×

Iklan


Terpukul Pandemi, Peternak Lele Ini Kini Hidup Sejahtera dari Budidaya Belatung

22 Jul 2021 | 17:07:27 WIB Last Updated 2021-07-22T17:07:27+00:00
    Share
iklan
Terpukul Pandemi, Peternak Lele Ini Kini Hidup Sejahtera dari Budidaya Belatung
Usaha ternak milik Yosep yang tidak jauh dari Gedung DPRD Payakumbuh.

Payakumbuh, Khazminang.id-- Kerja ulet, pantang menyerah selalu berbuah manis. Hal itu dibuktikan oleh Yosep Hariadi (28), warga Kelurahan Bulakan Balai Kandi (BULBA), Kecamatan Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh. 

Dia meraih sukses dari usaha budidaya maggot atau belatung semakin diminati karena merupakan bisnis yang berkembang dan ramah lingkungan. Magot antara lain digunakan untuk pakan ternak seperti ayam.

Awalnya, dia sempat gagal menjalani usaha Ikan Lele akibat 'dipukul' Pandemi Covid-19 dan memutuskan untuk 'banting setir' jadi peternak Ulat Maggot.

    Meski terkesan sepele dan menjijikkan, tapi tak disangka hasil usahanya berupa telur dan Ulat Maggot itu telah dipasarkan hingga ke Pulau Dewata Bali. Sehingga, usaha tersebut terus berkembang pesat meski di tengah pandemi. 

    Satu hari saja, dari usaha yang baru dijalani dua tahun itu, bapak dua orang anak yang hanya tamatan SMA itu bisa menghasilkan telur Ulat Maggot 50 hingga 100 gram sehari. Sehingga ia bisa meraup untung ratusan ribu rupiah per hari nya.

    "Awalnya saya menjalani usaha ternak Lele. Namun karena dampak Pandemi Covid-19 dan harga pakan yang terus naik, terpaksa usaha tersebut harus terhenti di tengah jalan. Hingga saya mencoba ternak Ulat Maggot. Sebab usaha ini memiliki peluang yang cukup bagus, selain permainan yang tinggi, masyarakat yang menggeluti usaha ini belum banyak," sebut Yosep, baru-baru ini di usaha ternak miliknya yang tidak jauh dari Gedung DPRD Payakumbuh.

    Ia juga menambahkan, ulat Maggot hasil usahanya banyak dibeli para peternak unggas dan ikan untuk campuran makanan/pakan.

    "Hasil usaha saya berupa ulat Maggot biasanya dibeli untuk dijadikan campuran pakan/makanan bagi unggas dan ikan, sebab kandungan protein ulat ini cukup tinggi. Sementara untuk telur biasnya saya jual secara online ke berbagai daerah di Indonesia," ucapnya. 

    Telur Maggot yang berasal dari lalat warga hitam dengan sebutan Black Soldier Flying (BSF) biasanya dibeli untuk diternakkan kembali. 

    Yosep menyebut bahwa ia mendapatkan ilmu beternak ulat Maggot itu dengan cara belajar secara otodidak dari media sosial, hingga ia beranikan diri untuk membuka usaha sendiri. Namun usaha yang memiliki peluang bagus itu terkendala dengan tidak adanya alat yang bisa ia gunakan untuk memotong/cacah sampah organik sebagai bahan makanan ulat Maggot. 

    "Untuk makanan ulat Maggot biasanya saya cari di Pasar Tradisional Ibuah, yakni berupa sisa-sisa sayuran dan buah-buahan. Kebutuhan bisa mencapai 500 kilogram per hari. Untuk mencacah sampah organik itu saya lakukan secara manual. Semoga ada perhatian berupa bantuan dari Pemerintah Daerah," tutupnya. (Lili Yuniati)