang luar biasa. Sedangkan membuat anak-anak berdiri berjam-jam di bawah panas matahari karena format seremoni tidak mau berubah adalah persoalan lain.
Mungkin Kita Perlu Memerdekakan Upacara
 Sudah waktunya kita memikirkan ulang bentuk perayaan kemerdekaan. Mengapa tidak membuat upacara lebih manusiawi? Durasi dapat dipersingkat, peserta dapat disediakan tempat berteduh. Air minum harus tersedia, anak-anak tidak harus berdiri berjam-jam. Petugas lapangan harus mendapatkan perlindungan yang layak.
Dan kalau memang pejabat membutuhkan tenda karena alasan kesehatan dan protokol, tentu rakyat juga manusia yang memiliki tubuh dan batas ketahanan. Bahkan mungkin sesekali pejabat bisa mencoba berdiri bersama rakyat. Bukan untuk pencitraan, bukan untuk difoto tetapi untuk merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang selama ini mereka wakili dalam pidato.
Bayangkan kalau suatu hari seorang pejabat berkata“Tidak perlu tenda khusus untuk saya. Saya berdiri saja bersama masyarakat.” Mungkin itu akan menjadi seremoni yang lebih patriotik daripada seribu spanduk bertuliskan MERDEKA!
Hakikatnya, kemerdekaan bukan hanya soal bendera yang berkibar karena kemerdekaan juga soal bagaimana manusia diperlakukan. Masalahnya adalah ketika kita terlalu sibuk merayakan kemerdekaan secara simbolik, tetapi lupa menghidupkan nilai kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari.
Kita mengajarkan anak-anak bahwa para pahlawan berjuang untuk kesetaraan, tetapi dalam upacara mereka melihat hierarki dipertontonkan dengan sangat jelas.
Kita menyanyikan lagu tentang tanah air, tetapi sebagian peserta harus menahan haus. Kita berbicara tentang persatuan, tetapi ruang upacara membedakan siapa yang boleh berteduh dan siapa yang harus kepanasan.
Bukankah kemerdekaan seharusnya membuat manusia lebih dihargai, bukan sekadar lebih tertib dalam barisan.
Dan mungkin, pada 17 Agustus tahun depan, sebelum memerintahkan rakyat berdiri tegak di bawah matahari, para pejabat perlu melakukan satu eksperimen sederhana yakni keluar dari tenda. Berdirilah di lapangan, rasakan panasnya, tahan hausnya, dengarkan napas orang-orang di sekitar.
Kalau kuat, lanjutkan. Kalau pusing, silakan berteduh. Dan ketika seorang pejabat akhirnya mencari tempat teduh karena matahari terlalu panas, mungkin ia akan memahami sebuah pelajaran kecil tentang kemerdekaan:
Sebab kalau pada hari kemerdekaan rakyat yang dipanggang sementara penguasa berteduh dianggap pemandangan biasa, mungkin yang sebenarnya belum merdeka bukan negaranya melainkan cara berpikir kita.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






