×

Iklan


Wabah TBC Terabaikan karena Covid, 1,5 Juta Meninggal pada 2020

15 Oktober 2021 | 11:47:04 WIB Last Updated 2021-10-15T11:47:04+00:00
    Share
iklan
Wabah TBC Terabaikan karena Covid, 1,5 Juta Meninggal pada 2020

Padang, Khazminang.id – Ulah Covid-19 banyak penanganan penyakit menular yang terabaikan sehingga meningkatkan angka penderitanya. Salah satunya adalah TBC. Akibat pandemi Covid-19 di seluruh dunia maka angka penderita turberkulosis membubung, dan angka kematian karenanya juga meningkat khususnya pada 10 tahun terakhir ini.

Mengutip pernyataan Direktur Jenderal WHO di situs resmi organisasi kesehatan dunia itu, disebutkan bahwa  untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, kematian akibat TB telah meningkat.

Laporan Global TB tahun 2021 dari WHO menyebutkan bahwa  tahun 2020, lebih banyak orang meninggal karena TB, dengan jauh lebih sedikit orang yang didiagnosis dan diobati atau diberikan pengobatan pencegahan TB dibandingkan dengan tahun 2019, dan pengeluaran keseluruhan untuk layanan TB esensial turun.

    Apa masalahnya? Selidik punya selidik ternyata lantaran sebagian sumber daya dan sumber dana dikerahkan untuk penanganan pandemi Covid-19. Semua negara melakukan itu, sehingga penanganan TBC agak abai.

    Di pihak lain, masyarakat lebih suka memilih merawat diri sendiri dibanding datang ke dokter apalagi ke rumah sakit yang dicurigai banyak menebar virus Corona. Halangan lain adalah karena beberapa negara melakukan penguncian ketat (lockdowan) atas pergerakan warganya.

    “Laporan ini menegaskan ketakutan kami bahwa gangguan layanan kesehatan penting karena pandemi dapat mulai mengungkap kemajuan bertahun-tahun melawan tuberkulosis,” kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

    Menurutnya kondisi ini sangat mengkhawatirkan, karenanya mesti  menjadi peringatan global akan kebutuhan mendesak akan investasi dan inovasi untuk menutup kesenjangan dalam diagnosis, pengobatan, dan perawatan bagi jutaan orang yang terkena penyakit kuno tetapi dapat dicegah dan diobati ini.

    Layanan terhadap penderita TB di seluruh negara menjadi terganggu langtaran semua pihak berkonsentrasi pada penanganan dampak COVID-19. Dan dampaknya pada penderita TB sangat buruk, misalnya, sekitar 1,5 juta orang meninggal karena TB pada tahun 2020 (termasuk 214.000 di antara orang HIV-positif).

    Peningkatan jumlah kematian akibat TB terutama terjadi di 30 negara dengan beban TB tertinggi[1]. Proyeksi pemodelan WHO menunjukkan jumlah orang yang mengembangkan TB dan meninggal akibat penyakit ini bisa jauh lebih tinggi pada tahun 2021 dan 2022.

    Tantangan dalam menyediakan dan mengakses layanan TB esensial membuat banyak orang dengan TB tidak terdiagnosis pada tahun 2020. Jumlah orang yang baru didiagnosis dengan TB dan yang dilaporkan ke pemerintah nasional turun dari 7,1 juta pada 2019 menjadi 5,8 juta pada 2020.

    WHO memperkirakan bahwa sekitar 4,1 juta orang saat ini menderita TB tetapi belum didiagnosis dengan penyakit tersebut atau belum secara resmi melaporkan kepada otoritas nasional. Angka ini naik dari 2,9 juta pada 2019.

    Negara-negara yang paling berkontribusi terhadap penurunan global dalam pemberitahuan TB antara 2019 dan 2020 adalah India (41%), Indonesia (14%), Filipina (12%) dan China (8%). Ini dan 12 negara lainnya menyumbang 93% dari total penurunan global dalam pemberitahuan. (eko/who)