<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" >

<channel>
	<title>khazminang &#8211; Khazminang.id</title>
	<atom:link href="https://khazminang.id/tag/detail/khazminang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://khazminang.id</link>
	<description>Berita Sumbar Terbaru dan Terkini Hari Ini</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Oct 2026 06:19:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://khazminang.id/wp-content/uploads/2024/12/cropped-favicon-32x32.png</url>
	<title>khazminang &#8211; Khazminang.id</title>
	<link>https://khazminang.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Senator Muslim M Yatim Salurkan Bantuan  di Kampung Apa Padang</title>
		<link>https://khazminang.id/senator-muslim-m-yatim-salurkan-bantuan-di-kampung-apa-padang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Yanche Edrie]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2026 06:19:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[DPD RI]]></category>
		<category><![CDATA[khazminang]]></category>
		<category><![CDATA[muslim yatim]]></category>
		<category><![CDATA[Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=18788</guid>

					<description><![CDATA[Padang, Khazanah — Senator Muslim M Yatim menyalur bantuan  di Kampung Apa Padang sebagai ujud kepedulian terhadap warga terdampak banjir...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Padang, Khazanah </strong>— Senator Muslim M Yatim menyalur bantuan  di Kampung Apa Padang sebagai ujud kepedulian terhadap warga terdampak banjir di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban keluarga yang masih berupaya memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah banjir melanda kawasan itu beberapa waktu lalu.</p>
<p>Bantuan berupa beras, telur, minyak goreng, dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya diserahkan di masjid setempat. Penyaluran bantuan itu disambut warga, terutama para ibu rumah tangga yang merasakan langsung dampak bencana terhadap kehidupan keluarga mereka.</p>
<p>Muslim M Yatim mengatakan, bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus solidaritas kepada masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan akibat bencana. Menurutnya, dalam situasi seperti ini, kehadiran dan perhatian terhadap warga sama pentingnya dengan bantuan material untuk memenuhi kebutuhan mendesak.</p>
<p>“Innalillahi, musibah banjir yang melanda Kampung Apa, Koto Tangah, Kota Padang, beberapa waktu lalu menyisakan duka bagi banyak keluarga. Hari ini, kami datang tidak hanya membawa bantuan, tetapi juga membawa pesan bahwa warga tidak sendiri,” ujarnya.</p>
<p>Ia berharap bantuan sembako yang disalurkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pokok keluarga terdampak, terutama selama masyarakat berupaya memulihkan kondisi kehidupan setelah banjir.</p>
<p>Muslim juga mengingatkan warga agar tetap tabah dan saling menguatkan dalam menghadapi musibah. Menurutnya, semangat gotong royong dan kepedulian antarsesama menjadi kekuatan penting bagi masyarakat untuk melewati masa sulit.</p>
<p>“Semoga bantuan kecil ini dapat meringankan beban masyarakat dan menjadi penguat kebersamaan kita. Dalam kondisi seperti ini, kepedulian dan semangat saling membantu sangatlah penting,” katanya.</p>
<p>Selain menyalurkan bantuan, Muslim M Yatim mengajak masyarakat untuk terus berdoa agar Sumatera Barat senantiasa mendapat perlindungan dan dijauhkan dari berbagai bencana.</p>
<p>Ia berharap kepedulian terhadap warga terdampak banjir tidak berhenti pada penyaluran bantuan sesaat, tetapi terus tumbuh melalui solidaritas dan dukungan bersama, sehingga masyarakat dapat bangkit dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.(<strong>eko)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kabut Asap Tak Surutkan Antusiasme Warga Saksikan Tradisi Pacu Kuda di Tanah Datar</title>
		<link>https://khazminang.id/kabut-asap-tak-surutkan-antusiasme-warga-saksikan-tradisi-pacu-kuda-di-tanah-datar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Yanche Edrie]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2026 06:04:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[khazminang]]></category>
		<category><![CDATA[pacu kuda]]></category>
		<category><![CDATA[Sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Datar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=18784</guid>

					<description><![CDATA[Batusangkar, Khazanah — Kabut asap yang menyelimuti wilayah Sumatera Barat ternyata tidak menyurutkan antusiasme warga untuk menyaksikan tradisi pacu kuda...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Batusangkar, Khazanah</strong> — Kabut asap yang menyelimuti wilayah Sumatera Barat ternyata tidak menyurutkan antusiasme warga untuk menyaksikan tradisi pacu kuda di Gelanggang Pacu Kuda Dang Tuanku, Bukit Gombak, Kabupaten Tanah Datar. Selama dua hari pelaksanaan, Minggu–Senin (18–19 Oktober 2026), ribuan warga tetap memadati gelanggang untuk menyaksikan persaingan kuda-kuda pacu dalam ajang <em>Pacu Kuda Open Race dan Tradisional Bupati Cup II 2026</em>.</p>
<p>Antusiasme masyarakat tersebut memperlihatkan kuatnya daya tarik pacu kuda sebagai olahraga tradisional sekaligus bagian dari identitas budaya masyarakat Tanah Datar. Meski harus menyaksikan perlombaan di tengah kondisi udara yang diselimuti jerebu, warga tetap datang untuk mendukung joki dan kuda andalan mereka serta menikmati kemeriahan salah satu tradisi yang telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.</p>
<p>Pacu Kuda Bupati Cup II 2026 tidak hanya menjadi arena adu kecepatan dan ketangkasan kuda, tetapi juga menjadi ruang pertemuan masyarakat dari berbagai daerah. Gelanggang Dang Tuanku di Bukit Gombak kembali menjadi pusat keramaian, mempertemukan penonton, pemilik kuda, joki, pedagang, dan pencinta olahraga berkuda dalam suasana penuh semangat.</p>
<p>Pembukaan kegiatan diawali dengan penyerahan gelanggang dari tiga nagari, yakni Baringin, Pagaruyung, dan Saruaso, kepada Bupati Tanah Datar, Eka Putra.</p>
<p>Dalam sambutannya, Eka Putra menyampaikan bahwa pacu kuda merupakan olahraga tradisional yang selalu dinantikan masyarakat, khususnya di Batusangkar dan sekitarnya. Pemerintah daerah berkomitmen mendukung keberlangsungan kegiatan tersebut agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.</p>
<p>“Alhamdulillah, sesuai dengan komitmen kita sejak awal tahun, insyaallah pacu kuda dapat dilaksanakan dua kali dalam setahun. Ini merupakan olahraga favorit masyarakat yang sangat dinantikan. Kita berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memperkuat pelestarian budaya dan menggerakkan perekonomian masyarakat,” ujar Eka Putra.</p>
<p>Menurutnya, keberlanjutan pacu kuda perlu didukung oleh seluruh elemen masyarakat. Selain mempertahankan tradisi, kegiatan ini juga memberikan ruang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi, terutama bagi pedagang dan pelaku usaha kecil yang memanfaatkan ramainya kunjungan ke gelanggang.</p>
<p>Eka Putra juga mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban dan kebersihan selama perlombaan berlangsung. Ia meminta seluruh pihak, termasuk pedagang dan penonton, mematuhi aturan yang telah ditetapkan agar kegiatan berjalan lancar dan aman.</p>
<p>“Kita ingin seluruh masyarakat merasa nyaman menyaksikan perlombaan. Karena itu, kebersihan harus dijaga, begitu juga ketertiban di sekitar arena. Pedagang diharapkan berjualan di tempat yang telah ditentukan dan tidak memasuki lintasan pacu karena dapat mengganggu jalannya perlombaan,” tegasnya.</p>
<p>Dukungan terhadap penyelenggaraan pacu kuda juga disampaikan Direktur Bank Nagari, Gusti Candra. Ia menilai kegiatan tersebut memiliki nilai penting dalam menjaga kelestarian tradisi sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat.</p>
<p>“Kami tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga berupaya hadir dalam berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Pacu kuda ini merupakan tradisi yang perlu kita lestarikan bersama sekaligus menjadi kesempatan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.</p>
<p>Sementara itu, Ketua Pelaksana, Bayu, menyampaikan bahwa Pacu Kuda Bupati Cup II 2026 diikuti 65 ekor kuda dari sejumlah daerah. Peserta tidak hanya berasal dari Sumatera Barat, tetapi juga dari luar provinsi, termasuk Sumatera Utara dan Pulau Jawa.</p>
<p>“Alhamdulillah, kegiatan pacu kuda kembali dapat terlaksana berkat dukungan berbagai pihak. Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah, sponsor, aparat keamanan, tenaga kesehatan, serta seluruh pihak yang telah membantu persiapan hingga pelaksanaan kegiatan ini,” kata Bayu.</p>
<p>Selama dua hari penyelenggaraan, panitia menjadwalkan 25 kali pacuan, terdiri atas 11 pacuan pada hari pertama dan 14 pacuan pada hari kedua. Seluruh perlombaan dilaksanakan dengan mengacu pada ketentuan dan standar yang ditetapkan organisasi pacuan kuda.</p>
<p>Di tengah tingginya antusiasme penonton, kondisi kabut asap tetap menjadi perhatian panitia dan pemerintah daerah. Pengunjung diimbau menggunakan masker, memperbanyak konsumsi air putih, serta memperhatikan kondisi kesehatan selama berada di gelanggang. Pembagian masker juga dilakukan sebagai upaya membantu melindungi masyarakat dari paparan kabut asap.</p>
<p>Pengaturan aktivitas di sekitar lintasan dan dukungan pengamanan dari aparat terkait turut dilakukan untuk menjaga ketertiban serta keselamatan selama perlombaan berlangsung.</p>
<p>Tetap ramainya gelanggang di tengah kondisi udara yang kurang mendukung menunjukkan bahwa pacu kuda memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Tanah Datar. Tradisi ini bukan sekadar tontonan olahraga, melainkan juga bagian dari warisan budaya yang mempererat hubungan sosial dan membangun kebersamaan antarmasyarakat.</p>
<p>Penyelenggaraan Pacu Kuda Bupati Cup II 2026 diharapkan semakin memperkuat posisi Tanah Datar sebagai salah satu daerah yang konsisten menjaga tradisi pacu kuda di Sumatera Barat. Di sisi lain, tingginya minat masyarakat perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan pengunjung agar tradisi kebanggaan Ranah Minang ini dapat terus berlangsung secara berkelanjutan.<strong>(Eko)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cabai Sumbar Makin Pedas Harganya  Tembus Rp95 Ribu/Kg di Riau</title>
		<link>https://khazminang.id/cabai-sumbar-makin-pedas-harganya-tembus-rp95-ribu-kg-di-riau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Yanche Edrie]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2026 05:54:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[harga cabai]]></category>
		<category><![CDATA[kabut asap]]></category>
		<category><![CDATA[khazminang]]></category>
		<category><![CDATA[Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=18778</guid>

					<description><![CDATA[Padang, Khazanah — Harga cabai merah di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), dan Pekanbaru, Riau, melonjak hingga Rp95.000 per kilogram...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Padang, Khazanah</strong> — Harga cabai merah di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), dan Pekanbaru, Riau, melonjak hingga Rp95.000 per kilogram akibat penurunan produksi dan terganggunya pasokan dari sejumlah sentra pertanian. Kondisi ini menambah beban pengeluaran masyarakat dan berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi.</p>
<p>Di Padang, harga cabai merah di Pasar Raya berkisar Rp85.000 hingga Rp95.000 per kilogram. Sementara itu, di Pasar Selep, harganya mencapai sekitar Rp90.000 per kilogram.</p>
<p>Kepala Dinas Perdagangan Kota Padang, Fizlan Setiawan, mengatakan kenaikan harga yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir dipicu terganggunya pasokan dari sejumlah daerah, terutama Sumatera Utara (Sumut). Bencana di wilayah pemasok tersebut dilaporkan berdampak terhadap produksi dan menyebabkan petani mengalami gagal panen.</p>
<p>“Pasokan dari Sumatera Utara yang seharusnya masuk dalam tiga bulan ini, yakni Agustus, September, dan Oktober, terputus karena adanya kejadian bencana ataupun gunung meletus di beberapa wilayah yang mengakibatkan gagal panen petani kita,” kata Fizlan, Kamis (15/10/2026).</p>
<p>Menurutnya, kenaikan harga dalam dua pekan terakhir tidak hanya terjadi pada cabai merah, tetapi juga cabai hijau dan cabai rawit. Selain pasokan dari Sumut, pasokan dari sentra produksi di Sumbar, seperti Padang Panjang dan Alang Panjang, juga mengalami penurunan.</p>
<p>Cabai yang didatangkan dari Kerinci, Jambi, saat ini dijual dengan harga Rp75.000 hingga Rp77.000 per kilogram. Tingginya harga di tingkat pemasok turut memengaruhi harga jual di pasar Kota Padang.</p>
<p>Fizlan berharap panen raya yang diperkirakan berlangsung pada akhir Oktober di Aceh dapat meningkatkan pasokan dan membantu menekan harga cabai di pasaran.</p>
<p><strong>Harga Tinggi Merembet ke Pekanbaru</strong></p>
<p>Kenaikan harga cabai merah juga dirasakan masyarakat Kota Pekanbaru, Riau. Cabai merah asal Sumbar di pasar tradisional setempat dijual dengan harga Rp90.000 hingga Rp95.000 per kilogram. Kenaikan tersebut telah berlangsung hampir tiga pekan dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.</p>
<p>Pedagang di Pasar Sukaramai Pekanbaru, Ajo, mengatakan kenaikan harga kemungkinan dipengaruhi kondisi kemarau yang menyebabkan sejumlah petani gagal panen sehingga pasokan berkurang.</p>
<p>“Harga cabai ini sudah naik hampir tiga minggu. Kemungkinan karena kemarau kemarin, sehingga banyak petani mengalami gagal panen,” kata Ajo, Senin (19/10/2026).</p>
<p>Ia menjelaskan, harga tinggi juga terjadi pada cabai dari daerah lain. Cabai yang didatangkan dari Medan dan Pulau Jawa dijual sekitar Rp80.000 hingga Rp85.000 per kilogram.</p>
<p>Kenaikan harga tersebut turut membebani rumah tangga. Dewi, salah seorang warga Pekanbaru, mengatakan harga cabai yang belum kunjung turun, ditambah kenaikan sejumlah jenis sayuran, membuat pengeluaran kebutuhan sehari-hari semakin besar.</p>
<p>Kondisi itu memaksa masyarakat mengatur belanja secara lebih cermat. Warga berharap harga cabai dan komoditas pangan lainnya segera turun agar daya beli tetap terjaga.</p>
<p><strong>Produksi Menurun, Pemprov Sumbar Siapkan Langkah Pengendalian</strong></p>
<p>Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumbar, Novrial, mengatakan kenaikan harga cabai merah menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Pemprov Sumbar bahkan telah menggelar rapat untuk membahas langkah pengendalian harga komoditas tersebut.</p>
<p>Menurut Novrial, kenaikan harga tidak hanya terjadi di Sumbar, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia. Penyebab utamanya adalah penurunan produktivitas cabai merah yang membuat pasokan ke pasar tidak stabil.</p>
<p>Produksi cabai merah lokal Sumbar saat ini belum cukup besar untuk memenuhi kebutuhan pasar. Akibatnya, sebagian besar pasokan harus didatangkan dari luar provinsi, terutama Jawa, Medan, dan Kerinci.</p>
<p>Novrial menyebut fenomena El Nino dan La Nina, serta dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), turut menjadi faktor yang memengaruhi produksi cabai merah.</p>
<p>Untuk mengendalikan harga, Pemprov Sumbar akan berkoordinasi melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pangan, Dinas Pertanian, Perum Bulog, serta Bank Indonesia. Langkah konkret diperlukan agar pasokan kembali stabil dan harga cabai dapat ditekan.</p>
<p>“Saya berharap kondisi ini tidak berlangsung lama, agar inflasi lebih terjaga. Kepada pedagang atau pengepul, saya meminta jangan sampai mengambil kesempatan di saat kesempitan ini, yang artinya sengaja menahan-nahan pasokan ke pasar,” kata Novrial.</p>
<p>Pemerintah berharap perbaikan pasokan dari sentra produksi dan koordinasi antarlembaga dapat segera menstabilkan harga. Dengan demikian, tekanan terhadap inflasi dapat dikendalikan dan beban pengeluaran masyarakat tidak semakin meningkat.</p>
<p>Catatan penyuntingan: Saya menempatkan lonjakan harga sebagai lead, disusul penyebab gangguan pasokan di Padang, dampaknya di Pekanbaru, kemudian respons pemerintah provinsi. Dengan susunan ini, berita bergerak dari dampak yang paling dirasakan masyarakat menuju penyebab dan upaya penanganan. Klaim mengenai pengaruh El Nino, La Nina, bencana, dan karhutla tetap diatribusikan kepada narasumber, bukan dinyatakan sebagai kesimpulan independen<strong>.(eko/berbagai sumber)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>WMO: Krisis Kabut Asap di Indonesia Masih akan Lama</title>
		<link>https://khazminang.id/wmo-krisis-kabut-asap-di-indonesia-masih-akan-lama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Yanche Edrie]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2026 05:38:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[kabut asap]]></category>
		<category><![CDATA[khazminang]]></category>
		<category><![CDATA[Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://khazminang.id/?p=18767</guid>

					<description><![CDATA[Singapura, Khazanah &#8212; Asia Tenggara menghadapi salah satu episode kabut asap lintas batas terburuk akibat kebakaran di Indonesia. Direktur Kantor...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Singapura, Khazanah</strong> &#8212; Asia Tenggara menghadapi salah satu episode kabut asap lintas batas terburuk akibat kebakaran di Indonesia. Direktur Kantor Regional Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) untuk Asia dan Pasifik, Ben Churchill, memperingatkan bahwa krisis ini dapat berlangsung selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, hingga perubahan arah angin dan datangnya hujan membantu memadamkan api.</p>
<p>Dikutip dari <em>The Straits Times</em>, Churchill mengatakan fenomena El Nino yang sedang berlangsung berpotensi menjadi salah satu yang terkuat yang pernah diamati. Fenomena ini membawa cuaca lebih panas dan kering ke kawasan khatulistiwa ASEAN, bertepatan dengan musim kemarau sehingga menciptakan kondisi ideal bagi kebakaran hutan dan lahan untuk terus meluas.</p>
<p>Praktik pembukaan lahan dengan cara tebang bakar turut memperburuk keadaan. Churchill memperkirakan kualitas udara tidak sehat akan terus terjadi, seiring semakin seringnya muncul hari-hari dengan tingkat polusi tinggi.</p>
<p>Singapura telah mengalami 13 hari berturut-turut dengan Indeks Standar Polutan (PSI) pada tingkat tidak sehat. Periode ini menjadi yang terpanjang sejak krisis kabut asap 2015. Kualitas udara dikategorikan tidak sehat apabila pembacaan PSI di suatu titik di Singapura melebihi angka 100 dalam sehari.</p>
<p>Pada 17 Oktober, seluruh fasilitas olahraga luar ruangan dan tanpa pendingin udara ActiveSG kembali beroperasi setelah ditutup sementara sehari sebelumnya akibat kabut asap. Namun, Pusat Olahraga Air di The Kallang menangguhkan operasional mulai pukul 11.00 hingga pemberitahuan lebih lanjut karena jarak pandang yang terbatas.</p>
<p>Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura, Grace Fu, sebelumnya memperingatkan bahwa negaranya harus bersiap menghadapi kabut asap berkepanjangan, dengan kemungkinan kualitas udara mencapai tingkat berbahaya. Perbaikan diperkirakan baru terjadi ketika angin melemah dan berubah arah dalam tiga hingga empat minggu mendatang. Menjelang akhir tahun, angin yang berembus dari utara diharapkan dapat membawa kabut asap menjauh dari Singapura.</p>
<p>Churchill mengungkapkan, sekitar separuh emisi kabut asap dunia selama tujuh hari sejak 8 Oktober berasal dari Indonesia. Angka tersebut merujuk pada data Fire Emissions Watch, layanan pemantauan kebakaran yang dijalankan melalui program Copernicus Uni Eropa dengan memanfaatkan satelit dan sumber data lainnya.</p>
<p>Untuk mengatasi krisis ini, Churchill mendorong negara-negara ASEAN memperkuat kerja sama dalam sistem peringatan dini, prakiraan cuaca, dan penanggulangan kebakaran. Ia mengusulkan penggabungan sumber daya pemadam kebakaran antarnegara, termasuk investasi peralatan bersama, pertukaran keahlian teknis, serta mekanisme pengerahan tim pemadam kebakaran lintas batas secara cepat.</p>
<p>Ia mencontohkan kerja sama Australia dengan Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Kanada dalam penanggulangan bencana. Melalui pengaturan timbal balik, personel dan peralatan dapat segera dikerahkan dan diintegrasikan untuk mempercepat pemadaman kebakaran.</p>
<p>Grace Fu mengatakan dirinya telah berkomunikasi dengan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, Jumhur Hidayat, untuk menawarkan bantuan sipil bagi pemadaman kebakaran dan pelaksanaan penyemaian awan.</p>
<p>Menurut Churchill, kedatangan hujan monsun pada akhir tahun menjadi harapan penting untuk memadamkan api. Fase basah monsun timur laut biasanya membawa curah hujan lebih tinggi ke Asia Tenggara sekitar Desember. Namun, waktu peralihan musim masih belum pasti karena El Nino kuat dapat mengganggu pola perubahan musim. Transisi diperkirakan berlangsung pada akhir Oktober atau November, dan prakiraan terbaru akan dibahas dalam Forum Prakiraan Iklim ASEAN pada akhir Oktober.</p>
<p>WMO sendiri telah memperingatkan pada Juni bahwa El Nino kuat berpotensi terjadi pada 2026. Churchill menekankan pentingnya menyampaikan informasi dini kepada seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pembuat kebijakan dan sektor pertanian hingga komunitas dan individu, agar langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum bencana memburuk.</p>
<p>Ia juga mengingatkan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia meningkatkan suhu global dan berpotensi membuat fenomena El Nino serta kabut asap lintas batas yang parah semakin sering dan intens.</p>
<p>Karena itu, Churchill menilai negara-negara ASEAN perlu memperbaiki praktik pengelolaan lahan, memperketat peraturan, serta memberikan edukasi kepada petani dan perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran.</p>
<p>Menurutnya, tindakan kolektif dan pencegahan sejak dini merupakan kunci untuk melindungi keselamatan, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat di kawasan Asia Tenggara. <strong>(eko/stimes)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
