×

Iklan


Sumbar Kembali Ekspor Lobster, Tahap Awal ke China

08 Juli 2020 | 19:15:46 WIB Last Updated 2020-07-08T19:15:46+00:00
    Share
iklan
Sumbar Kembali Ekspor Lobster, Tahap Awal ke China
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, Yosmeri.

Padang, Khazminang--  Setelah sempat terhenti karena Pandemi Covid-19, akhirnya lobster dari Sumatera Barat (Sumbar) kembali diekspor ke Cina. Hal ini tentu saja menjadi kabar gembira bagi para pembudidaya lobster karena ekpor lobster merupakan salah satu komoditi yang mengguntungkan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, Yosmeri mengatakan, dampak dari Covid-19 ini ada sejumlah komoditi di Sumbar yang sempat dihentikan seperti lobster, ikan tuna, dan sejumlah komoditi lainnya.

"Daerah yang akan menampung juga tidak menerima karena juga terkena wabah, bahkan ada yang lockdown makanya sejak beberapa bulan belakangan sempat dihentikan," katanya, Rabu (8/7).

    Namun beberapa Minggu belakangan ekspor sudah mulai berjalan kembali. Ekspor yang sudah mulai seperti ekspor Lobster ke Cina, sedangkan Kerapu dan Tuna belum bisa dilakukan.

    Walaupun demikian, Yosmeri memprediksi dalam beberapa bulan ke depan, Tuna dan Kerapu sudah bisa diekspor. Hal itu karena beberapa negara tujuan ekspor sudah mulai membaik dari Covid-19.

    Yosmeri menjelaskan, negara tujuan ekspor Lobster ke Cina, sedangkan Kerapu ke Hongkong dan Cina, sementara Tuna dikirim ke Amerika. 

    Mentawai menjadi daerah penghasil Lobster, Pesisir Selatan menyediakan Kerapu dan tuna pada umumnya banyak di laut Sumbar.

    "Lobster sudah mulai masuk ke pasar-pasar Cina. Kerapu dan Tuna belum," ungkapnya.

    Yosmeri memperkirakan, ekspor Lobster Sumbar baru berjalan sekitar 30 hingga 60 persen. Hal ini disebabkan tingkat konsumsi masyarakat di negara tujuan ekspor menurun.

    "Biasanya ekspor Lobster ke Cina itu mencapai 5 ton sebulan. Kerapu sekarang ada stok 20 ton kemungkinan Agustus ini bisa diekspor. Tuna masih disimpan di pendingin, saya belum cek angkanya," sebutnya.

    Yosmeri menyampaikan, dari terganggunya ekspor, beberapa perusahaan hanya memberlakukan kerja saat ada ikan dan dibutuhkan proses packing.

    "Dampaknya itu, karyawan perusahaan seperti PT. Dempo yang mengolah Tuna di Bungus harus memperkejakan karyawan saat ada ikan saja. Ada ikan baru karyawan dipanggil bekerja, terpaksa seperti itu," katanya.

    Yosmeri berharap ke depan pasar-pasar ekspor kembali buka dan komiditi Sumbar bisa masuk. Sehingga perekonomian kembali menggeliat. 

    Sebelumnya, ekspor tuna dan lobster asal Padang dan Sumbar terhenti sejak terjadi pandemi Covid-19 karena negara tujuan menghentikan permintaan untuk sementara waktu.

    "Pandemi Covid-19 menyebabkan ekspor ikan asal Padang mandek, akibatnya harga ikan tuna anjlok menjadi hanya Rp27 ribu per kilogram dibandingkan harga ekspor yang menembus Rp54 ribu per kilogram," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Padang Guswardi di Padang, Jumat.

    Menurut dia saat ini nelayan yang biasanya menangkap tuna untuk kebutuhan ekspor lebih memilih menyediakan pasokan lokal kendati harganya turun.

    "Ekspor mulai terhenti awal tahun, negara tujuan biasanya Jepang, China dan Amerika Serikat," ujarnya.

    Tidak hanya komoditas tuna, untuk lobster juga terhenti pengirimannya ke luar negeri.

    Ia menyebutkan ada sekitar lima kelompok besar nelayan yang bergerak di bidang ekspor tuna termasuk PT Dempo.

    Biasanya pengiriman dari Bandara Internasional Minangkabau setelah ikan dibekukan ke Jakarta untuk dikirim ke negara tujuan, ujarnya.

    Sementara itu untuk budidaya perikanan air tawar di Padang cukup baik kendati permintaan juga turun karena pembeli sepi.

    "Ikan tetap ada tapi pembeli berkurang, terutama nila dan lele," kata dia.

    Guswardi menyebutkan terdapat 1.200 orang yang membudidayakan ikan air tawar dengan kolam air deras dan tanah.

    "Produksi cukup untuk memenuhi kebutuhan Padang ditambah dengan hasil tangkapan nelayan dari laut," kata dia.

    Sementara itu berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat ekspor daging dan ikan olahan mengalami penurunan 0,95 persen pada Januari-Maret 2020 dibandingkan periode yang sama pada 2019. (Rina Akmal)