×

Iklan


Prabowo Ditinggalkan Pemilih Milenial

15 Jun 2021 | 19:50:13 WIB Last Updated 2021-06-15T19:50:13+00:00
    Share
iklan
Prabowo Ditinggalkan Pemilih Milenial
?PELUANG-- Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto telah menyatakan sikap untuk kembali maju pada Pilpres 2024. Di beberapa hasil survei, nama Prabowo memang masih menjuarai klasemen. Namun, 2024 dipandang sebagai peluang terakhir bagi mantan Danjen Kopasus itu. DOK

Jakarta, Khazminang.id— Ajang Pilpres 2024 dipandang sebagai peluang terakhir bagi Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto untuk mencoba peruntungan menduduki kursi RI 1. Selain faktor usia, kemungkinan itu juga dilihat dari sejumlah pertimbangan rasional lainnya.

“Maka jika memang akan bertarung lagi di Pilpres 2024 mendatang, Prabowo perlu habis-habisan untuk mendulang kemenangan,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI), Karyono Wibowo, Selasa (15/6).

Karyono mengamati peluang Prabowo di Pilpres 2024 masih cukup besar karena memiliki modal sosial sebagai figur paling banyak mengikuti kontestasi pilpres sejak 2009, 2014 dan 2019. Meskipun kalah dalam tiap Pilpres, nama mantan Danjen Koppasus itu telah menorehkan rekam jejak dikenal publik dalam peta politik nasional.

    "Mengingat usia dan pertimbangan rasional lainnya, Pilpres 2024 ini bisa jadi merupakan peluang terakhir bagi Prabowo, kecuali di kemudian hari ada situasi yang mendorong dia maju lagi," kata Karyono.

    Tercatat usia Prabowo sudah menginjak 69 tahun. Berdasarkan sejumlah hasil survei kandidat presiden 2024 menunjukkan elektabilitas Prabowo cenderung selalu tinggi. Hal ini menurut Karyono mengkonfirmasi bahwa sosok Menhan masih memiliki pendukung setia. "Karenanya, Prabowo masih memiliki peluang meskipun belum terlalu kuat," ujar Karyono.

    Diketahui, Prabowo Subianto kerap merajai posisi sebagai capres yang diunggulkan. Namun temuan Center for Political Communication Studies (CPCS), menunjukkan pemilih milenial dan gen Z dikuasai oleh Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil. Prabowo sendiri berada di posisi ketiga.

    "Capres yang paling diunggulkan oleh pemilih milenial dan gen Z bukan figur Prabowo yang biasanya paling difavoritkan secara umum, tetapi lebih condong pada Ganjar dan Ridwan Kamil," kata Direktur Eksekutif CPCS Tri Okta SK dalam siaran persnya, di Jakarta, Selasa.

    Elektabilitas Ganjar bertengger di angka 17,7 persen, ditempel oleh RK sebesar 16,0 persen. Menyusul adalah Prabowo (12,8 persen), Anies Baswedan (7,6 persen), dan Agus Harimurti Yudhoyono (7,3 persen).

    Ganjar dan RK menikmati dukungan elektabilitas terbesar di antara pemilih milenial dan gen Z dibanding tokoh-tokoh yang lain, termasuk Prabowo. Menurut Okta, tingginya elektabilitas Prabowo selama ini lebih banyak disumbang oleh pemilih generasi yang lebih tua.

    Sementara itu, lanjut dia, perubahan demografi telah terjadi sejak Prabowo pertama kali berlaga pada Pemilu 2009, ketika berpasangan dengan Megawati. Berikutnya Prabowo dua kali menjajal sebagai capres pada 2014 dan 2019, tetapi kalah.

    "Makin besarnya pemilih muda pada Pemilu 2024 mendatang patut menjadi pertimbangan partai-partai politik dalam mengusung figur sebagai capres-cawapres," tuturnya.

    Belakangan mencuat lagi wacana memasangkan kembali Megawati-Prabowo, yang notabene adalah pasangan klasik dari masa Pilpres 2009.

    Kombinasi yang lebih menarik adalah Prabowo-Puan. Prabowo merepresentasikan golongan tua dan Puan mewakili kalangan muda. Puan disebut-sebut menjadi figur sentral dalam regenerasi di internal PDIP. "Sebagai politisi perempuan, Puan bisa meneruskan gaya kepemimpinan Megawati," kata Okta.

    Di sisi lain, figur-figur muda seperti Ganjar, RK, dan AHY bisa menjadi tantangan bagi pasangan Prabowo-Puan.

    "Popularitas Ganjar di media sosial sampai-sampai membuat pihak elite PDIP meradang, melihatnya sebagai ancaman terhadap rencana mengusung Prabowo-Puan yang didukung koalisi PDIP-Gerindra," ucap Okta.

    Demikian pula dengan nama-nama seperti Erick Thohir (6,0 persen), Sandiaga Uno (5,8 persen), Tri Rismaharini (4,3 persen), dan Giring Ganesha (2,3 persen). Lalu ada Khofifah Indar Parawansa (2,3 persen) dan Mahfud MD (1,0 persen). Lainnya hanya di bawah 1 persen, dan sisanya tidak tahu/tidak jawab 14,6 persen. ryn/dbs