×

Iklan


September 2022, Sumbar Catatkan Inflasi 1,39 Persen

05 Oktober 2022 | 16:03:24 WIB Last Updated 2022-10-05T16:03:24+00:00
    Share
iklan
September 2022, Sumbar Catatkan Inflasi 1,39 Persen
Infografis inflasi Sumbar pada September 2022. DOK BI

Padang, Khazminang.id-- Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) umum di Sumbar mengalami inflasi sebesar 1,39% (mtm), meningkat dibandingkan Agustus 2022 yang deflasi -0,95% (mtm).

"Secara spasial, inflasi di Sumbar disumbang oleh inflasi Kota Padang dan Bukittinggi. Pada September 2022, Kota Padang tercatat mengalami inflasi 1,34% (mtm), meningkat dibandingkan Agustus 2022 yang deflasi -0,97% (mtm)," ujar Kepala Perwakilan BI Sumbar, Wahyu Purnama, Selasa (4/10).

Kata Wahyu, sejalan dengan itu, Kota Bukittinggi juga mengalami inflasi sebesar 1,87% (mtm), juga lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar -0,91% (mtm).

    "Berdasarkan realisasi inflasi bulanan, Kota Padang berada pada peringkat ke-6 inflasi tertinggi di Sumatera serta peringkat ke-20 secara Nasional. Sementara itu Kota Bukittinggi berada pada peringkat ke-1 inflasi tertinggi di Kawasan Sumatera  maupun secara Nasional dari total 88 kota yang mengalami inflasi," katanya.

    Secara tahunan, kata Wahyu, inflasi Sumbar pada September 2022 mencapai 8,49% (yoy), lebih tinggi dibandingkan realisasi Agustus 2022 sebesar 7,11% (yoy).

    "Nilai realisasi inflasi tahunan Sumbar juga tercatat berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi Nasional sebesar 5,95% (yoy), maupun rata-rata realisasi inflasi kawasan Sumatera yang sebesar 6,94% (yoy)," paparnya.

    Lebih lanjut dikatakan Wahyu, berdasarkan realisasi inflasi tahun berjalan (hingga September 2022), inflasi Sumbar pada September 2022 adalah sebesar 6,95% (ytd), meningkat dibandingkan realisasi periode sebelumnya sebesar 5,48% (ytd). 

    "Nilai capaian inflasi Sumbar ini juga tercatat berada di atas level inflasi tahun kalender Nasional maupun kawasan Sumatera yang masing-masing sebesar 4,84% (ytd) dan 5,61% (ytd)," bebernya.

    Wahyu berujar, inflasi di Sumbar pada September 2022 bersumber dari kenaikan harga komoditas bensin, beras, angkutan dalam kota, angkutan antarkota dan ketupat/lontong sayur dengan nilai andil masing-masing sebesar 0,91%; 0,22%; 0,08%; 0,05%; 0,04% (mtm).

    "Inflasi pada komoditas bensin terjadi sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk menyesuaikan harga BBM subsidi pada tanggal 3 September 2022 untuk BBM jenis Pertalite menjadi sebesar Rp10.000 per liter dari yang sebelumnya Rp7.650 per liter," tukuk dia.

    Kemudian juga harga Solar menjadi Rp6.800 per liter dari yang sebelumnya Rp5.150 per liter. Kenaikan juga terjadi pada jenis BBM non-subsidi Pertamax menjadi Rp14.500 per liter dari yang sebelumnya Rp 12.750 per liter, meskipun pada 1 Oktober 2022 pemerintah menurunkan harga Pertamax menjadi Rp14.200 per liter.

    "Beras mengalami kenaikan harga yang disebabkan oleh meningkatnya biaya produksi di sisi hulu baik akibat kenaikan biaya transportasi maupun kenaikan harga pupuk. Sementara itu kondisi curah hujan yang tinggi juga mendorong keterlambatan distribusi pasokan beras akibat kendala pengeringan gabah," ujarnya.

    Wahyu menambahkan, angkutan dalam kota serta angkutan antarkota mengalami inflasi sebagai dampak kenaikan harga BBM. Sementara kenaikan harga ketupat/lontong sayur ini terjadi akibat meningkatnya harga beras.

    "Inflasi di Sumbar lebih lanjut tertahan oleh deflasi pada komoditas angkutan udara, cabai merah, bawang merah, jengkol, dan emas perhiasan yang memiliki andil deflasi sebesar -0,08%; -0,07%; -0,03%; -0,03%; -0,03% (mtm)," pungkasnya. (han)