×

Iklan

DARI HASIL SURVEI SETARA & INFID
Persepsi Anak SMA: Pancasila Bisa Diganti, La Nyalla Prihatin

21 Mei 2023 | 17:58:55 WIB Last Updated 2023-05-21T17:58:55+00:00
    Share
iklan
Persepsi Anak SMA: Pancasila Bisa Diganti, La Nyalla Prihatin
La Nyalla di Universitas PGI Surabaya

Padang, Khazminang.id – Mengejutkan, ternyata 83,3 persen siswa SMA di Indonesia menganggap bahwa Pancasila bukan ideologi yang permanen dan bisa saja diganti kalau mau. Itu bukan sembarang data, tetapi merupakan sebuah hasil survei yang dilakukan oleh dua NGO’s Indonesia yakni Setara Institute bersama Forum on Indonesian Development (INFID).

Pekan lalu hasil surveinya sudah dirilis. "Dukungan terhadap persepsi bahwa Pancasila sebagai bukan ideologi yang permanen, artinya bisa diganti, sangat besar yakni 83,3 persen responden," kata Direktur Eksekutif Setara Institute Halili Hasan di Jakarta, Rabu (17/5).

    Ada beberapa pertanyaan lain yang diajukan ke responen seperti, soal persepsi berjilbab, soal toleransi, perbedaan keyakinan, gender dan sebagainya. Tetapi yang paling menarik adalah angka 83,3 persen yang menganggap Pancaasila bisa diganti itu.

    Survei dilakukan terhadap 947 dengan margin of error 3,3 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Penelitian diselenggarakan pada Januari-Maret 2023.

    Bagi Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, ini sangat memprihatinkan.  

    “Inilah akhirnya yang kita tuai dari amandemen UUD 1945 pada 2002 silam, sehingga Pancasila tidak terjabarkan lagi sebagai acuan hukum tertinggi dalam konstitusi negara kita,” kata LANyalla dengan dana prihatin sangat.

    Ketidakpercayaan generasi muda kepada Pancasila sebagai sebuah ideologi bangsa yang akan mempersatukan bangsa ini sangat membahayakan masa depan bangsa. Anak-anak muda akan kehilangan nasionalismenya, rasa kebangsaannya.

    Ia pun mengutip apa yang disampaikan oleh bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara, bahwa ‘Jika anak didik tidak kita ajarkan wawasan kebangsaan dan nasionalisme, maka bisa jadi di masa mendatang mereka akan menjadi lawan kita’.

    LaNyalla, mengatakan  bahwa apa yang dikatakan Ki Hajar Dewantoro pada tanggal 31 Agustus 1928 silam bisa benar-benar terjadi. “Dan ini adalah salah satu bukti yang ada di pikiran  anak-anak kita, yang notabene adalah generasi penerus pemegang arah perjalanan negara ini,” tukasnya.

    Seperti diketahui dengan ‘semangat reformasi’  melalui Ketetapan Nomor XVIII/MPR/1998 tanggal 13 November 1998, Majelis Permusyawatan Rakyat telah menghapuskan P4 (Penataran Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), karena dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan kehidupan bernegara.

    “Ini adalah awal bangsa ini dipisahkan dari ideologinya. Awal bangsa ini meninggalkan Pancasila sebagai grondslag bangsa. Dan penghancuran memori kolektif sebuah bangsa memang bisa dilakukan tanpa metode perang militer. Tetapi dengan memisahkan generasi bangsa itu dengan ideologinya,” tandasnya.

    Oleh karena itu, menurut senator dari Jawa Timur ini  konstitusi hasil perubahan pada masa reformasi itu tidak nyambung antara pembukaan dengan pasal-pasal yang ada. Karena perubahan pada pasal-pasalnya telah mencapai lebih dari 95 persen.

    “Dan pasal-pasal yang baru tersebut justru bukan menjabarkan ideologi Pancasila. Tetapi menjabarkan ideologi lain, yaitu ideologi individualisme dan liberalisme. Sehingga wajar Indonesia semakin carut-marut dan ekonominya yang kapitalistik hanya menghasilkan oligarki,” kata dia.

    “Kita perlu buat Konsensus Nasional dimana semua elemen bangsa yang masih peduli dan punya nasionalisme di dadanya untuk bersepakat mengembalikan Pancasila sebagai norma hukum tertinggim” ujarnya. (eko)