×

Iklan


Perfilman Nasional Anjlok, Sandiaga Ajak ke Bioskop

03 April 2021 | 22:10:15 WIB Last Updated 2021-04-03T22:10:15+00:00
    Share
iklan
Perfilman Nasional Anjlok, Sandiaga Ajak ke Bioskop
Memparkeraf Sandiaga Uno tinjau studio alam di Yogya

Padang, Khazminang.id – Sepanjang setahun terakhir ini industri perfilman dunia turun anjlok ke tidik nadir, tak terkecuali Indonesia. Bioskop sebagai garda depan dunia perfilman ditutup, maka tak ayal ini memukul perusahaan biosko, produser film, pemain film, sutradara dan kru film.

Selang setahun, akhirnya pemerintah mulai melonggarkan pengetatan kegiatan yang menghadirkan kerumunan seperti bioskop. Bioskop mulai dibuka lagi dengan aturan ketat dan jumlah penungunjung terbatas.

    Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bahkan mendorongnya dengan membuat gerakan #KembalikeBioskop yang diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk menonton film tanah air.

    Meskipun bioskop telah dibuka, tetapi trauma atas Covid-19 membuat masih banyak penonton yang enggan ke bioskop. “Takut kalau-kalau tidk aman, lebih baik nonton di rumah saja, TV atau kanal film berbayar misalnya,” kata Riza, seorang ibu rumah tangga di Padang yang mengaku memang kangen ke XXI tapi masih khawatir dengan ancaman penulara Covid.

    Dorongan Kemenparkeraf untuk mengajak masyarakat ke bioskop bukan asal saja. Tapi bahkan sudah diawali dengan membuat panduan yang dikenal dengan CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability) untuk sektor bioskop.

    "Gerakan tersebut sudah tereksekusi di beberapa daerah dimana bioskop sudah kembali dibuka dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin seperti di Surabaya, Jakarta, Solo. Tapi ke depan akan terus kita tingkatkan," ujar Menparkeraf, Sandiaga Salahudin Uno meninjau Studio Alam Gamplong di Desa Wisata Gamplong, Sleman, Jumat (2/4/2021) sore.

    Menparekraf juga tengah mengkaji berbagai stimulus yang dapat diberikan kepada insan perfilman mulai dari sisi produksi, distribusi hingga pemasaran bersama dengan industri agar benar-benar dapat memberikan dorongan yang tepat manfaat dan tepat sasaran.

    Sebagai catatan, kontribusi sektor industri film terhadap PDB nasional sebesar Rp15 triliun pada 2019. Sektor industri film juga memberikan multiplier effect yang tinggi karena ada lebih dari 2.500 jenis usaha yang terlibat dalam satu film mulai dari produksi hingga distribusi.

    "Kita juga ingin ada satgas anti pembajakan. Langkah-langkah ini akan terus kita jalankan berkolaborasi dengan industri karena pemerintah yakin betul bahwa yang lebih tahu akan kebutuhan adalah industri sendiri," kata Sandiaga.

    Sebetulnya separah apa industri perfilman nasional? Dan apa yang dilakukan insan film di masa lesu ini?

    Bos rumah produksi Starvision, Chand Parwez, mengaku memakai "waktu istirahat" yang panjang selama pandemi untuk tetap berusaha mengerjakan proses pra-produksi.

     “Perfilman Indonesia ini memang di masa pandemi praktis tidak ada produksi, tapi bukan berarti tidak ada kreativitas. Penulisan naskah masih berjalan, pre-producion masih berjalan. Produksi saja yang terhenti, karena ada pembatasan sosial,” ucap Parwez seperti dikutip dari laman kompas.com.

    Ia menceritakan, pada Maret 2020 saat Covid-19 baru saja menyerang Indonesia, Starvision merilis satu film kolaborasi dengan Falcon Pictures. Judulnya, Mariposa.

    Namun, baru beberapa hari tayang, film yang dibintangi dua artis muda berbakat Angga Yunanda dan Adhizty Zara itu harus dijadwal tayang ulang. Kapan? Kalau bioskop sudah dibuka kembali.

    Film lain produksi Starvision, Tarung Sarung, juga masih harap-harap cemas menanti kelanjutan nasibnya di bioskop. Pada 2020, Parwez sedianya melepas enam dari sembilan judul film produksinya.

     

    Lain lagi situasi yang dihadapi sutradara Hanung Bramantyo. Dua film garapannya yang sudah siap dirilis—Tersanjung The Movie dan Miracle in Cell No.7—jadi tertunda karena pandemi.

    Produksi film lain garapan Hanung pun harus terhenti. Saat ini, dia sedang memproduseri film Surga yang Tak Dirindukan 3 dan Ibunda, di bawah rumah produksi Dapur Film.

    “Itu (produksi) kurang lima hari lagi (tapi harus) terhenti. Syuting yang seperti itu yang susah," ujar Hanung.

    Menurut Hanung, merampungkan "sisa" produksi yang tinggal sedikit itu berat. Karena, kata dia, sudah banyak yang kadung diproduksi. Konsepnya sudah tak bisa juga diubah.

    "Sudah telanjur syuting di rumah warga. (Kalau dilanjutkan) sekarang, warganya pasti (bereaksi), ‘Mau ngapain?’ (Dijawab), ‘Mau syuting,’ (bakal dijawab), 'Entar dulu. Karantina dulu’,” tutur Hanung.

    Untuk setiap produksi film, Hanung mengaku punya sekitar seratus orang kru. Karena itu, tidak mungkin juga kalau dia harus mengarantina orang sebanyak itu selama 14 hari di lokasi yang berdekatan dengan rumah warga yang dipakai syuting.

    Selain film yang sudah kadung digarap lalu terhenti, Hanung juga diketahui punya rencana memproduksi film besar berjudul Satria Dewa: Gatotkaca.

    Gara-gara pandemi, ia pun mendadak harus merombak total konsep film tersebut. Perombakan dilakukan dari cerita sampai pengurangan adegan baku hantam yang identik dengan film-film superhero.

    “Kalau persiapan sekarang, kayak Gatotkaca, saya langsung mengubah konsep. OK, lokasinya (syuting) saya enggak mau yang ada warga," ujar dia. Untungnya, lanjut Hanung, dia punya studio Gamplong di Yogyakarta yang ditinjau Menteri Sandiaga Uno hari Jumat itu. (syaf al)