×

Iklan


Sanus 68, Perpendek Jarak 3TP Mentawai dengan Tanah Tepi

08 Juli 2024 | 21:05:42 WIB Last Updated 2024-07-08T21:05:42+00:00
    Share
iklan
Sanus 68, Perpendek Jarak 3TP Mentawai dengan Tanah Tepi
Wartawan Khazanah Eko Yanche Edrie sesaat menjelang berlayar dengan KM Sabuk Nusantara 68

Padang, Khazanah -- Senja di pelabuhan alam Emma Haven, laut terlihat tenang di bulan Juni. Pelabuhan terbesar di pantai Barat Sumatera yang sekarang bernama Pelabuhan Teluk Bayur (salah satu pelabuhan di bawah PT Pelindo II) KM Sabuk Nusantara 68 sedang sandar untuk loading bagi penumpang yang akan menuju pelabuhan Tuapeijat Kepulauan Mentawai.

Hampir 500 orang penumpang sudah memadati dek dan kelas dalam kapal berbobot mati 650 DWT itu. Sebagian lagi duduk di resto menyeduh kopi hangat dan sebagian lagi duduk di mushala kapal menanti waktu Maghrib masuk.

Wartawan Khazanah menjadi satu dari ratusan penumpang yang akan berlayar menuju pelabuhan Tua Peijat di Kepulauajn Mentawai. “Kapal akan singgah di pelabuhan Panasahan Painan Pesisir Selatan untuk memuat penumpang pada menjelang tengah malam nanti,” kata Daniwarti (60) perempuan yang tiap sebulan sekali akan ke Mentawai dari Padang untuk menjenguk cucunya. Dan ia selalu menantikan jadwal KM Sabuk Nusantara 68 ini, baik untuk ke Mentawai maupun untuk kembali ke Padang.

    “Nyaman dan saya bisa tidur dengan nyenyak, AC nya dingin, tenang dan lapang,” kata Dani. Soal tenang yang dia sebutkan itu lantaran dengan menumpang kapal yang biasanya melaju dengan kecepatan 8 Knots itu hampir-hampir tak peduli dengan besar atau kecilnya ombak. Dengan panjang 68,5 meter dan lebar 14 meter, kapal besutan tahun 2018 ini memang mampu berlayar stabil dan penumpang tidak usah khawatir akan mabuk laut lantaran dahsyatnya ayunan kapal.

    Pada kapal-kapal reguler yang melayani rute Padang – Mentawai ini memang kapal-kapal lebih kecil dari kapal perintis seperti Sabuk Nusantara. Misalnya ada KMP Ambu-ambu yang dioperasikan ASDP Indonesia Ferry adalah kapal dengan panjang 45 meter dan lebar12 meter. Lama pelayaran dari Pelabuhan Bungus ke Tua Peijat sampir sama dengan waktu yang ditempuh KM Sanus 68.

    “Bukan soal nyamannya saja,  tapi dengan kapal perintis tiketnya murah dan kita tidak campur baur dengan berbagai barang, bahkan kadang ada ayam dan sebagainya,” kata Charles Zein pekerja media yang bolak-balik Padang – Mentawai tiap sepekan sekali.

    Jika ia menggunakan KM Sanus 68, maka ia hanya dikenakan tiket Rp17 ribu sedang dengan kapal penyebarangan seperti KMP Ambu-ambu dan KMP Gambolo ia harus merogoh kocek Rp140 ribu. Apalagi kalau dengan kapal cepat seperti MV Mentawai Fast, tiketnya dibanderol Rp250 ribu per penumpang.

    Oh ya, dengan menggunakan kapal cepat, waktu tempuhnya hanya 3,5 jam atau paling lama 4 jam. Tetapi kapal cepat lebih banyak digunakan oleh para pekerja yang bolak-balik Padang – Mentawai.

    Kehadiran kapal perintis seperti Sabuk Nusantara ini tentu menjadi sebuah kebahagiaan bagi warga Kepulauan Mentawai. Warga di daerah yang baru menjadi Kabupaten sendiri sejak 1999 (dipayungi dengan UU  Nomor 49 Tahun 1999) itu.

    Maklum, pada kurun waktu sebelum menjadi daerah otonom, Mentawai amat tertinggal. Untuk mempercepat pertumbuhan dari daerah 3TP (Tertinggal, Terluar, Terdepan dan Perbatasan) memang diperlukan banyak intervensi. Salah satunya adalah dengan memekarkan Kabupaten induk Padang Pariaman menjadi dua daerah otonom, Padang Pariaman dan Kepulauan Mentawai.

    Kini sejak satu setengah dekade, Mentawai benar-benar mulai berubah. Berbagai infrastruktur dasar yang tadinya hampir-hampir tidak ada kini sudah banyak bertumbuhan. Dapat dibayangkan, bagaimana sulit dan getirnya perjalanan laut dari Tanah Tepi (sebutan untuk daratan Sumatera dalam bahasa pergaulan di Mentawai-red) pada masa lalu. Kapal-kapal ketika itu masih menggunakan kapal kayu, kapal nelayan dan sebagainya. Pelabuhan juga tidak sememadai seperti sekrang ini.

    “Tapi tetap saja, untuk mempercepat pembangunan Mentawai dan melepas ‘T-1’ dari tiga ‘T’ (Tertinggal) yang melekat pada Mentawai selama ini transportasi laut, ketersediaaan dan kehandalan serta kenyamanannya amat sangat membantu percepatan pembangunan Mentawai. Saya dapat memastikan, kapal dan peranan Pelni maupun ASDP sangat siginifikan,” kata Penjabat Bupati Kepulauan Mentawai Fernando J Simanjuntak, dalam wawancara khusus dengan Harian Khazanah belum lama ini di sebuah pelayaran Padang – Tua Peijat.

    Menurut dia peranan kapal perintis sangat strategis untuk Mentawai. Karena ia langsung terasa manfaatnya oleh masyarakat. Lantaran tidak semua masyarakat Mentawai atau sebaliknya mampu membeli tiket kapal reguler lainnya baik yang dioperasikan oleh BUMN maupun oleh swasta.

    Apalagi Sabuk Nusantara 68 tidak hanya satu dua pelabuhan yang disinggahi. Tapi ia melayani sejumlah pelabuhan di Kepulauan Mentawai. Rute pelayarannya dari  Teluk Bayur – Labuhan Bajau – Sikabaluan – Muara Saibi – Siberut – Mabukkuk – Tua Pejat – Penasahan – Teluk Bayur.

     “Saya paham, bahwa maksud kebijaksan pelayaran perintis adalah untuk memperkuat kebijakan sabuk nusantara dalam rangka tol laut. Ia diadakan sebagai stimulus guna memancing minat swasta untuk mengoperasikan dan melayani rute seperti dari dan ke Mentawai maupun rute antarpulau di Kepulauan Mentawai. Karena itu ia disubsidi oleh negara. Karena itu pula kapal perintis tidak sewaktu-waktu ada, jadwalnya ditetapkan tidak seperti kapal reguler. Oleh karena itu masyarakat juga tidak bisa bisa sesukanya memilih pelayaran dengan Sabuk Nusantara,” kata Fernando J Simanjutak.

    Ia mengatakan sebagai sebuah upaya memperpendek jarak antara Kabupaten Kepulauan dengan Tanah Tepi, kapal perintis Sabuk Nusantara sudah menjadi pahlawan bagi masyarakat. Karena itu tidak heran bila jadwal Sabuk Nusantara diumumkan, tidak pernah kapal itu tidak penuh, karena semua berebut untuk menggunakan jasanya.

    Fernando menyadari subsidi besar yang dialokasikan negara untuk kapal-kapal perintis seperti ini melalui PT Pelni tentu akan terus bergulir. Pada waktunya ia akan beralih ke wilayah lain apabila daerah yang dilayaninya sudah mulai maju dan berkembang, sudah bisa daerah 3TP ini duduk sama rendah tegak sama tinggi dengan saudara-saudaranya di daratan luas.

    “Tapi, saya ingin katakan bahwa untuk Mentawai, peranan Perhubungan Laut (Hubla) tidak bisa dilepaskan sampai kapanpun, Karena percepatan pembangunan Mentawai perlu kapal-kapal besar. Anda tahu, untuk membangun infrastruktur Mentawai, maka material, semen, beton, kapur bahkan batu didatangkan dari daratan Sumatera. Di sini tidak ada batu. Untuk mengangkut semua itu, kan tidak butuh pesawat terbang atau pelabuhan udara, kita butuh kapal barang, atau bersamaan dengan kapal penumpang. Maka jika boleh memilih,  pilih mana disediakan anggaran membeli pesawat terbang atau anggaran membeli kapal, maka bagi Mentawai biarlah memilih kapal saja, karena butuhnya adalah kapal, sampai ketertinggalan daerah ini bisa diatasi,” ujar dia panjang lebar.

    Kapal dengan biaya murah, besar, nyaman, bersih dan layanan ramah bentul menjadi idaman warga Mentawai dan siapapun yang akan datang ke Mentawai. Mentawai memang dibranding sebagai Kabupaten dengn destinasi wisata minat khusus (surfing). Turis-turis datang untuk berselancar di ombak Mentawai yang terkenal elok itu. “Itu jualan kami, jika untuk datang ke Mentawai mereka tidak mendapat pelayanan yang baik, bersih, nyaman dan menyenangkan, bagaimana mungkin dagangan (surfing) ini akan laku?” ujar dia. 

    Itu juga yang disampaikan oleh Komut PT Pelni Ali Masykur Musa ketika pada Mei 2023 yang lalu meninjau layanan KM Sabuk Nusantara 68 di Pelabuhan Teluk Bayur Padang.

    "Ini lah yang sangat penting untuk diperhatikan. Sebab, hal itu (keamanan, kebersihan & kenyamanan Kapal) akan menjadikan PELNI sangat diminati oleh masyarakat yang melakukan pelayaran laut ke Kabupaten Kepulauan Mentawai,” ujar Ali Masykur Musa seperti dikutip di situs resmi PT Pelni.

    Kata berjawab, gayung pun bersambut. Koordinator Terminal Point Padang PT PELNI Warimun menggaransi bahwa apa yang diharapkan oleh Komisaris Utama itu akan terus menjadi perhtian untuk ditingkatkan dati waktu ke waktu.

     “Kita akan selalu support terus kebutuhan dan pelayanan kapal. Bahkan kita juga tegas untuk tetap tepat waktu,” kata Warimun.

    Hal serupa disampaikan Kapten Kapal Sanus 68 Capt. Pujianto, dimana berkomitmen untuk selalu memberikan pelayanan sebaik – baiknya dan memenuhi kebutuhan fasilitas kapal.

    “Ini menjadi komitmen kita, agar PELNI menjadi satu – satunya transportasi yang dipilih masyarakat saat melakukan perjalanan laut," kataPujianto.

    Sanus 68 adalah menjadi bagian dari armada Pelni dengan 26 kapal untuk mengantar dan menjemput penumpang di 71 pelabuhan di Indonesia. BUMN ini  melayani 42 trayek kapal perintis seperti di Mentawai ini yang menjadi sarana aksesibilitas bagi mobilitas penduduk di wilayah 3TP. Tidak kurang dari  273 pelabuhan dengan total 3.495 ruas di wilayah 3TP yang disinggahi.

    Menyingkat Jarak

    Harus diakui bahwa Sabuk Nusantara adalah cara negara menjemput ketertinggalan di pulau-pulau kecil yang selama ini jauh dari sentuhan pembangunan. Kata pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, Sabuk Nusantara sebagai jembatan bergerak yang menghubungkan jaringan jalan nasional yang terputus karena laut maka transportasi perintis disubsidi negara sesuai Pasal 71 PP No 20 tahun 2010.

    “Jelas dan tegas dari amanat Peraturan Pemerintah ini untuk pelayaran perintis, yakni  untuk menghubungkan daerah yang masih tertinggal dan/atau wilayah terpencil yang belum berkembang dengan daerah yang sudah berkembang atau maju. Kemudian juga menghubungkan daerah yang moda transportasi lainnya belum memadai, Serta juga menghubungkan daerah yang secara komersial belum menguntungkan untuk dilayani oleh pelaksana kegiatan angkutan laut, angkutan sungai dan danau, atau angkutan penyeberangan, “ tulis Djoko dalam sebuah artikelnya di situs Kantor Berita ANTARA.

    Kehadiran kapal perintis dalam konstelasi transportasi nasional yang sangat bersifat maritim ini, tentu saja merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Negara memiliki kewajiban untuk memeratakan layanan transportasi laut yang terjangkau oleh semua khalayak di pulau-pulau terpencil, terluar, terdepan dan di perbatasan. Itu juga sebabnya, bahwa sampai saat lebhi tiga perempat pelayaran perintis itu masih dihandle oleh BUMN dan BUMD. Hanya sebagian kecil saja yang dioperasikan swasta.

    “Dapat dimaklumi karena biayanya besar, karena itulah harus ada intervensi negara melalui BUMN yang kepadanya dikucurkan subsidi,” kata Pj Bupati Mentawai Fernando J Simanjuntak.

    Namun demikian, jika waktunya tiba tentu layanan bersibsidi ini akan berganti juga dengan layanan komersial sebagai indikator bahwa Pelni sudah berhasil membantu percepatan pembangunan di daerah 3TP sehingga masyarakatnya sudah berdaya secara ekonomi dan mampu beli tiket kapal komersial.

    Data dai Ditjen Hubla menyebutkan, dalam 5 tahun terakhir, ada 24 lintas yang alami peralihan dari subsidi menjadi komersial termasuk  4 lintas di Sumbar yaitu lintas Padang–Sikakap.

    Angkutan laut kapal perintis telah menjadi tulang punggung konektivitas transportasi di Indonesia, dan kami berkomitmen untuk terus meningkatkan layanan ini guna memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia," ujar Dirjen Hubla Kemenhub Arif. (eko yanche edrie)