Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Ragam

Saat Petang di Galeri Batik Canting Buana

×

Saat Petang di Galeri Batik Canting Buana

Sebarkan artikel ini

Padang, Khazminang.id – Galeri batik Canting Buana Creative yang berada di Bukit Surungan, Padang Panjang ini, sepertinya tidak pernah sepi, selalu ramai pengunjung. Ada yang berkunjung untuk membeli beragam produk batik , ada pula yang datang untuk belajar membuat batik, atau ada yang datang sekedar melihat dan mengagumi karya batik warisan budaya bangsa. Yang paling sering berkunjung adalah kelompok pelajar, mulai dari murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD, SMP hingga pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

“Galeri ini hadir memang untuk tempat belajar. Berawal dari banyaknya permintaan untuk masyarakat yang ingin belajar dan mengenal tentang batik tulis, maka saya mendirikan Canting Buana Creative ini,” ujar Widdiyanti, owner Canting Buana Creative

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Tetapi berbeda  dari biasanya, Jumat (30/01/2026) petang, Widdiyanti menerima kunjungan sahabatnya seniman Yeyen Kiram dan rekannya, seorang penikmat budaya Finorita Fauzi dan Elsa. Finorita Fauzi yang akrab disapa Pipin adalah orang awak yang tinggal di Jakarta. Di sangat menyukai seni budaya Minangkabau, tak terkecuali seni batik dengan motif-motif khas Minang. Setiap kali pulang kampung, Pipin selalu menyempatkan diri menikmati dan mengagumi budaya Minangkabau.

Sambutan Widdiyanti yang biasa disapa Wid, sungguh luar biasa. Menu yang disajikan mengembalikan ingatan ke masa dulu ketika masih sekolah. Ada kerupuk ubi yang selebar piring lengkap dengan kuah sate. Ada pula mie goreng sebagai toping kerupuk ubi dan kuah sate. Ada lamang dan temannya durian. Tak ketinggalan properti makan, seperti gelas dan ceret dari kanso kuriak. Hahahaha…

Baca Juga:  Suku Bunga Deposito Pengaruhi Keputusan Nasabah Berinvestasi

Suasana semakin ramai karena saat bersamaan sudah ada beberapa warga yang tengah belajar membuat batik. Mereka datang dari Kelurahan Tarok Dipo, Kota Bukittinggi dan tergabung dalam kelompok kerajinan Canting Ketapo, singkatan dari Kelurahan Tarok Dipo yang beranggotakan 10 orang. Mereka baru saja usai mengikuti pelatihan membatik sebagai utusan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bukittinggi.

Suatu kebahagiaan pula bagi mereka, ketika mereka langsung mendapat pesanan. Dengan penuh semangat mereka kembali ke galeri batik Canting Buana Creative untuk memenuhi pesanan pelanggan. Agaknya ilmu yang mereka peroleh selama pelatihan benar-benar nyangkut dan mangkuih. Keterampilan membatik mereka juga cukup mumpuni dan diakui. Masih angek-angek tentunya.

“Kami ini baru selesai pelatihan. Alhamdulillah, langsung ada yang minta dibikinkan bahan untuk baju batik. Jadi kami kembali ke sini untuk membuat batik,” terang Ju bersama seorang temannya, Yen.

Widdiyanti tak pelit berbagi ilmu. Dia bahkan sangat ingin semua orang mengenal dan menyukai batik tulis dan batik cap. Tak mengherankan jika alumni SMSR Padang ini sudah melahirkan banyak wirausaha batik (pembatik), di antaranya Ju dan Yen. Dengan senang hati Wid selalu membantu murid-muridnya yang ingin maju dan berkembang seperti Ju dan Yen.

Widdiyanti memperagakan cara memberi warna pada kain.

Canting Buana Sarana Belajar Batik

Widdiyanti sangat piawai membatik. Betapa tidak. Dia merupakan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta tahun 2004. Setahun kemudian pada 2005, ibu 3 orang anak ini diterima sebagai dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Dia mengajar mata kuliah batik, baik untuk mahasiswa reguler maupun darmasiswa (mahasiswa asing). Menekuni profesi sebagai dosen mata kuliah batik, tak membuatnya berpuas diri. Rasanya tak cukup hanya berbagi ilmu sebagai dosen di dalam kelas. Apalagi ketika banyak pula permintaan masyarakat agar dia berkenan berbagi ilmu batik.

Baca Juga:  Lagi, Sumbar Kehilangan Tokoh Nasional dengan Berpulangnya Mantan Anggota DPD RI dan Pengusaha H. Zairin Kasim

“Dari sana muncul keinginan untuk mendirikan galeri batik sebagai wadah belajar dan mengenal batik bagi masyarakat yang tertarik pada batik,” katanya.

Hal itu diwujudkannya pada 2013 dengan mendirikan Canting Buana sebagai usaha sampingan. Awalnya, lokasi galerinya sangat sempit, hanya memanfaatkan teras rumahnya untuk belajar membatik. Di depan rumahnya, terdapat tanah milik Nagari Bukik Surungan yang tak dimanfaatkan. Lalu alumni ISI Jogjakarta ini meminta izin kepada Ketua KAN Bukik Surungan untuk menggunakan lahan tersebut. Gayung bersambut, akhirnya KAN Bukik Surungan memberi izin untuk menggunakan tanah nagari tersebut selama 20 tahun.

“Alhamdulillah, akhirnya tanah nagari ini dapat saya manfaatkan secara gratis selama 20 tahun untuk lokasi pelatihan membatik,” kata Alumni SMSR Padang ini dengan sumringah.

Ada 2 jenis batik yang diproduksinya, yaitu batik tulis dan batik cap. Untuk batik tulis, motif yang dibuat sangat beragam, semuanya dengan nuansa Minangkabau, seperti motif jam gadang, rumah gadang, pergedel jagung, rangkiang, padati, rumput, bunga dan lainnya. Soal motif batik ini, menurutnya sangat fleksibel, sesuai keinginan dan ketertarikan. Setelah itu, motif yang dbuat dapat diberi nama sendiri.

Baca Juga:  Ketua DPRD Sumbar: Diperlukan Pengelolaan Homestay yang Profesional Dukung Pertumbuhan Pariwisata Berbasis Masyarakat

“Motif batik itu sangat leluasa untuk membuatnya, seperti motif pergedel jagung. Setelah kita buat bisa langsung kita beri nama,” katanya.

Seiring waktu, galerinya makin populer dan menjadi pilihan para guru sebagai wahana belajar muridnya. Karena itu setiap akhir pekan, Canting Buana selalu ramai oleh para belia yang memilih menghabiskan waktunya dengan belajar membatik. Para pelajar itu selalu antusias saat owner Canting Buana Creative, Widdiyanti menawarkan kepada mereka untuk belajar membatik. Lalu beberapa property yang dibutuhkan dikeluarkan, seperti canting, malam dan kain yang hendak dilukis dengan karya seni batik.

“Senang rasanya melihat para murid itu tertarik pada batik dan ingin mencoba membuat batik. Hal seperti ini yang saya inginkan,” terang Wid.

Pilihan bijak tentunya ketika pihak sekolah mengenalkan pada muridnya kekayaan budaya bangsa berupa kerajinan batik dan sekaligus belajar membuatnya. Pada dasarnya para tunas bangsa itu belum akan mengerti sepenuhnya tentang batik maupun sejarahnya, tetapi kesan yang diperoleh ketika mereka berada di rumah batik dengan segala aktivitasnya itu, tentu sangat membekas di hatinya dan terbawa hingga dewasa kelak.

Canting Buana tak hanya memproduksi batik untuk dijadikan pakaian, tetapi juga melayani permintaan souvenir. Pelanggannya sudah mendunia. Pemerintah daerah kabupaten/kota di Sumbar juga menjadi pelanggan setianya. Pipin juga membeli beberapa batik baik untuk digunakan sendiri maupun sebagai oleh-oleh untuk relasinya di Jakarta. (devi)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.