×

Iklan

SERVER SIA SEMPAT DOWN
Pintu Keluar Dibuka, Warga Singapura Serbu Tiket Pesawat

15 Oktober 2021 | 15:15:17 WIB Last Updated 2021-10-15T15:15:17+00:00
    Share
iklan
Pintu Keluar Dibuka, Warga Singapura Serbu Tiket Pesawat
Banyak pesawat parkir tak bisa terbang di Changi Airport Singapura (Foto: STRAITS TIMES)

Singapura, Khazminang.idSiapa yang tidak akan gila kalau dikurung sampai 21 bulan bulan, tidak boleh melewati perbatasan negerinya yang hanya seukuran Kota Padang (694.96 km2) lebih sedikit karena pandemi Covid-19. Kini Singapura (755 km2) membuka perbatasan untuk warganya sendiri menuju dunia luar lantaran 83 persen penduduknya sudah divaksin.

Mulai 19 Oktober, penduduk Singapura bisa bebas bepergian ke 10 negara tanpa harus menjalani karantina dan dengan jumlah tes PCR yang lebih sedikit, asalkan sudah divaksinasi. Tapi tidak termasuk Indonesia rupanya, walaupun Bali sudah dinyatakan bisa didatangi turis asing.

Namun sungguhpun tak bisa ke Indonesia, tak ayal pula bagian reservasi Singapore Airlines (SQ) menjadi penuh sesak didatangi warga Singapura yang sudah ingin terbang ke luar negeri. Bahkan server maskapai penerbangan Singapura itu sampai down lantaran traffic yang tinggi dari pemesan tiket online.

    BBC yang dikutip khazminang.id menulis bahwa warga penuh sukaria menyambut pembebasan ke luar negeri meskipun baru 10 negara.  "Berada di rumah saja membuat kami gila. Tidak ada pembedaan antara bersantai dan bekerja," cetus Low Ka Wei, seorang petinggi bidang komunikasi korporat sebuah perusahaan, seperti dilansir BBC.

    Karena tidak bisa mengakses situs-situs tersebut, Low dan banyak warga Singapura lainnya menempuh cara lama: antre berjam-jam di luar kantor maskapai penerbangan untuk memesan tiket pesawat. Namun, kini situs Singapore Airlines dapat diakses dengan baik.

    Singapura membentang sejauh 50km dari timur ke barat dan bagi beberapa orang, kurangnya opsi perjalanan domestik menjadi serbasalah. Karena merrka hanya berputar-putar di pulau kecil itu saja sepanjang hari. Padahal biasanya mereka dalam hitungan jam dengan perjalanan datar buisa melintas sampai ke Johor-Malaysia dan dengan perjalanan naik ferry ke Batam-Indonesia.

    "Pandemi membuat saya benar-benar menghargai apa yang kami miliki di Singapura," kata Kristel Quek, salah satu pendiri start-up mata uang kripto.

    "Ada pepohonan rindang dan setiap akhir pekan saya mencoba sesuatu yang baru. Tapi saya sedikit kesal melihat di internet teman-teman di Inggris, Italia, dan Spanyol bisa berlibur musim panas, sedangkan saya terjebak di sini," paparnya.(eko/rtr/bbc/straitstimes)