×

Iklan


Prilaku Terpuji, Tetap Mutlak Jadi Syarat Pemimpin

10 Oktober 2022 | 17:13:13 WIB Last Updated 2022-10-10T17:13:13+00:00
    Share
iklan
Prilaku Terpuji, Tetap Mutlak Jadi Syarat Pemimpin

Oleh : Abdul Aziz

PDIM Universitas Andalas – Padang

 

    Waktu terus berlalu, masa pun terus berputar sesuai gerakan bumi yang diciptakan Allah dengan konstan tanpa henti. Gempa, tsunami, gunung meletus, kebakaran hutan yang terjadi hampir diseluruh dunia, demonstrasi akibat kenaikan harga BBM yang juga terjadi dimana-mana, itupun tak sanggup untuk menahan laju putaran bumi yang menandakan berjalannya waktu secara pelan namun pasti. Belum ada satupun teori yang diciptakan manusia untuk bisa menahan laju pertukaran masa walaupun ribuan manusia ahli sudah mampu berfikir untuk migrasi ke Planet Mars sebagai alternative untuk pindah dari bumi.

    Tahun 2024 sudah semakin dekat. Kelompok-kelompok sosial yang tergabung dalam berbagai kegiatan politik yang dibingkai dengan Partai Politik dan Koalisi antar partai sudah mulai menggema di seantero Nusantara. Para kandidat pemimpin sudah bermunculan baik dari kalangan partai ataupun non partai sudah mulai menampak diri dan mendekati masyarakat dalam menjaring dukungan. Berperan dalam mempengaruhi behavioral (perilaku) dan decition making rakyat sebagai pendukung merupakan pekerjaan cukup sulit mulai dilakukan oleh para pihak yang terlibat pada praktek perpolitikan di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta.

    Ada yang tampak berbeda pada ketokohan dan kepemimpinan periode pemerintahan sebelumnya dengan saat sekarang ini. Tokoh-tokoh yang muncul lebih memiliki segudang prestasi dari realisasi kepemimpinannya pada lingkup lebih kecil (misalnya mantan Gubernur, mantap petinggi TNI dll.), namun masih ada juga tokoh-tokoh yang muncul dari didikan partai politik yang mengandalkan ketokohannya dari pengalaman berpolitik dan menyandang nama besar tokoh panutan dari partai politik itu sendiri.

    Ketika kita lirik ke teori, ternyata teori kepemimpinan itu berasal dari kebutuhan kepemimpinan akibat munculnya revolusi industri, yang merupakan migrasi dari kepemimpinan kelompok pertanian pedesaan ke industri perkotaan. Tomas Carlely (1883), mendefinisikan bahwa sejarah dunia kepemimpinan ini hanyalah merupakan biografi orang-orang hebat. Diawali dengan teori orang-orang hebat, kemudian teori kepemimpinan berdasarkan sifat telah mendominasi studi kepemimpinan politik, milter dan insdutri hingga munculnya teori perilaku pada awal tahun 1940-an. Menurut Rost (2003), sampai abad ke 20 pola kepemimpinan sentris masih memiliki pengaruh besar, sehingga diawal abad ke 21 Rost mengatakan pelunya dilakukan tinjauan akdemik tentang studi kepemimpinan.

    Rost (1993), melihat bahwa sekolah kepemimpinan tradisional sangat tergantung kepada konsep “periphery syndrome” yang fokus kepada karakterisktik dan perilaku yang dapat diamati dan diukur dari efektifitas kepemimpinnya, misalnya pada sifat-sifat, karakterisktik personal, melahirkan atau membuat isu, situasi, gaya dll. sebagai manajemen organisasi publik dan pribadi. Penelitian Rost untuk abad ke 21 adalah mengumpulkan, menganalisis dan mengkritik teori dan definisi kepemimpinan dalam upaya menemukan kepemimpinan yang presisi, akurat dan ringkas agar orang dapat bertindak ketika behadapan dengan persoalan yang harus segera diselesaikan ketika mereka terlibat didalamnya. Salah satu argument Rost terhadap pemikiran manajemen kepemimpinan tradisional adalah bahwa telah ada kemajuna yang dibuat menuju landasan folosifis kepemimpinan baru.

    Pemikiran Rost membuktikan, bahwa telah terjadi pergeseran kebutuhan pemimpin pola kepemimpinan saat ini dari sejarah orang-orang hebat menjadi pemimpin yang dibesarkan oleh ilmu pengetahuan dan realita dari pengalaman sang pemimpin selama memimpin.

    Pertarungan antara pemimpin gaya lama yang sarat dengan latar belakang mengagungkan nama besar mendahulunya dengan pemimpin era globalisasi yang memiliki segudang ilmu pengetahuan dan pengalaman memimpin mulai terlihat. Tentunya kita sebagai masyarakat yang juga sudah cerdas dapat melihat, menilai dan memilih tokoh mana yang akan kita dukung dan pilih sebagai pemimpin negara kita kedepan yang mampu beradaptasi dengan era revolusi industri dan evolusi peradaban moderen seperti saat ini.

    Ada dua issue pola kampanye yang muncul saat ini, yakni pola lama dengan cara menonjolkan kelemahan dan kegagalan masa lalu lawannya dan memperlihat kesuksesan semu yang dimilikinya. Disisi lain ada yang benar-benar menonjolkan kesuksesannya dengan benar-benar memperlihat bukti kesuksesannya secara nyata (meskipun masih ditentang oleh lawan politiknya) dan gaya humanis dan sosialis yang kental dan memahami bahwa rakyat Indonesia adalah kelompok sosial yang religi. Namun, sebagain besar rakyat Indonesia masih belum paham tentang bagaimana menjadi follower dan berpolitik dan memilih pemimpin. Banyak pihak memanfaatkan kondisi ini untuk menghujamkan pengaruhnya kedada dan hati masyarakat sebagai objek dan subjek targetnya.

    Ketika kita (sebagai masyarakat, tokoh masyarakat, ataupun rakyat pedesaan yang minim ilmu politik) benar-benar terobsesi dengan kebenaran dan keadilan maka tetaplah berpegang teguh kepadanya. Wujudkanlah kebenaran itu dengan tidak ikut-ikutan untuk saling menghujat kelompok lain atau orang-orang yang berbeda paradigma dengan kita.

    Sejenak mari kita lirik firman Allah pada QS Al-Hujurat : 11 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “

    Ketika kita menjumpai, mendapatkan, diberi seberkas narasi atau issue yang bernada ejekan, kebencian, merendahkan orang dan kelompok lain, kritikan pedas maka jangan pula kita ikut menjadi penyebar isu tersebut. Balaslah issue itu dengan narasi-narasi positif yang bernada membangun, memberi kesejukan hati, merobah cara pandang orang agar menjadi lebih baik. Tak perlu kekerasan dibalas dengan kekerasan, balaslah dengan kelembutan dan simpati.

    Biarkan saja penghujat dengan kerjanya, sementara kita tetap konsisten menyebarkan isu-isu kebaikan agar kebenaran itu semakin nyata, kokoh dan menunjukan diri sebagai pemimpin dalam mengubah kezaliman menjadi keadilan.

    Betapaun hebat dan kuatnya kezaliman, niscaya tidak akan pernah mampu untuk melawan kebenaran dan keadilan. Anda tidak akan pernah salah selama selalu berpegang pada kebenaran (Sharon Stone). Sahabat paling baik dari kebenaran adalah waktu, musuhnya yang paling besar adalah prasangka, dan pengiringnya yang paling setia adalah kerendahan hati. (Charles Caleb Colton).

    Maka tetaplah pada pendirian bahwa tidak pernah ada perjuangan kecil untuk hasil yang besar tapi yang ada adalah perjuangan yang berat dan besarlah yang akan menghasilkan kebesaran dan kebenaran.