×

Iklan

OLEH : UDA FAHLEVI
Yusuf Labiah Berkelabihan Benar

25 November 2021 | 21:52:15 WIB Last Updated 2021-11-25T21:52:15+00:00
    Share
iklan
Yusuf Labiah Berkelabihan Benar
Febriansyah Fahlevi

Tahun berbilang musim berganti, nan pemilihan kepala kampung (pilkaka) ketiba pula. Sesuai jadwal nan dionggok-onggok dek Komisi Pesta Alek Kampung (KPAK), kurang dari sebulan lagi seluruh masyarakat nan memiliki hak pilih, akan memilih kepala kampung di 13 kampung, nan dianggap takah memimpin kampung sorang-sorang untuk 5 tahun ke tiba.

Momen itu dimanfaatkan pula dek Yusuf mendukung calon kepala kampung, untuk kampungnya nan bernama Kampung Karoyoak-an.

Si Yusuf ni, penampilannya sedikit diparlente-parlentekan. Karena, kerjanya juga sedikit parlente, yaitu tukang kodak. Sungutnya merantiang, bulu nan tumbuh di tangannya begitu lebat, persis bak canda bulu Siamang, giginya bak jagung bersusun, pakaiannya necis dan bau badan pun harum—walau sebananya ia hanya pakai parfum ketengan.

Ruap atau hotanya tak tangung tingginya. Kok mehota, dia tak pernah merendah. Pokoknya, dia saja nan paling santing. Salah satu kebiasaan Yusuf acap benar menggunakan istilah nan tinggi. Tiap hal nan dianggapnya penting, diusahakannya memakai istilah, tak bisa istilah Inggris, ya....ia pakai istilah Perancis. Kadang-kadang dipakainya pula istilah Belanda, sesekali India, Latin dan Arab. Semati-mati angin digunakannya bahasa kampungnya.

Ada nan lemah dari si Yusuf ini—walau alun sampai ke “anunya” yang lemah—tapi perasaannya sangatlah lemah. Ia boleh dibilang orang nan tak berperasaan, sebab tak peka jo lingkungan, ia juga tidak peka dengan gelagat dan sindiran.

Walau perut orang sudah meloyo mendengar hotanya, nan dia tak pernah merasakannya. Dianggapnya kesada orang percaya dengan gadele nan disampaikannya. Dek karena tiap me-ota  selalu berlabiah, maka lekatlah namanya menjadi  Yusuf Labiah.

Di lapau Tan Angguak, sebenarnya tak banyak nan mengacuhkan si Yusuf Labiah ni.  Kok ada nan mengacuhkannya, paling-paling Zul Kaliang dan Sam Boya nan namuh mendengarkan otanya. Itu pun dek karena kedua orang lelaki pengangguran itu kanai hati ke adik Yusuf Labiah, nan terbilang rancak serupa pinang sirah ikur. Jauh di lubuk hati Zul Kaliang dan Sam Boya, sebananya perutnya juga sudah meloyo pula mendanga ota Yusuf Labiah ini.

Kepatang-kepatang ini lagak Yusuf Labiah makin berlabihan saja, terutama semenjak ia menjadi ring satu Tim Sukses salah surang calon Kepala Kampung di Kampung Keroyok-an.

Semenjak menjadi Tim Sukses tu, kalau berjalan dadanya kini lah membusung pula. Kalau bicara, kepalanya sudah mulai meningadiak. Hidungnya nan gadang tu sering pula kembang kempis.

Otanya pun semakin berlapir-lapir, tinggi pula ruap dari pada botol. Kepada orang sekampung, ia selalu mengecatkan calonnyalah nan paling santing. Bahkan, dek terlalu berlabiah benar si Yusuf ini, hampir serupa dengan daftar perintah agama dan moral suatu agama—yaitu 10 perintah Tuhan—begitu pula Yusuf Labiah mengecatkan tentang sosok calonnya ini.

Dek terlalu me-anjung-anjungkan calonnya, Yusuf Labiah tak segan-segan pula memburukkan kawan seprofesinya. Bahkan ia tak segan pula memudurkan lampu calon kepala kampung nan lain. Pokoknya, di mata Yusuf Labiah, nan paling santing tu adalah calonnya, nan calon lain andir-andir.

Dek Yusuf Labiah, calonnya saja nan sarat prestasi, walau terkadang nan dikecekkannya tu hanyalah sekedar prestasi mengorganisir kegiatan-kegiatan berskala kampung.

Walau calon lain juga ada prestasi sengenek-sengenek, tapi itu tak pernah dianggapnya. Nan peting, dek Yusuf Labiah, calonnya lah nan paling balabiah.

Kok ka dikaji-kaji benar, dek calon kepala kampung nan dianjung-anjungkan si Yusuf Labiah ini, sebananya dia tak ingin pula terlampau berlebihan me-anjungkannya. Sebab, dia tahu benar nan biasa-biasa saja nan paling bagus dalam menjalankan hidup di atas dunia ini, apalagi keuntuk menarik simpati masa.

Singkat cerita, dek ulah Yusuf Labiah ini, rupanya menjadi petaka buruk dek calon nan dianjung-anjungkannya. Sebab, pada helat Pilkaka, ternyata calon nan dianjungkannya ini kalah pamor dan kalah suara dek calon lain. Salah satu penyebabnya, dek ulah Yusuf Labiah nan terlalu berlabihan benar dalam menjojokan ‘galehnya’.

Belajar dari cerita Yusuf Labiah ini, dapat diambil kesimpulan ; bahwa sikap yang terlalu berlabihan yang dipertontonkan oleh tim sukses, bisa menjadi awal petaka bagi calon pemimpin yang akan maju ke ‘medan pertempuran’. Untuk itu, bagi calon pemimpin, berhati-hatilah dalam memilih tim sukses. Sebab, jangan-jangan tim sukses Anda, justru hanya sukses mempercepat proses kekalahan Anda.