×

Iklan


Setiap Masa ada Tokohnya, Setiap Tokoh ada Masanya

16 November 2022 | 14:23:10 WIB Last Updated 2022-11-16T14:23:10+00:00
    Share
iklan
Setiap Masa ada  Tokohnya, Setiap Tokoh ada Masanya
Pitan Daslani

Oleh : Pitan Daslani



Setiap pemimpin ada masanya dan setiap masa ada pemimpinnya. Itu hukum alam yang tak bisa dilanggar. Ketika seorang pemimpin tak menyadari masanya, maka meskipun masanya sudah berakhir, ia akan tetap merasa masih menduduki jabatannya. Maka penyakit jiwa yang akan dideritanya adalah ‘post-power syndrome’. Seperti itu kondisinya bila dilihat dari spektrum jabatan pemimpin. 

Akan tetapi bila dilihat dari perspektif penilaian dan rekognisi publik terhadap ketokohan, kapabilitas, dan gaya kepemimpinan atau ‘leadership style’ maka masa jabatan menjadi tak relevan dengan ketokohan pemimpin tersebut. Karena ketokohan bersifat ‘intrinsic’ atau melekat secara alamiah. 

Banyak pemimpin kelas dunia tetap diakui sebagai tokoh meskipun sudah tak lagi menjabat. Sebaliknya, banyak pula pemimpin yang pengakuan terhadap ketokohannya hanya berlaku selama masa jabatannya. Ketika berakhir masa jabatannya, luntur sudah pengakuan publik terhadap ketokohannya. 

Hal-hal seperti itu turut mempengaruhi sikap masyarakat terhadap sosok pemimpin. Karena sikap masyarakat ditentukan oleh ketokohan, prestasi, dan keteladanan pemimpin. 

Di banyak negara, jabatan pemimpin tetap melekat pada dirinya meskipun ia tak lagi menjabat. Barack Obama tetap disapa sebagai President Obama; Bill Clinton tetap disapa sebagai President Clinton. Dan walaupun sudah tiada, Ronald Reagan tetap disebut sebagai President Reagan. 

Presiden Bill Clinton diguncang skandal seks dengan Monica Lewensky dan diberitakan di seluruh dunia. Tapi dia tetap saja diakui rakyatnya sebagai Presiden Amerika Serikat sampai sekarang, meskipun masa jabatannya sudah lama berakhir. 

Itu membuktikan bahwa dalam masyarakat yang tinggi tingkat berpikirnya, ketokohan tak bisa dihapus oleh skandal sekalipun. Karena skandal hanya bisa melekat dalam ingatan publik, tetapi tak bisa mencabut ketokohan yang melekat dalam diri sang tokoh. Tapi dalam masyarakat yang rendah tingkat berpikirnya, berlaku pepatah "Nila setitik merusak susu sebelanga". Sebab yang dilihat adalah nila yang setitik itu, bukan susu yang penuh di belanga itu. 

Lihat di Afrika Selatan, Nelson Mandela tetap disebut dan diakui sebagai President Mandela, meskipun sudah wafat. Bahkan meskipun ia menceraikan istrinya, Winny Mandela, di tengah masa jabatannya. 

Ketika Nelson Mandela dipotret dalam pembukaan Copa Africa dan tampak ia menggunakan kaos kaki yang bolong karena sepatunya terlepas saat ia menendang bola membuka turnamen tersebut, rakyatnya tidak mencibirnya dengan mengatakan mereka memiliki presiden yang tak mampu membeli kaos kaki baru. Mereka justru berbangga memiliki seorang pemimpin yang lupa membeli kaos kaki karena terlalu sibuk berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. 

Di Inggris, Margareth Thatcher tetap disebut Prime Minister Margareth Thatcher, dengan julukan wanita bertangan besi. Di Mesir, Anwar Sadat tetap dikenang sebagai President Anwar Sadat. Di Kuba, Fidel Castro tetap diingat sebagai President Fidel Castro. Dan di India, Jawaharlal Nehru tetap dikenang sebagai Prime Minister Nehru, ayahanda dari Prime Minister Indira Gandhi, meskipun keduanya sudah tiada. 

Di Australia, Bob Hawke, Paul Keating, dan semua politisi yang pernah menduduki kursi Perdana Menteri lazim disapa dengan tidak menggunakan kata “former” atau "mantan" meskipun sudah berakhir masa jabatannya. Duta Besar Bill Morrison tetap disapa sebagai Ambassador Bill Morrison, walau tak lagi menjabat. Begitu pun Ambassador Philip Flood dan duta besar Australia lainnya. 

Bahkan Duta Besar Indonesia di Australia pun tetap disapa sebagai “Ambassador” meskipun sudah berakhir masa jabatannya. Sabam Siagian, misalnya, tetap disebut Ambassador Siagian setelah berakhir masa jabatannya, bahkan ketika ia menjadi penasihat Indonesia-Australia Business Council. 

Pertanyaan yang perlu direnungkan adalah, kenapa di luar negeri orang tetap menghormati jabatan yang pernah diduduki seorang pemimpin tetapi di Indonesia tidak demikian? Selalu harus ada kata “mantan” untuk memisahkan dia dari masa jabatannya! Padahal setiap pemimpin ada masanya dan setiap masa ada pemimpinnya. 

Tidak salah menggunakan kata “mantan” jika tujuannya hanya untuk memisahkan dia dari jabatannya yang sudah diduduki oleh penggantinya. Akan tetapi apabila pemahamannya adalah mereduksi ketokohannya selama menjabat, maka di situ muncul ketidakjujuran, sikap tidak mengakui ketokohan pemimpin. Padahal penyebutan jabatan bisa diikuti dengan masa jabatannya. 

Karena ketokohan seorang pemimpin melekat secara intrinsic pada dirinya dan tidak hanya terjadi selama masa jabatannya. Dan karena penilaian publik terhadap ketokohan seorang pemimpin tak bisa dibatasi oleh masa jabatan pemimpin dimaksud. 

Ada pula pemimpin yang ketokohannya lebih diakui di luar negeri ketimbang di negerinya sendiri. Bukan karena publik di dalam negeri lebih mengenal dirinya ketimbang orang-orang di luar sana, tetapi karena di banyak negara yang tingkat intelektualitasnya lebih tinggi, masyarakat lebih suka melihat sisi positif ketimbang sisi negatif seorang pemimpin. Karena tak satu pun manusia yang luput dari kesalahan. 

Sayangnya, di Indonesia ini yang terjadi adalah kebalikannya. Orang lebih suka melihat sisi negatif ketimbang sisi positif seorang pemimpin. Hal-hal yang baik pun selalu saja dilihat dengan kacamata negatif. Curiga, iri hati, balas dendam, saling menjatuhkan, dan seterusnya. 

Uraian seperti di atas itulah yang memenuhi pikiran saya ketika mengikuti perjalanan Irman Gusman, Ketua DPD RI 2009 - 2016, ke Filipina pada 10 - 13 November 2022. 

Irman Gusman disambut dengan protokol kenegaraan ketika bertemu dengan para petinggi pemerintahan, militer, DPR, Senat, dan tokoh-tokoh dunia usaha di negeri itu. Tak mengherankan mengapa mereka menyapa Irman Gusman sebagai “His Excellency Mr. Chairman” meskipun Irman tak lagi menjabat di DPD RI. Karena memang Filipina mengikuti tradisi Amerika. 

Sebagai wartawan Indonesia, saya dibuat repot harus mencari petugas yang berkompeten untuk mengganti penyebutan istilah "Chairman" dalam tulisan dan sapaan untuk Irman Gusman di setiap acara yang dihadirinya. 

Tulisan sapaan untuk jabatan yang pernah diduduki Irman di DPD RI tentu saja saya ganti dengan menyebutkan masa jabatannya. Tapi sebagai orang Indonesia, tetap saja kuping saya tak terbiasa, bahkan tak nyaman, mendengar mereka menyapa Irman sebagai “Chairman.” Karena Irman sudah tak lagi menjabat. 

Tapi di situ saya mengerti bahwa memang demikianlah cara masyarakat di sana memberikan pengakuan terhadap ketokohan seorang pemimpin. Mereka lebih mengingat ketokohan seorang pemimpin, ketimbang masa jabatannya. 

Lihat di media sosial. Kenapa Presiden Rusia Vladimir Putin sedemikian populernya di Indonesia? Bahkan banyak pula netizen yang menyebutnya sebagai “Pak De Putin.” Banyak video lucu diedarkan di medsos dengan nuansa menyanjung pemimpin Rusia itu. 

Rusia menyerang Ukraina, tapi justru presiden Rusia yang disanjung-sanjung di medsos. Tapi lucunya, Israel yang menyerang Palestina tak pernah disanjung pemimpinnya, malah dihujat dan dicaci-maki. Paradoks ini memberi kesan bahwa masyarakat kita haus ketokohan, haus keteladanan, haus kehadiran pemimpin sendiri yang dapat dijadikan anutan. 

Saya tak tahu persis apakah ada pemimpin Indonesia yang akan dipilih andai saja dilakukan jajak pendapat tentang siapa kepala negara atau kepala pemerintahan di dunia ini yang paling disukai oleh masyarakat Indonesia. Bagaimana jika yang dipilih adalah Putin, atau Duterte, atau Mahathir, Lee Kuan Yew, atau pemimpin dari negara lain? 

Mungkin ada baiknya bila lembaga-lembaga survei melakukan jajak pendapat semacam itu, sebagai cermin introspeksi dan evaluasi bagi para pemimpin. Karena seorang pemimpin tak bisa menilai dirinya sendiri secara obyektif. Bahkan lingkaran dalam setiap pemimpin pun tak bisa diandalkan untuk memberikan penilaian yang obyektif. 

Tapi ketokohan seorang pemimpin tidak sama dengan prestasi yang diciptakannya. Ketokohan jauh melebihi prestasi, meskipun bisa ditopang oleh prestasi. Sebab prestasi hanya terjadi di satu bidang tertentu, tetapi ketokohan mencakup pengakuan masyarakat terhadap keseluruhan hidup seorang pemimpin, termasuk sosok, kepribadian, keteladanan, kepemimpinan, rekam jejak, hasil kerja, visi masa depan, integritas, ucapan dan tindakan, serta kontribusinya bagi masyarakat bangsanya serta perannya di pentas dunia. 

Yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah para pemimpin yang bisa diakui di pentas dunia sebagai tokoh bangsa dan teladan masyarakat. Bukan para pemimpin 'jago kandang' yang hanya diakui oleh kelompoknya sendiri. Apalagi para pemimpin yang memaksakan diri untuk tampil tanpa kapasitas memadai. 

Renungan di atas menyertai penerbangan pulang delegasi Indonesia usai menghadiri International Business Forum di Manila. Tiga hari mengikuti perjalanan Irman Gusman ke Filipina memberikan banyak pelajaran kepada saya. Bahwa sosok yang memiliki ketokohan selalu dihormati bahkan di luar negeri, karena sosoknya, meski bukan karena jabatannya.  

Mungkin hal itu yang bisa menerangkan kenapa Irman Gusman mendapat sambutan sebagai negarawan dalam kunjungan singkatnya ke Filipina, meskipun ia bukan lagi seorang Senator. Dalam lawatannya itu Irman Gusman bahkan menggunakan atribut sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Minangkabau.