×

Iklan


Tingginya Minat Berhaji dan Solusinya

20 Juni 2024 | 08:18:06 WIB Last Updated 2024-06-20T08:18:06+00:00
    Share
iklan
Tingginya Minat Berhaji dan Solusinya
Menteri Agama ketika meninjau pemukiman jamaah Indonesia

Oleh: Abdul Aziz


Diperkirakan 5-6 juta ummat Islam berkumpul di Padang Arafah untuk wuquf sebagai puncak kegiatan ibadah haji tahun ini. Puncak kegiatan ibadah haji yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah 1445 H dan bertepatan dengan tanggal 15 Juni 2024 telah dimulai sejak tanggal 14 Juni 2024 dengan mempersiapkan diri menuju Mina yang dikenal dengan hari tarwiyah.

    Sejak subuh, tanggal 14 Juni 2024, ribuan bus yang mengangkut jama’ah haji menuju Mina dan Arafah telah memadati jalan-utama di Kota Mekah. Suara talbiah yang dilantunkan oleh setiap calon haji ketika menuju bus-bus, seakan tak mempedulikan panasnya cuaca kota Mekah yang mencapai 46 derajat disiang hari. Ratusan mobil Patroli 911 hilir-mudik mengatur sesak dan padatnya jalan utama di Kota Mekah.

    Dari pengamatan penulis, ribuan bus-bus pengangkut jema’ah haji harus berhenti disepanjang jalan sekitar Padang Arafah karena terjebak macet. Jema’ah haji pun harus melaksanakan wuquf didalam bus dan bahkan banyak yang duduk disekitar kendaraan, menekur kepala, berdo’a tanpa peduli panas terik matahari. Karena hari itulah yang ditunggu oleh ummat Islam sebagai hari yang istimewa. Pada hari itu Allah SWT membanggakan hamba-Nya yang berkumpul di Padang Arafah kepada para malaikat-Nya.

    Sehabis magrib selesai wuquf, sebagian besar jama’ah calon haji lebih memilih berjalan kaki sejauh 9,5 km dari pada naik bus menuju Muzdalifah untuk mabbit dan persiapan melontar jumrah aqabah. Jama’ah haji yang menggunakan bus harus mengikhlaskan diri untuk terjebak dalam kemacetan selam 7 -8 jam untuk sampai ke Muzdalifah. Tanggal 15 Juni 2024 setelah jam 00:00, jama’ah haji pun berisiap menuju Jamarat untuk melempar jumrah aqabah. Jarak antara Muzdalifah dan Jamarat yang hanya 6 km memeperlukan waktu tempuh sampai 8 jam dengan bus.

    Akhirnya, mulai jam 03:00 dinihari tadi, jutaan jama’ah kembali berduyun-duyun untuk melontar jumrah sebagai akhir dari rangkaian ibadah haji bagi mereka yang mengambil nafar awal. Diantara kerumunan jema’ah haji sedunia terlihat juga Mentri Agama Republik Indonesia Bapak H Yaqut Cholil Qoumas bersama rombongan. Dari pakaian dan atribut yang digunakan oleh jama’ah haji seluruh dunia, terlihat bahwa jema’ah haji non reguler-lah yang mendominasi, mengingat sebagian besar jama’ah haji reguler mengambil nafar sani yang menyisakan melontar jumrah pada besok hari.

    “Dengan perjuangan yang sangat berat, baik fisik maupun mental, saya bersyukur dapat menyelesaikan ibadah haji tahun ini” demikian ungkap Pak Yudi sambil memegang erat tangan istrinya. Pak Yudi seorang pengusaha besar batik asal Semarang lebih memilih haji non reguler karena desakan bathin yang sangat kuat untuk berhaji. Dengan uraian air mata, Pak Ihsan yang berprofesi sebagai seorang Project Manger salah satu BUMN di Indonesia mengungkapkan “kerinduan saya untuk bersujud di depan ka’bah dan menyelesaikan semua rangkaian ibadah haji terobati sudah”

    Dari pengamatan lapangan penulis disaat proses lempar jumrah tanggal 11 Dzulhijjah 1445 H didominasi oleh jema’ah haji dari Indonesia dan Malaysia. Penulis berasumsi bahwa jumlah jemaah haji non reguler Indonesia lebih besar dari jema’ah haji teguler. Hal ini terjadi karena jumlah penumpukan pada antrian yang begitu besar dan tingkat mampu berhaji yang tinggi menyebabkan paket haji non reguler menjadi solusi menarik bagi masyarakat Indonesia.

    Menyadari bahwa Indonesia sebagai negara dengan ummat islam terbesar kedua setelah Pakistan perlu memikirkan kebijakan dan regulasi baru tentang pelaksanaan haji tahun berikutnya. Kesadaran beragama yang semakin membaik pada umat muslim perlu menjadi pertimbangan bagi pemerintah Indonesia dalam membuat regulasi baru tersebut. Kebanyakan masyarakat Indonesia tidak canggung untuk membayar mahal ongkos naik haji asalkan bisa berhaji dalam waktu dekat.

    Ketika pemerintah sulit untuk melahirkan regulasi baru dalam waktu dekat karena harus diputuskan pemerintah bersama DPR, kerjasama pemerintah dengan pengusaha travel menjadi terobosan untuk menyalurkan minat berhaji yang sangat tinggi. Tentunya kebijakan baru tersebut harus dibarengi dengan kerjasama yang sudah berjalan selama ini dengan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Namun, pembuatan tegulasi ini harus dijadikan task-force project agar implementasi kebijakan tersebut dapat dilaksanakan sebagai solusi pelaksanaan haji tahun depan. (Penulis: Pengamat Sosial dan Mahasiswa Doktoral Ilmu Manajemen Universitas Andalas Padang)