×

Iklan

SINGKA-BAJAK
Saat Negara Hadir

04 Oktober 2021 | 09:27:09 WIB Last Updated 2021-10-04T09:27:09+00:00
    Share
iklan
Saat Negara Hadir

Oleh: Yuen Karnova

 

Mereka berdua adalah teman sepermainan semenjak kecil. Mereka dua sahabat karib yang sulit dipisahkan. Dia yang berbadan berdegap bernama Singka. Entah kenapa nama itu dilekatkan kepadanya dan entah siapa yang mulai memanggilnya dengan nama itu, tidak ada orang yang mengingatnya lagi. Bahkan diapun sudah lupa. Tapi karena dia yang dipanggil dengan nama itu tidak pula merasa keberatan, maka jadilah dia bernama Singka.

    Temannya bernama Bajak. Nama inipun sudah mengalami pergeseran dari nama asli pemberian orang tuanya yaitu Razak. Entah bagaimana awal mulanya, tahu-tahu dia bernama Bajak. Mereka sering berdua kemanapun mereka pergi. Tapi setiap kali mereka bertemu, keduanya hampir selalu berdebat dan bertengkar. Dari mulai hal yang remeh temeh, sampai urusan negara. Pokoknya, tiada hari tanpa berdebat. Mereka berbaur rasa kan muntah, bercerai rasa kan demam. Mereka adalah dua sahabat lawan keras, konco belangkin. Kalau mereka bertemu dan berdebat, sebaiknya kita tidak usah ikut campur, karena perdebatan mereka akan berlangsung lama. Hebatnya lagi, mereka sanggup berdebat sampai mereka mengantuk. Hanya dalam tidur itu saja mereka berhenti berdebat. Seandainya dibedah mimpi-mimpi mereka, mungkin saja perdebatan itu berlanjut dalam mimpi. Wallahualam.

    Hari itu mereka baru saja menyaksikan berita di televisi yang menceritakan betapa mirisnya sebuah kebakaran yang terjadi di suatu penjara di negeri ini. Saking hebatnya kebakaran itu, lebih dari empatpuluh orang nara pidana tewas meregang nyawa.

    “Itu pasti karena over capacity” kata Singka dengan sinis. “Coba kau bayangkan, penjara itu sudah melampaui kapasitasnya bahkan sudah 400 %. Bisakah kau bayangkan, empat kali lipat dibandingkan dengan kapasitas maksimumnya. Umpama sebuah ranjang, maka ranjang itu menampung empat orang. Terbayangkah olehmu, bagaimana bergedinciknya orang-orang di dalamnya ? Jadi kalau misalnya terjadi kebakaran,,, yaaaa pantas…” katanya dengan besemangat.

    Sementara Bajak menanggapinya dengan ogah-ogahan, setengah hati dan hanya mendengus dengan buruk : “Hmmm ….” katanya menananggapi.

    “Hoi Bajak ! Mengerti ndak kau dengan apa yang aku omongkan ini ?” katanya dengan mata melotot. Sementara yang dipelototi hanya nyengir kuda. Itu membuat Singka jadi kesal dan berkata : “Yah aku paham, bahwa antena kau memang tidak akan mampu menangkap maksud pembicaraanku. Makanya, pertinggilah antena mu itu sedikit, biar mengerti dengan perkembangan zaman” katanya menggerutu.

    Bajak hanya manggut-manggut dan hanya memandang temannya yang kesal itu dengan pandangan masygul. Dia ingin menanggapi, tapi dia mengurungkan niatnya. Entah mengapa, kali ini dia malah lebih suka untuk mendengar temannya menggerutu.

    “Kau tahu tidak Bajak. Orang-orang itu berada di dalam penjara karena negara yang mengirim mereka kesana. Itu artinya negaralah yang harus bertanggung jawab dengan keselamatan mereka selama mereka berada dalam Lapas itu. Mengerti ndak kau ?” katanya membentak.

    “Kau yang tidak mengerti Singka. Apa kau tahu berapa banyaknya penjara di negeri ini. Apa kau tahu berapa banyak jumlah orang yang berada di dalamnya. Apa kau tahu berapa uang negara yang harus digelontorkan untuk membiayai setiap Lapas. Mulai dari bangunan gedung tahanan, gedung kantor dan gedung penunjang, sarana olah raga, tempat bermain, kebutuhan ranjang, lemari, kamar mandi, makanan para tahanan, personil petugas, persenjataan, peralatan pendukung, dan lain sebagainya. Apa otak bebalmu itu tahu berapa triliun Rupiah dana untuk kebutuhan itu ? Makanya kalau tidak paham, jangan asal melantong saja kau”.

    “Eeei Buyung. Jangan kau berdalih seperti itu. Kau tahu tidak, bahwa itu adalah kewajiban negara. Itu bukan kewajiban saya, apalagi kewajiban para Napi. Jadi muncungmu itu yang asal melantong saja. Kau tahu tidak, negara kita ini kaya raya. Apa sih yang tidak kita punya ? Kau sebutlah mulai dari kekayaan yang ada di dalam tanah, seperti minyak, gas bumi, emas, perak tembaga, batu bara, atau apapun juga,,, kau sebutlah semua. Pasti ada di dalam perut bumi kita. Kau tahu tidak, kalau orang Arab, hanya mengandalkan minyak saja, toh mereka menikmati fasilitas lebih baik dari kita. Tapi negeri kita ??? Semua sumber alam ada di negeri ini. Lalu kenapa negara tidak memenuhi apa yang menjadi kewajibannya ? Itu lah masalahnya. Jadi karena antena kau memang rendah, ya segitulah pemahamanmu. Coba juga kau lihat tetangga kita Singapura, apa mereka punya sumber daya alam ? Tapi kenapa masyarakatnya bisa lebih sejahtera ?” kata Singka dengan wajah mengejek yang terang-terangan.

    “Alaaaaaa,,, Arab, Singapura segala kau bawa-bawa. Apa pernah kau ke sana ?” tanya Bajak mengejek tajam.

    “Apakah untuk mengetahui bagaimana kehidupan di suatu negara, kita harus datang ke sana ? Dasar otak tak berguna, ya begitu jadinya” kata Singka dengan senyum sinis.

    Untuk sesaat mereka berhenti dan kemudian Bajak berkata : “Masalah di penjara yang kau bahas, masalah periuk beras mu sajalah yang kau urusi” katanya menyeringai jelek.

    “Itulah yang aku maksudkan ! Ketika engkau berbicara periuk beras mu, maka di dalamnya ada sejumlah masalah yang pada akhirnya bermuara kepada sejauhmanakah negara kita memberi peluang kepada warganya untuk mendapatkan apa yang menjadi hak mereka. Semoga otakmu itu mengerti, bahwa kebutuhan warga negara memang banyak. Tapi negara harus hadir dan tidak boleh tidak. Anak-anak kita butuh sekolah, butuh pelayanan untuk memenuhi hak kanak-kanak, butuh taman bermain, butuh rekreasi anak, dan lain-lain. Kita juga butuh transportasi, butuh fasilitas perdagangan, butuh pelayanan kesehatan, dan segala kebutuhan yang banyak jumlah dan ragamnya. Semua itu menghendaki negara hadir. Apa kau paham ?”

    “Singka…. Singka.,. Jangan kau tanya apa yang negaramu berikan kepadamu. Tapi bertanyalah apa yang kau berikan untuk negaramu… hehehe dasar otak dungu”.

    “Jangan kau jadikan dalil itu sebagai tameng untuk berlindung dan berkelit dari kewajiban negara yang memang belum maksimal berbuat untuk warganya. Coba sekali-kali negara juga bersedia membalikkan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri. Cobalah sekali-sekali bersikap adil. Jangan hanya bertanya tentang apa yang sudah warga negara berikan kepada negaranya, tapi bertanyalah,  apa yang sudah negara berikan kepada warganya. Caranya sangat mudah. Coba kau bandingkan bagaimana nasib warga negara tetangga bila dibandingkan dengan kita. Saya kira itu akan memberikan gambaran yang cukup jelas”.

    “Dari tadi kau mengatakan bahwa negara kita kaya, warga negara butuh pelayanan. Tapi tahukah kau bahwa antara kebutuhan dan kemampuan pasti tidak akan sama. Kebutuhan selalu melampaui kemampuan. Begitupun negara. Negara juga menghadapi keterbatasan, sementara kebutuhan warga negara luar biasa banyak dan tidak terbatas. Jadi kau juga harus paham soal itu” kata Bajak dengan nada menggurui.

    “Haaaalaaah …!!”. Singka mengibaskan tangannya.

    Debat panas masih terus berlangsung dengan seru. Kalau semula hanya masalah penjara yang terbakar, kemudian terus melebar sampai kepada Pemilu, Pilkada, perangai penyelenggara negara, ulah pegawai negeri, ulah sopir angkutan umum dan sebagainya. Pokoknya ketika Singka dan Bajak bertemu, semua hal bisa jadi bahan pertengkaran. Dan itu dijamin, pasti seru.