×

Iklan


Perintah Komando di Kandang Kambing

18 September 2023 | 22:46:20 WIB Last Updated 2023-09-18T22:46:20+00:00
    Share
iklan
Perintah Komando di Kandang Kambing
ANGGOTA Koramil 05/Pauh-Kuranji, Peltu Riswadi Zahar saat di kandang kambing miliknya di Gunung Sarik, Kec. Kuranji. RYAN SYAIR

MASA kecil Riswadi Zahar tak seperti anak-anak seusianya. Disaat yang lain sibuk dengan mainan, Riswadi lebih memilih membantu mengurusi usaha ternak ayam milik ayahnya. Mulai dari memberi makan, membersihkan kandang, hingga menjajakan ayam-ayam yang sudah dipanen untuk dijual berkeliling kampung.

RYAN SYAIR-- Padang

Kebiasaan itu, seperti sudah melekat dalam keseharian Riswadi. Sepulang sekolah di SD Negeri 02 Gunung Sarik, sulung dari empat bersaudara buah hati pasangan Zahar (alm) dan Rosmawati itu, langsung disibukkan dengan rutinitasnya di kandang sederhana yang dibangun sang ayah dengan memanfaatkan sedikit lahan kosong di belakang rumah mereka.

    "Saya senang sekali beternak. Ayah juga memberikan banyak ilmu tentang itu. Kuncinya disiplin dan bersungguh-sungguh. Insha Allah hasilnya tak mengecewakan. Alhamdulillah, masih kelas 3 SD waktu itu, saya sudah bisa membeli sepeda dari uang tabungan sendiri," kata Riswadi memulai ceritanya.

    Riswadi Zahar adalah seorang anggota TNI AD berpangkat Pembantu Letnan Satu (Peltu). Kini, dia bertugas di Koramil 05/Pauh-Kuranji di bawah kendali Kodim 0312/Padang. Menjadi seorang prajurit, mengenakan seragam loreng dengan baret hijau di kepala, memang sudah menjadi cita-cita Riswadi sejak kecil.

    Sore itu, Sabtu 16 September 2023, media ini menyambangi kediamannya di Jl. Kampung Baru RT 01 RW 02 Gunung Sarik, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat. Ketika ditemui, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Gunung Sarik yang juga menjabat Bintara Tinggi Tata Usaha dan Urusan Dalam (Batituud) Koramil 05/ Pauh-Kuranji itu, baru saja melepas seragam loreng kebanggaannya.

    "Ayo, ikut saya saja. Biar sekalian nanti kita ngobrol-ngobrol di sana," ajak suami tercinta Desviviyanti itu.

    Sabit dan sebuah karung berukuran besar, tampak sudah di genggaman Riswadi, ketika dalam waktu sekejap penampilan pria kelahiran Padang, 24 Desember 1976 itu berubah 180 derajat. Pria tegap yang tadinya tampak gagah dan berwibawa ketika seragam PDL membalut tubuh kekarnya, serta merta berubah menjadi sosok sederhana layaknya lelaki kampung dan kebanyakan pengembala ternak di pelosok desa.

    Setelan kaos lengan panjang dan celana training biru tua yang mulai tampak lusuh, seperti melengkapi padanan sepatu boots berwarna hitam yang mengiringi tegap langkah kakinya. Jika sudah begini, tak akan banyak yang mengira, jika ayah tiga anak itu adalah seorang Tentara.

    "Ya beginilah. Sore sepulang dinas, saya langsung menyabit rumput untuk pakan ternak. Kalau dinas malam, paginya saya ngarit dulu," ujar Riswadi yang tampak sudah sangat terlatih memainkan sabit itu. Tak sampai 10 menit, karung 100 kilogram yang tadi dibawanya sudah terisi penuh dengan rumput.

    Hobi dan kecintaan Riswadi di bidang peternakan, memang telah tertanam dan terus bertumbuh hingga dia beranjak dewasa. Bahkan usai menjalani pendidikan pembentukan di Rindam 7 Wira Buana Sulawesi Selatan pada tahun 1995, hingga akhirnya resmi menyandang status sebagai Anggota TNI AD pada tahun 1996, pekerjaan sampingan sebagai peternak, masih terus dilakoninya.

    "Begitu selesai pendidikan kejuruan di Jakarta Selatan, saya menerima penempatan tugas pertama di Denkes Banjarmasin sebagai Ba Gud & Eksi Urminlog. Selang beberapa waktu, saya juga sempat bertugas di Rumah Sakit Tentara (RST) Tingkat 4 Kandangan sebagai Turharbang Listrik dan Air. Ada sekitar 14 tahun saya bertugas di Kalimantan," ujar Riswadi.

    Di Pulau Borneo itulah Riswadi kembali mewujudkan hasrat beternaknya. Di sela-sela kesibukannya, pria lulusan SMA 5 Padang tahun 1995 itu, menyewa lahan milik warga untuk disulap menjadi kandang sapi. Ia memilih bekerjasama dengan pemilik lahan dan melibatkan beberapa orang warga di sekitar lokasi sebagai pekerja.

    Tak sekadar menuntaskan hasrat pribadi, di Pulau Borneo itu pulalah Riswadi sukses menularkan virus beternak kepada masyarakat di daerah sekitar tempat tinggalnya di Kandangan, Kalimantan Selatan. Atas inisiatifnya, ia juga sempat memprakarsai pembentukan kelompok peternak dan terjun langsung untuk membinanya. Usaha Riswadi tak sia-sia. Kelompok yang ia bina terus berkembang, pemberdayaan masyarakat yang dilakukannya juga terus menyebar menjangkau tingkatan yang lebih luas.

    “Alhamdulillah, selain sangat membantu ekonomi keluarga, saya juga bisa menyisihkan sedikit untuk orangtua dan keluarga besar di Padang. Apalagi sejak ayah meninggal pada tahun 1995, saya menjadi tulang punggung keluarga," ujar Riswadi yang dengan penuh tanggungjawab berhasil mengantarkan dua orang adiknya meraih gelar sarjana.

    Namun di balik semua itu, Riswadi mengaku jika kebahagiaan terbesar bagi dirinya adalah ketika orang lain juga ikut menikmati dan merasakan manfaat dari apa yang telah dilakukannya. Masyarakat yang tadinya menganggur, akhirnya memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap untuk menghidupi keluarga mereka. "Bagi saya, ini adalah kebahagiaan yang tak ternilai harganya," pungkas Riswadi.

    Beternak, Tentara dan Kedisiplinan

    Hobi beternak dan kebanggaan menjadi Tentara yang memang telah menjadi cita-citanya, bagi Riswadi adalah ibarat dua sisi mata uang. Dari dua dunia yang jauh berbeda itu, ia mengaku belajar banyak tentang arti penting kedisiplinan.

    "Dari kecil, orangtua selalu mengajarkan saya untuk disiplin dalam segala hal. Salah satunya, saya belajar banyak tentang kedisiplinan dari ilmu beternak yang diberikan ayah. Intinya, beternak itu juga harus disiplin, ada aturan. Lalai dan lengah sedikit saja, risikonya sangat besar," ujar Riswadi.

    Demikian juga halnya dalam dunia Tentara dan kemiliteran. Tentara itu disiplin, semuanya diatur. Dan bagi sosok prajurit yang pernah mendapat penugasan Operasi Timor Timur (kini Timor Leste) pada tahun 1998-1999 dan Operasi Papua pada tahun 2003-2004 ini, kedisiplinan adalah modal terpenting dalam hidupnya.

    "Seperti yang sedang saya lakukan saat ini. Pulang dinas, langsung ke sawah atau ke ladang mencari rumput dan langsung memberi makan ternak. Dinas, sudah pasti tak bisa ditinggalkan. Memberi pakan ternak, juga tak bisa diulur-ulur. Tinggal bagaimana mengatur waktu untuk menyeimbangkan keduanya. Jika disiplin diterapkan, Insha Allah semua akan berjalan seperti air mengalir," ujar Riswadi yang bersama media ini sudah berada di dalam kandang kambing miliknya.

    Dengan sedikit memberi isyarat sebagai bentuk "perintah komando", kambing-kambing Riswadi tampak sudah bersusun rapi di depan palong yang sudah berisi rumput. Mereka berbaris tertib laiknya Tentara.

    Ikhwal beternak kambing ini, Riswadi kembali melanjutkan kisahnya. Sesekali, dihirupnya Dji Sam Soe yang sedari tadi terselip di sudut bibirnya. Dalam sekejap, terlihat pula asap putih menggumpal keluar dari mulutnya. Di tengah letih dan penatnya, Riswadi seperti benar-benar sedang menikmati kretek kesukaannya itu.

    "Pascagempa besar yang melanda Kota Padang pada tahun 2009 lalu, atas instruksi Panglima TNI, maka seluruh Tentara yang berasal dari Padang dibolehkan untuk mengurus kepindahan ke daerah asal," ujarnya melanjutkan cerita.

    Kesempatan itupun disambut Riswadi dengan penuh suka cita. Bisa berkumpul kembali bersama orangtua dan sanak saudara, adalah kerinduan terbesar dalam hidupnya. Persis di tahun 2009, dia tinggalkan Tanah Borneo untuk kembali ke kampung halamannya. Awal mula kembali ke Sumatera Barat, Riswadi ditugaskan di Kodim 0304/Bukittinggi.

    "Nah, beternak kambing ini saya mulai tahun 2018, persis dua tahun setelah saya pindah tugas dari Kodim 0304/Bukittinggi ke Kodim 0312/Padang pada tahun 2016," cerita Riswadi.

    Dengan bermodalkan sepasang indukan kambing jenis Peranakan Etawa (PE), serta kandang ayam peninggalan sang ayah yang tentu sudah tak asing lagi baginya, maka mulailah Riswadi mengurusi "pasukan" barunya. Disulap dan ditatanya bekas kandang ayam itu sedemikian rupa.

    “Alhamdulillah, dari yang awalnya cuma dua ekor, kambing saya terus berkembang dengan pesat. Dalam setahun, penambahannya rata-rata bisa mencapai 10 hingga 12 ekor. Dari hasil ini, saya coba kembangkan dengan membeli indukan baru. Baik dari jenis PE, maupun dari jenis kambing kampung untuk dikawinsilangkan dengan indukan PE yang sudah ada,” pungkas Riswadi.

    Awalnya, Riswadi mengaku sempat aktif dalam memproduksi dan memasarkan susu kambing kepada tetangga dan para koleganya. Namun hal itu tidak berjalan lama. Karena selain membutuhkan penanganan yang serius seperti dalam hal perawatan dan pemeliharaan, produktifitas susu kambing sebut Riswadi juga sangat ditentukan oleh asupan pakan yang terjaga, seimbang dan berkelanjutan.

    “Akhirnya, saya memutuskan untuk menjual langsung saja kambing-kambing itu. Baik indukan atau anakan untuk pembibitan, maupun kepada pembeli yang datang langsung ke rumah untuk berbagai kebutuhan seperti akikah, pesta pernikahan, kurban dan lainnya,” ujar Riswadi.

    Dengan melakoni pekerjaan sampingan sebagai peternak, kini Riswadi mengaku telah memiliki penghasilan tambahan mencapai Rp15 juta hingga Rp20 juta setahun. Bahkan terkadang meningkat hingga dua kali lipat. Seperti halnya pada Idul Adha 1444 Hijriah, Juni 2023 lalu. Sebanyak 22 ekor kambing miliknya, laku terjual untuk memenuhi kebutuhan kurban beberapa daerah di Kota Padang, hingga kini tersisa delapan ekor saja.

    “Alhamdulillah. Ini sangat membantu ekonomi keluarga saya, bisa menutupi biaya sekolah anak-anak dan mencukupi segala kebutuhan rumah tangga. Jika diberi kesehatan dan umur panjang, yang pasti ini akan menjadi bekal dan persiapan menghadapi masa pensiun juga tentunya,” ujar Riswadi.

    Sukses, ternyata tak hanya milik Riswadi. Keberhasilannya dalam usaha peternakan kambing itu, juga dilirik oleh tetangga dan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Dengan sepenuh hati, Riswadi tak pernah sungkan untuk berbagi dan menularkan ilmunya. Setiap ada kesempatan, Riswadi juga terus melakukan pendampingan dan pembinaan terhadap mereka. Maka tak ayal, hingga kini sudah banyak kolega dan warga sekitar tempat tinggal yang terinspirasi dan akhirnya mengikuti jejaknya.

    “Saya sangat senang sekali bisa berbagi ilmu dan pengalaman dengan siapapun. Asal jangan berbagi kambing saja. Hahahaha..,” kelakar Riswadi menutup pembicaraan.

    Di balik kisah inspiratifnya, Peltu Riswadi Zahar tetaplah seorang prajurit TNI yang terikat dengan sumpah dan senantiasa memegang teguh disiplin keprajuritannya. Meski tengah disibukkan dengan segala aktivitas di luar dinas, terutama saat berkutat dengan pekerjaan sampingan mengurusi ternak di kandang miliknya, Riswadi tetaplah seorang Tentara yang jika setiap saat dibutuhkan dituntut untuk sigap melaksanakan perintah komando; “Siap! Laksanakan!”.

    Dihubungi terpisah, Komandan Rayon Militer (Danramil) 05/Pauh-Kuranji, Kapten Inf. Setianis mengatakan, dirinya mendukung penuh segala kegiatan produktif yang dilakukan anggotanya. Sebagaimana yang diatur dalam 8 Wajib TNI kata Setianis, seorang prajurit hendaknya bisa menjadi contoh dan tauladan bagi rakyat. Baik dalam sikap, kesederhanaan, maupun dalam wujud karya nyata membangun kehidupan masyarakat dengan memanfaatkan potensi wilayah melalui ragam inovasi.

    “Semoga apa yang dilakukan Peltu Riswadi Zahar, bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat dan ikut memotivasi rekan-rekan sesama TNI lainnya untuk terus melakukan berbagai giat produktif yang bermanfaat. Baik untuk diri sendiri dan keluarga, maupun untuk rakyat. Karena sejatinya, hakikat dan jati diri prajurit itu adalah Tentara Rakyat,” ujar Setianis. **