<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>Tulisan &#8211; Khazminang.id</title>
	<atom:link href="https://khazminang.id/tag/detail/tulisan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://khazminang.id</link>
	<description>Berita Sumbar Terbaru dan Terkini Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 25 May 2026 15:20:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://khazminang.id/wp-content/uploads/2024/12/cropped-favicon-32x32.png</url>
	<title>Tulisan &#8211; Khazminang.id</title>
	<link>https://khazminang.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Makan Bajamba Tradisi Unik Minangkabau: Wujud Nyata Dari “Duduak Samo Randah Tagak Samo Tinggi</title>
		<link>https://khazminang.id/makan-bajamba-tradisi-unik-minangkabau-wujud-nyata-dari-duduak-samo-randah-tagak-samo-tinggi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Faisal Budiman]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 May 2026 15:14:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Unand]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=13319</guid>

					<description><![CDATA[Disusun Oleh: Nabila Zaqwa Pelangi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas lImu Budaya, Universitas Andalas   Siapa sih yang tidak mengetahui tradisi...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="s3"><strong><span class="s4"><span class="bumpedFont17">Disusun </span></span><span class="s4"><span class="bumpedFont17">Oleh: Nabila Zaqw</span></span><span class="s4"><span class="bumpedFont17">a</span></span><span class="s4"><span class="bumpedFont17"> Pelangi</span></span><span class="s4"><span class="bumpedFont17"> J</span></span><span class="s4"><span class="bumpedFont17">urusan Sastra Minangkabau, Fakultas lImu Budaya, Universitas </span></span>Andalas</strong></p>
<p class="s3"><span class="s4"> </span></p>
<p class="s6"><span class="s5"><span class="bumpedFont15">Siapa sih yang tidak mengetahui tradisi makan bajamba ini? Karena s</span></span><a name="_GoBack"></a><span class="s5"><span class="bumpedFont15">ecara bahasa, “makan” itu artinya makan, sedangkan “jamba” berarti wadah atau tempat makan. Jadi, Makan Bajamba artinya makan bersama dari satu wadah yang sama. Biasanya dilakukan saat acara penting seperti pesta nikah, sunatan, pertemuan keluarga besar, hari raya, atau upacara adat. Yang menarik, di sini tidak ada perbedaan antara orang kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa, tua dan muda. Semua duduk sejajar, makan dari hidangan yang sama, dan menikmati suasana kebersamaan yang hangat.</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s5"> </span></p>
<p class="s6"><span class="s5"><span class="bumpedFont15">Adat inilah yang dikenal dengan sebutan Makan Bajamba. Kata &#8220;Bajamba&#8221; berasal dari kata &#8220;jamba&#8221; yang berarti sama atau seimbang. Jadi, secara harfiah, makan bajamba berarti makan bersama-sama secara sama rata, sama rasa, dan sama rata. Makan bajamba adalah salah satu tradisi masyarakat Minangkabau yang biasanya terjadi dalam acara-acara adat, perkawinan, dan seremonial lainnya. Amiruddin Datuak Nan Sati mengatakan: “Tradisi ini tidak hanya sekadar menikmati makanan, tetapi juga merupakan bagian penting dari budaya dan adat Minangkabau.”</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s5"> </span></p>
<p class="s6"><span class="s5"><span class="bumpedFont15">Selain itu, makan bajamba ini juga mencerminkan pepatah “duduak samo randah, tagak samo tinggi”, karena pada momen ini kita tidak hanya makan dan menikmati hidangan saja, tetapi juga dapat merasakan nilai kebersamaan, dan kesopanan tanpa memandang status, pangkat, dan jabatan.</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s5"> </span></p>
<p class="s6"><span class="s5"><span class="bumpedFont15">Kalau dipikir-pikir, tradisi ini menyimpan banyak pesan baik yang diajarkan ke generasi penerus. Nilai yang paling utama adalah persamaan derajat. Saat kita duduk berdampingan dan mengambil makanan dari tempat yang sama, seolah-olah kita diingatkan bahwa pada dasarnya semua manusia itu sama. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Rasa sombong dan rasa ingin menonjolkan diri pun perlahan hilang, karena kita sadar kita butuh satu sama lain.</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s5"> </span></p>
<p class="s6"><span class="s5"><span class="bumpedFont15">Selain itu, ini juga ajaran tentang kebersamaan dan persaudaraan. Makan sambil duduk berdekatan, mengobrol santai, dan saling memperhatikan satu sama lain akan membuat hubungan antamanusia makin erat. Ikatan kekeluargaan dan persahabatan jadi makin kuat. Ada juga pesan tentang kesederhanaan. Hidangannya memang makanan rumahan yang lezat, tapi yang paling berharga bukanlah mahal atau mewahnya makanan, melainkan kehangatan suasana dan rasa syukur yang kita rasakan bersama-sama.</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s5"> </span></p>
<p class="s6"><span class="s5"><span class="bumpedFont15">Biasanya peserta duduk bersila atau bersimpuh di atas tikar, berbaris rapi atau duduk melingkar. Di tengahnya diletakkan makanan di atas tampah atau piring besar yang berisi nasi dan berbagai lauk. Semua orang makan pakai tangan kanan, yang sudah jadi kebiasaan dan dianggap lebih nikmat serta lebih bersih.</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s5"> </span></p>
<p class="s6"><span class="s5"><span class="bumpedFont15">Ada aturan yang sudah jadi kebiasaan turun-temurun. Kita hanya boleh mengambil makanan yang ada di depan kita, tidak boleh menjulurkan tangan jauh-jauh sampai melangkahi tangan orang lain. Kalau ingin mengambil lauk yang ada di samping atau di depan teman, biasanya kita akan memberi isyarat atau meminta tolong orang di sebelah untuk menyodorkannya. Di sinilah terlihat rasa sopan santun dan rasa menghormati orang lain.</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s5"> </span></p>
<p class="s6"><span class="s5"><span class="bumpedFont15">Kita juga harus mulai makan dan berhenti makan bersamaan. Tidak boleh ada yang mulai duluan atau berhenti duluan sebelum yang lain selesai. Selain itu, kita diwajibkan menghabiskan makanan yang sudah kita ambil, sebagai bentuk rasa terima kasih kepada Tuhan dan rasa hormat kepada orang yang sudah menyiapkannya. Setelah selesai, kita mencuci tangan secara bergantian dengan air yang disediakan bersama-sama. Semua ini dilakukan dengan sederhana dan penuh rasa kekeluargaan.</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s5"> </span></p>
<p class="s6"><span class="s5"><span class="bumpedFont15">Menu yang disajikan biasanya makanan khas Minangkabau yang sudah akrab di lidah banyak orang. Isinya umumnya nasi putih hangat, sambal pedas yang menggugah selera, gulai nangka, gulai daging, ikan bakar, rendang, atau ikan masak asam. Semua makanan itu diletakkan bersama-sama di wadah besar, tidak dibagi-bagi per orang. Semua orang bebas mengambil apa saja yang mereka suka, tapi tetap dengan cara yang sopan dan secukupnya saja.</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s5"> </span></p>
<p class="s6"><span class="s5"><span class="bumpedFont15">Yang penting di sini bukan banyaknya makanan, melainkan cara kita menikmatinya bersama-sama. Makanan yang sama rasanya akan terasa jauh lebih nikmat dan istimewa kalau dimakan dengan suasana yang hangat dan penuh kebahagiaan.</span></span><span class="s5"><span class="bumpedFont15"> Perlu diketahui juga bahwa makan bajamba ini adalah bentuk nyata dari ungkapan “</span></span><span class="s7"><span class="bumpedFont15">duduak samo randah, tagak samo tinggi.</span></span><span class="s5"><span class="bumpedFont15">”</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s5"> </span></p>
<p class="s6"><span class="s5"><span class="bumpedFont15">Singkatnya, makan bajamba bukan sekadar tradisi kuliner, tetapi juga merupakan cerminan struktur sosial masyarakat Minangkabau yang hidup rukun dan berdampingan, menghargai sesama, dan selalu mengutamakan kebersamaan. Di dalam satu wadah makanan itu, tersimpan begitu banyak makna tentang bagaimana kita seharusnya hidup berdampingan: saling menghormati, saling berbagi, dan saling menyayangi.</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s5"> </span></p>
<p class="s6"><span class="s5"><span class="bumpedFont15">Selama tradisi ini terus dilakukan dan diajarkan ke anak cucu, maka ikatan persaudaraan akan tetap kuat. Kita jadi mengerti, bahwa nikmat yang diberikan Tuhan akan terasa jauh lebih berharga dan manis kalau kita nikmati bersama-sama. Semoga tradisi yang indah ini terus terjaga, menjadi warisan budaya yang membanggakan, dan mengajarkan kita semua untuk selalu hidup damai di tengah perbedaan.</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s5"> </span></p>
<p class="s6"><span class="s5"><span class="bumpedFont15">Jika diterapkan ke dalam kehidupan saat ini, makan bajamba bukan hanya menunjukkan kesopanan dan kebersamaan, tetapi tradisi ini wajib dilestarikan walaupun zaman sudah berkembang untuk menjalin silaturahmi agar tidak terputus. Apalagi jika bercermin dengan kehidupan zaman sekarang di mana generasinya tidak begitu peduli dengan lingkungan sekitar. Untuk itulah kita perlahan juga harus memperkenalkan makan bajamba ini kepada anak-anak kita. Agar ketika mereka ikut serta, kita juga dapat leluasa memperkenalkan padanya siapa saja orang yang menghadiri dan panggilan apa yang seharusnya dilontarkan pada orang tersebut.(***)</span></span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Minangkabau: Jejak Sejarah, Tambo, dan Keunikan Adat Matrilineal</title>
		<link>https://khazminang.id/minangkabau-jejak-sejarah-tambo-dan-keunikan-adat-matrilineal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Faisal Budiman]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 May 2026 15:06:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<category><![CDATA[Unand]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=13315</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Sherlyn Syafira (Mahasiswa Prodi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) Sejarah Minangkabau Menurut Ibrahim Dt. sanggoeno Dirajo (2009)berdasarkan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>               </strong><span class="s2"><span class="bumpedFont15"><strong>Oleh</strong></span></span><strong>: </strong><span class="s2"><span class="bumpedFont15"><strong>Sherlyn Syafira</strong></span></span><strong>              </strong><em>(</em><span class="s2"><span class="bumpedFont15"><em>Mahasiswa Prodi</em></span></span><em> </em><span class="s2"><span class="bumpedFont15"><em>S</em></span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15"><em>astra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas</em></span></span><em>)</em></p>
<p class="s4"><span class="s2"> </span></p>
<p class="s4"><span class="s5"><span class="bumpedFont15"><strong>S</strong></span></span><span class="s5"><span class="bumpedFont15"><strong>ejarah </strong></span></span><span class="s5"><span class="bumpedFont15"><strong>Minangkabau</strong></span></span></p>
<p class="s6"><span class="s2"><span class="bumpedFont15">Menurut Ibrahim Dt. sanggoeno Dirajo (2009)</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">berdasarkan konteks wilayah dan etnis</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">, Minangkabau (Minang) adalah sekelompok etnis di indonesia yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau. </span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">T</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">erdapat wilayah Minangkabau yaitu daerah Sumatera Barat, Riau, Bengkulu Jambi, pantai barat Sumatera Aceh, dan juga Negeri Sembilan Malaysia.</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15"> Sedangkan menurut A.A. Navis (1984) berdasarkan kebudayaan dan sistem sosial, Minangkabau bukan sebagai identitas negara, melainkan sebagai bentuk kebudayaan. dan segala aktivitas manusia dan sistem kemasyarakatan di wilayah tersebut merupakan satu kesatuan utuh dari kebudayaan Minangkabau, kental dengan sistem kekerabatan matrilineal dan sangat melekat dengan nilai-nilai Islam. </span></span></p>
<p class="s6"><span class="s2"><span class="bumpedFont15">Nama Minangkabau ini berasal dari se</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">buah legenda yang menceritakan </span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">adu</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15"> antar kerbau. Yaitu pada zaman dahulu tentera dari luar Sumatera Barat</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">, yang dipimpin oleh Anggang </span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">datang menyerang masyarakat lokal, namun penduduk lokal ini memberikan usulan untuk mengadu kerbau. Sebelum mengadu kerbau, pihak masyarakat lokal membawa anak kerbau yang tidak di berikan susu dan mereka menajamkan tanduk anak kerbau tersebut, sedangkan </span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">tentara tersebut membawa kerbau jantan yang memilii badan besar. </span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">S</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">aat datangnya hati untuk mengadu kerbau tersebut anak kerbau dari pihak lokal mengejar kerbau pihak tentara, karena ia ingin menyusu kepada kerbau lawan, ia menganggap bahwa itu induknya. Lalu anak kerbau tersebur merobek perut kerbau lawan, hingga pihak lawan mengalami kekalahan. </span></span></p>
<p class="s6"><span class="s2"><span class="bumpedFont15">Batas-batas wilayah Minangkabau dapat dinyatakan sesuai arah mata angin. Batas-batas daerah Minangkabau itu wilayah daratannya adalah sebelah utara dibatasi oleh Rao Mapat Tunggul, sebelah timur dibatasi oleh Tanjung Simalidu, sebelah tenggara dibatasi oleh Muko-Muko, seberalah barat laut dibatasi oleh Gunung Mahalintang. Lalu dengan lautan yaitu sebelah barat dan barat daya dibatasi oleh Samudera Hindia sedangkan utara, timur, dan laut timur dibatasi oleh Selat Malaka.</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s2"><span class="bumpedFont15">Di</span></span> <span class="s2"><span class="bumpedFont15">minangkabau juga terdapat beberapa suku yaitu Koto, Piliang, Caniago, dan Bodi. kemudian suku tersebut di kelompokkan menjadi dua kelarasan yang di Sebut laras Nan Dua, yaitu</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">:</span></span></p>
<div class="s7">1. <span class="s2"><span class="bumpedFont15">Lareh Koto Piliang yang dipimpin oleh Datuak Katumangguangan.</span></span>
</div>
<div class="s7">2. <span class="s2"><span class="bumpedFont15">L</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">a</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">reh Bodi Caniago yang dipimpin oleh Datuak Perpatih Nan Sabatang.</span></span>
</div>
<p class="s6"><span class="s2"><span class="bumpedFont15">Datuk-datuk tersebut berdebat karena sistem tersebut. Datuak Katumangguangan menyentakkan kerisnya lalu menikamnya pada sebuah batu sehingga batu itu berlubang tetapi tidak tembus. Datuak Marpatih Nan Sabatang juga melakukan hal yang sama pada batu yang sama juga, sehingga batu itu tempus sampai ke sebelahnya, batu itu dinamakan </span></span><span class="s8"><span class="bumpedFont15">batu batikam</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">, </span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">terletak di Nagari Lima Kaum. dan akhirnya mereka berdamai dan menggunakan sistem tersebut oleh masing-masing nagari, keduannya di sebut </span></span><span class="s8"><span class="bumpedFont15">Lareh Nan Duo</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">.</span></span></p>
<p class="s9"><span class="s5"><span class="bumpedFont15">Tambo</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s2"><span class="bumpedFont15">Minangkabau juga mempunyai tambo. Tambo adalah warisan kebudayaan Minangkabau yang penting, yang disampaikan secara lisan oleh kaba. Tambo terbagi menjadi dua, yaitu:</span></span></p>
<div class="s7">1. <span class="s2"><span class="bumpedFont15">Tambo alam, yaitu tentang asal usul nenek moyang dan kerajaan</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">.</span></span>
</div>
<div class="s7">2. <span class="s2"><span class="bumpedFont15">Tambo adat</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">, yaitu tentang aturan pemerintah Minangkabau</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">.</span></span>
</div>
<p class="s6"><span class="s2"><span class="bumpedFont15">A</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">sal usul tambo ini yaitu dikisahkan dari tiga orang put</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">r</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">a Sultan Iskandar Zurkanain, yang pertama yaitu Maharaja Alif menjadi Raja di benua Ruhum, yang kedua bernama Maharaja Depang menjadi raja di Benua Cina, dan yang ketiga bernama Maharaja Diraja yang berlayar ke selatan. </span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">Dalam pelayaran mahkota Raja Diraja terjatuh ke laut, Cati Bilang Pandai mengeluarkan kaca dan dari pantulan itu ia membuat tiruan mahkota. </span></span></p>
<p class="s6"><span class="s2"><span class="bumpedFont15">S</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">etelah itu mereka sampai di </span></span><span class="s8"><span class="bumpedFont15">lagundi nan baselo</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15"> (lagundi yang bersila), lalu ke gunung merapi yang dibangun nagari di lereng gunung merapi tersebut, dan di beri nama Pariangan. Lalu dibangun nagari kedua, yaitu Padang Panjang. Karena ramai perpindahan penduduk ke tanah yang luas dekat lereng gunung yang dinamakan </span></span><span class="s8"><span class="bumpedFont15">luhak</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">.</span></span></p>
<p class="s9"><span class="s2"><span class="bumpedFont15">Luhak terbagi menjadi tiga, yaitu:</span></span></p>
<div class="s7">1. <span class="s2"><span class="bumpedFont15">Luhak Agam (Barat): Buminya hangat, airnya keruh, dan ikannya liar. Dan luhak ini dipimpin oleh Datuak Katumanggungan.</span></span>
</div>
<div class="s7">2. <span class="s2"><span class="bumpedFont15">Luhak Lima Puluh Kota (Utara): Buminya sejuk, airnya jernih, ikannya jinak. Dan dipimpin oleh Datuak Marpatih Nan Sabatang.</span></span>
</div>
<div class="s7">3. <span class="s2"><span class="bumpedFont15">Luhak Tanah Datar (Timur): Buminya nyaman, airnya tawar, dan ikannya banyak. luhak ini dipimpin oleh Datuak Maharaja Nan Banego-nego</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">.</span></span>
</div>
<p class="s9"><span class="s5"><span class="bumpedFont15">Sistem Kekerabatan</span></span></p>
<p class="s10"><span class="s2"><span class="bumpedFont15">Dalam Minangkabau, sistem kekerabatannya yaitu matrilineal. Matrilineal adalah salah satu aspek utama dalam mendefinisikan identitas masyarakat Minangakabau.</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">Beberapa ciri-ciri sistem matrilineal masyarakat minangkabau menurut Muhammadd Rajab (1969):</span></span></p>
<div class="s7">1. <span class="s2"><span class="bumpedFont15">Garis keturunan ditarik dari garis ibu.</span></span>
</div>
<div class="s7">2. <span class="s2"><span class="bumpedFont15">Suku diambil dari keturunan ibu.</span></span>
</div>
<div class="s7">3. <span class="s2"><span class="bumpedFont15">Bersifat Matrilokal, maksudnya yaitu laki-laki yang tinggal di rumah istrinya akan mengikuti peraturan yang ada di rumah istrinya tersebut.</span></span>
</div>
<div class="s7">4. <span class="s2"><span class="bumpedFont15">Balas dendam adalah kewajiban suku.</span></span>
</div>
<div class="s7">5. <span class="s2"><span class="bumpedFont15">Secara tiontis, yang berkuasa adalah ibu. Tetapi, jarang dilaksanakan</span></span><span class="s2"><span class="bumpedFont15">.</span></span>
</div>
<div class="s7">6. <span class="s2"><span class="bumpedFont15">Yang berkuasa dalam kaum adalah mamak.</span></span>
</div>
<div class="s7">7. <span class="s2"><span class="bumpedFont15">Dalam perkawinan bersifat eksogami, Maksudnya adalah menikah dengan orang yang berbeda suku. </span></span>
</div>
<div class="s7">8. <span class="s2"><span class="bumpedFont15">Harta warisan diturunkan kepada kemenakan baik laki-laki maupun perempuan.</span></span>
</div>
<p class="s6"><span class="s2"><span class="bumpedFont15">Harta terbagi mejadi dua, yaitu harta pusako tinggi adalah harta pusako menurut adat, sedangkan harta pusako rendah adalah harta pusako menurut agama. oleh karena itu, perempuan di Minangkabau penting untuk menuju kemuliannya, karena kemulian seorang perempuan sangatlah utama. dan segala persoalan dengan kaum perempuan menjadi lebih penting, dan mejadi tanggung jawab bersama kaumnya. </span></span></p>
<p class="s6"><span class="s2"><span class="bumpedFont15">Jadi,</span></span> <span class="s2"><span class="bumpedFont15">Sejarah Minangkabau menunjukkan bahwa Minangkabau bukan hanya sebuah wilayah, tetapi juga sebuah identitas budaya yang memiliki adat, bahasa, dan sistem sosial yang khas. Masyarakat Minangkabau tersebar di berbagai daerah seperti Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Aceh, hingga Negeri Sembilan Malaysia. Kebudayaan Minangkabau sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai adat dan Islam, serta dikenal dengan sistem kekerabatan matrilineal yang menarik garis keturunan dari pihak ibu.</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s2"><span class="bumpedFont15">Nama Minangkabau berasal dari legenda kemenangan masyarakat lokal melalui adu kerbau, yang kemudian menjadi simbol kecerdikan dan strategi masyarakat Minang. Dalam perkembangannya, masyarakat Minangkabau memiliki pembagian wilayah, suku, dan sistem pemerintahan adat yang dikenal dengan Lareh Nan Duo, yaitu Koto Piliang dan Bodi Caniago.</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s2"><span class="bumpedFont15">Selain itu, masyarakat Minangkabau memiliki tambo sebagai warisan sejarah dan budaya yang diwariskan secara lisan. Tambo menceritakan asal-usul nenek moyang, kerajaan, serta aturan adat Minangkabau. Kehidupan masyarakat Minangkabau juga terbentuk melalui pembagian wilayah luhak yang menjadi pusat perkembangan adat dan masyarakat.</span></span></p>
<p class="s6"><span class="s2"><span class="bumpedFont15">Sistem matrilineal menjadi ciri utama masyarakat Minangkabau, di mana perempuan memiliki kedudukan penting dalam pewarisan harta dan garis keturunan. Walaupun laki-laki atau mamak berperan dalam memimpin kaum, perempuan tetap menjadi pusat kehormatan dan kemuliaan dalam keluarga. Oleh karena itu, adat Minangkabau mencerminkan kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan, tanggung jawab kaum, adat istiadat, dan nilai-nilai kekeluargaan. (***)</span></span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jalan Rusak, Janji Mulus: Catatan Duka dari Aek Nabara</title>
		<link>https://khazminang.id/jalan-rusak-janji-mulus-catatan-duka-dari-aek-nabara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Faisal Budiman]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 May 2026 12:12:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[jalan]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[rusak]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=12838</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Sulaiman Siregar &#160; Di negeri yang gemar berbicara tentang kemajuan, masih ada seorang ibu hamil yang harus ditandu sejauh...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Sulaiman Siregar</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di negeri yang gemar berbicara tentang kemajuan, masih ada seorang ibu hamil yang harus ditandu sejauh 30 kilometer demi mendapatkan pertolongan medis.</p>
<p>Namanya Tuti Daulay. Ia bukan tokoh besar, bukan pejabat, bukan orang yang suaranya mudah sampai ke pusat kekuasaan. Ia hanya seorang ibu dari Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut—sebuah tempat yang indah secara alam, tetapi menyakitkan dalam kenyataan.</p>
<p>Di sana, jalan bukan sekadar rusak. Jalan adalah ujian hidup. Dan ketika kontraksi datang, negara justru tidak ada di tempat.</p>
<p>Video siaran langsung yang diunggah Samsul Bahri Sihombing di Facebook pada 9 Mei 2026 menjadi saksi yang tak bisa dibantah.</p>
<p>Dalam video itu terlihat kaum ibu dan bapak memikul tandu sederhana dari batang kayu, berjalan menembus tanjakan curam, lumpur pekat, dan jalan berbatu.</p>
<p>Mereka bergantian mengangkat tubuh Tuti Daulay yang sedang berjuang antara hidup dan maut.</p>
<p>Samsul, yang ikut menandu sekaligus merekam, berkata dengan suara yang lebih jujur dari pidato pejabat mana pun:</p>
<p>&#8220;Beginilah jalan kami. Ini bukan bohong-bohong. Ini bukan sekadar postingan cari uang di Facebook. Ini kenyataan.&#8221; Kalimat itu pendek, tetapi menampar.</p>
<p>Perjalanan menuju Rumah Sakit Umum Sipirok memakan waktu sekitar enam jam. Mereka berangkat sore hari dan baru tiba sekitar pukul 01.00 WIB dini hari.</p>
<p>Dokter berhasil menyelamatkan Tuti. Namun bayi yang dikandungnya tidak tertolong. Yang meninggal bukan hanya seorang bayi. Yang ikut mati adalah rasa malu pemerintah.</p>
<p>Kita sering mendengar slogan: Indonesia Maju. Tetapi maju untuk siapa? Sebab di Aek Nabara, listrik PLN belum masuk. Puskesmas tidak ada. Poskesdes tidak ada. Bidan tidak ada. Jalan layak pun tidak ada. Yang ada hanyalah gotong royong warga dan kesabaran yang dipaksa menjadi kebiasaan.</p>
<p>Ironisnya, setiap musim politik datang, jalan menuju dusun-dusun seperti ini mendadak ramai oleh mobil para pencari suara. Janji ditabur seperti pupuk.</p>
<p>Namun setelah pemilu selesai, rakyat kembali berjalan sendiri bahkan untuk membawa ibu hamil menuju rumah sakit.</p>
<p>Tapanuli Selatan seolah akrab dengan satu tradisi lama: diwarisi janji, dipelihara ketertinggalan.</p>
<p>Mulai dari zaman Belanda hingga zaman konten digital, warga tetap mengangkat beban yang sama  hanya kameranya yang berbeda.</p>
<p>Pemerintah sering pandai menjelaskan kendala. Katanya kawasan hutan lindung. Katanya izin kementerian belum turun. Katanya sedang dikoordinasikan. Katanya akan dicari solusi.</p>
<p>Rakyat sudah terlalu sering mendengar kata katanya. Yang mereka butuhkan bukan penjelasan, tetapi jalan.</p>
<p>Bukan belasungkawa, tetapi kehadiran. Bukan kunjungan setelah viral, tetapi kerja sebelum tragedi.</p>
<p>Jika akses kesehatan hanya datang setelah nyawa melayang, maka itu bukan pelayanan publik itu administrasi duka.</p>
<p>Kita tidak sedang kekurangan pejabat. Kita sedang kekurangan rasa malu. Karena seharusnya, ketika seorang ibu harus ditandu sejauh 30 kilometer untuk melahirkan, itu cukup untuk membuat banyak kursi jabatan terasa panas.</p>
<p>Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di bawah Bobby Nasution dan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan di bawah Gus Irawan Pasaribu tidak boleh berhenti pada pernyataan simpati. Harus ada tindakan nyata.</p>
<p>Pertama, akses jalan menuju Dusun Aek Nabara harus menjadi prioritas darurat, bukan sekadar wacana birokrasi.</p>
<p>Jika memang terkendala kawasan hutan lindung, maka negara harus hadir menembus meja-meja izin itu. Jangan biarkan rakyat kalah oleh stempel.</p>
<p>Kedua, layanan kesehatan bergerak harus diperkuat. Jika bidan tidak bisa tinggal permanen, maka sistem jemput darurat harus dibangun.</p>
<p>Ketiga, listrik dan fasilitas dasar bukanlah kemewahan. Itu adalah hak warga negara.</p>
<p>Dan terakhir, pengawasan publik harus terus hidup. Karena sering kali, pemerintah hanya bergerak ketika rakyat tidak berhenti bersuara.</p>
<p>Dusun Aek Nabara tidak meminta istana.<br />
Mereka hanya ingin jalan. Mereka tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya ingin seorang ibu bisa melahirkan tanpa harus dipikul di pundak tetangganya.</p>
<p>Negara seharusnya hadir sebelum tangis itu pecah. Bukan datang setelah video viral.<br />
Sebab jika rakyat terus harus menandu harapan mereka sendiri, maka sesungguhnya yang lumpuh bukan jalannya<br />
tetapi nurani para penguasa. (**)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
