Padang, Khazminang.id – Progres penanganan darurat pascabencana terhadap 21 unit sungai di Sumatera Barat (Sumbar), sudah mencapai 55 persen. Sungai-sungai tersebut mengalami pendangkalan dan kehilangan alur sungai karena tertutup material banjir bandang. Akibatnya sungai mengalami kehilangan kapasitasnya menampung air. Jika tak segera ditangani maka berpotensi memicu banjir susulan.
BUMN PT. Adhi Karya mendapat amanah melakukan rehabilitasi infrastruktur sungai pascabencana. Sungai yang diperbaiki itu tersebar pada 3 daerah terdampak bencana paling parah, masing-masing di Kabupaten Agam 10 titik sungai, Kabupaten Tanah Datar 6 titik sungai dan Kabupaten Solok 5 titik sungai. Total panjang sungai yang ditangani dalam proyek pemulihan pascabencana ini mencapai 35,8 kilometer.
“Kita punya waktu selama 3 bulan untuk menuntaskan penanganan darurat 21 unit sungai yang mengalami kerusakan cukup signifikan, mulai 11 Desember 2025 hingga 10 Maret 2026,” jelas Manager Proyek Sumber Daya Air (SDA) PT. Adhi Karya untuk Penanganan Darurat Bencana di Sumbar, Triyanto saat ditemui di Padang, Senin (02/02/2026).

Di antara sungai yang tengah dikerjakan Adhi Karya adalah normalisasi dan pemasangan bronjong di Batang Asam, Kabupaten Agam. Hujan lebat dengan intensitas tinggi menyebabkan tanggul Batang Asam sepanjang 2.300 meter mengalami kerusakan dan jebol akibat banjir bandang. Banjir merusak jalan dan jembatan, 50 unit rumah penduduk, pasar serta 199 hektare lahan pertanian.
“Kita lakukan pembukaan alur sungai sepanjang 2.300 meter dengan realisasi masih 250 m, serta pemasangan bronjong,” terang Triyanto.
Selanjutnya, penanganan darurat Batang Balok juga di Agam. Akibat banjir, tanggul sungai mengalami kerusakan sepanjang 1.000 meter. Batang Katiak juga jebol tanggulnya sepanjang 400 meter, begitu pula tanggul Batang Tumayo sepanjang 2.500 meter juga mengalami kerusakan serta kerusakan tanggul Batang Muaro Pisang sepanjang 1.000 meter. Semua sungai berada di Kabupaten Agam.
“Pekerjaan darurat yang kita lakukan terhadap sungai tersebut adalah sama, yaitu pembukaan alur sungai/normalisasi serta pemasangan bronjong,” jelas Triyanto.
Sebanyak 150 pekerja dan personel Adhi Karya diterjunkan ke lokasi didukung dengan ketersediaan 22 unit alat berat excavator dan crane. Saat ini para pekerja tengah memasang batu bronjong di sepanjang sisi sungai. Material batu yang digunakan diutamakan memanfaatkan potensi lokal yaitu batu yang dibawa saat banjir dan longsor. Karena kebutuhan yang cukup tinggi maka Adhi Karya memasok kebutuhan material dari daerah lain.
“Tetapi tidak semua sungai kita pasang batu bronjong, tergantung kondisi di lapangan. Dari 21 unit sungai itu, sekitar 60 persen kita pasang batu bronjong, terutama di Tanah Datar,” jelas Triyanto.
Sejauh ini tak ada kendala yang ditemukan. Hanya saja kondisi cuaca yang berubah menyebabkan pekerjaan sedikit terhambat. Alur sungai yang telah terbentuk ambruk lagi ketika diguyur hujan. (devi)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






