×

Iklan

CERPEN
Percintaan Anjing

30 Mar 2021 | 09:26:09 WIB Last Updated 2021-03-30T09:26:09+00:00
    Share
iklan
Percintaan Anjing
Alwi Karmena

Cerpen: ALWI KARMENA


GLORY anjing betina mahal piaraan Om Theo orang kaya populer di kota ini.  Bos yang sudah sedikit rokoh namun dia dikenal dermawan oleh warga di komplek sekitar tempat ia tinggal.

Hampir setiap hari Minggu pagi  Om Theo joging keluar rumah dengan membawa Glory. Anjing  cantik dan lucu berbulu putih tebal. Dilehernya dikalungkan Om Theo mainan giring-giring dari perak yang mahal. Konon dia anjing impor turunan Cina langsung dari Beijing.

    Orang orang yang mengenal Om Theo sering menggoda Glory, mungkin sebagai tanda bersahabat dan perduli atau bisa juga basa basi. Tapi tampaknya Glory mudah menerima sapaan siapa saja..

    Glory..Glory.. Kemana? Ngikut bos ya...., sapa orang ketika berpapasan

    Biasanya Glory nembalas dengan keng-kengannya yang manja sambil memainkan dan memutar mutar ekornya.

    Walau  suka akan kepedulian seperti itu,  Om Theo melarang orang orang itu memberi Glory makanan atau minuman sembarangan. Soalnya makanan dan minuman Glory ada yang  spesial di rumah. Makanan kaleng yang bergizi tinggi.  Pelet daging dan susu murni yang steril. Glory tak boleh salah nakan. Dia  tak boleh sakit. Soalnya dia seekor anjing mahal mainan orang kaya-kaya. Salah-salah makan, dia bisa kena diare. Ususnya halus,  usus anjing import lah namanya, sedikit salah Glorysi ini memakan makanan kampung, apa lagi yang  berasa cabe...dia akan diare dan sakit perut.

    Menyenangkan Glory, Om Theo menyediakan waktu , berjalan kemana mana bersama Glory.  Agaknya ini  merupakan ganti rekreasi, jogging  olah raga santai Om Theo. Masuk kampung, masuk taman, ke pantai, bahkan sering juga sampai masuk ke ujung pasar.

    Itulah di suatu sore. di ujung pasar, lokasi yang agak kumuh,  banyak juga berkeliaean anjing anjing liar yang tak ada pemilik. Anjing pasar  yang tak punya tuan, karena banyak yang lahir tercampak di tong-tong sampah, tempat pembuangan yang lepas dari kepedulian.

    Sore itu Om Theo melintas bersama Glory dekat ujung pasar., Anjing-anjing pasar yang sedang berkeliaran itu tertarik  dan menyapa dengan gonggongan.

    Whaw Waoff. Hwaaww. Huk huk huk.( Hei Halo. Cantik....sombomg ya..dimana rumah nya sayang..)

    Glory yang disapa oleh preman pasar itu, meski pangkal rantainya dipegang Om Theo, sempat juga menjawab dengan manja.

    Huk Hik whwe wheew hhewewwHiuk huuk heew(Nggak sombong. kok. Saya Glory,   suka punya kawan. Maen dong ke rumah. Saya tak ada teman. Sendiri. Sepi)

    Seekor anjimg kurap yang agak pincang menyela dengan bersemangat.

    Hoowf. Whaww. Huuk waaff. Huuf” (Oh ya Glory...dimana rumah kamu..boleh mampir?)

    Om Theo tak suka anjingnya bersahut sahutan dengan anjing pasar. Rantai Glory ditariknya

    Glory tetseret, tapi dia masih sempat mengengkeng.

    Heee Heng hiik waae...Wew Wew Huff(Rumahku ...empat gang dari sini ke kiri)

    Kurap tengkak memang anjing buruk tapi kupingnya tajam.  Rumah Glory dan kawasan lingkungannya yang bagus pernah dilintasinya. Ucapan Glory tadi ditangkapnya degan baik. Glory...Glory manis sekali..

    Apalah jauhnya empat gang ke kiri itu, sudah ada dalam radar peta otaknya. Jawaban jujur Glory si Putih cantik tadi menyisip ke hatinya seperti seteguk anggur merah yang membakar asmaranya.

    Si Kurap Tengkak ini, entah karena lama hidup tersisih.  kuyup oleh perasaian, dia dikenal sesama anjing sebagai  seniman anjing. Apabila malam terang bulan, dia sering melolongkan puisi  tentang indahnya alam dan sepinya hati.

    Memang asli dia seniman anjing.

    Selama ini puisinya tak begitu bersasaran. Setelah pertemuan mendebarkan siang di ujung pasar itu. Inspirasinya menjadi  mekar. Kadang-kadang tiap setengagh jam lahir satu pusi dari dadanya. Itulah di  malam yang tenang dengan tertengkak-tengkak dia menuruti kemana hatinya membawa.

    Gang keempat yang dikengkengkan Glory dijajakinya. Itulah mahligai kencana. Ke sana dia.

    Wah, di depan mataya kini tertegak sebuah rumah besar mewah, gagah dan terkesan angkuh. Pagar besinya tinggi dan bergembok. Di halaman ada taman dan lampu kampu yang gemerlap.

    Sungguh tak  setaraf antara dirinya  yang kurap dan tengkak dengan tempat tersebut. Namun demikian, hatinya menggapai gapai.

    Disanakah si Putih cantik Glory. Hatinya berbisik. Ya, mungkin inilah rumah bagi anjing mahal yang newah. Inilah istana ratu putih berbulu tebal yang bernama Glory. Benih puisi puisi menjalar di batin.  

    Kurap terduduk di tepi comberan di seberang rumah itu. Langit terbentang. Bulan dan bintang mengerdipkan cahaya. Puisi indah  meleleh.Kurap melolongkannya dengan meretas heningnya malam.

    Hwuuu huuu huuung huuung wuuuwuuuuuu. Huk huffff, hauwwww.” (Selamat malam cakrawala yang lengang/ Selamat malam bulan dan bintang yang berkabut/ Sampaikan salam gemetarku/ Salam anjing buruk yang pincang/ Salamku pada gadis berbulu putih di balik pagar perkasa....)

    Glorilysi belum tidur. Hatinya yang sepi  terketuk. Suara Kurap melolongkan puisi serasa tetesan  embun di kalbunya yang gersang. Meskipun dia tak terbiasa bersajak, diupayakannya juga membalas. Dengan sedikir tertahan-tahan ia mengengkeng menuturkan bahasa sederhana..,.

    Heeing heeing ngg hiinf hiwww. Weweww.

    (Oh engkaukah itu Kurap? Indah puisimu kudengar...adakah itu tulus dari hatimu?)

    Kurap tersintak. Dadanya serasa retak.. Puisinya berbalas...

    Huuyuu wuuu. Huuung mguuuung mmuuuung. Fwuwuuuuuu... (Untuk siapa lagi hati ini menepi. Untukmu sendiri.Glory bidadari)

    Sementara itu, Om Theo yang juga belum tertidur membangunkan istrinya  Tante Friska.

    Heh Ngapain anjing kita ribut diluar? Ada maling atau minta makan? colek Om Theo.

    Kedua tuan dan nyonya itu membuka pintu menoleh ke luar. Dilihatnya Glory mengengkeng- ngengkeng ke seberang yang gelap. Sosok Kurap yang hitam buruk belum terlihat

    Tadi sudah dikasi pelet daging...apa lapar lagi dia ndak...?.” tanya si tante.

    Om Theo dan Tante Friska membawa sebuah kotak makanan import. Roti pakai pelet daging dan keju. Dilepaskannya tantai di leher Glory.

    Pintar. Kalau lapar minta diantarkan makan...ayuh makan... “ kata Om Theo.

    Glory berbuat seolah-olah memakan dengn lahap. Padahal hanya sekedar mencium-cium saja. Ketika Om Theo dan Tante Friska masuk. Glory bergegas menggumggung kotak makanan itu kearah  pagar..

    Weff Wefff Glory berbisik memanggil Kurap.  Disusupkannya kotak makanan itu lewat sela-sela jeruji pagar.

    Kurap mendekat...air mata bahagianya tergenang.

    Heef eeeww. Huk (Apa itu, kok pakai kotak segala? Kayak makanan ulang tahun) tanya Kurap juga berbisik.

    Huuw huuf,” (ya untuk kamu)

    Orww huuw huuf wrwe huhu .huurrr wew wee huuuhuu. Hunhg” (Oh aku tak pernah ulang tahun. Aku tak punya tanggal dan tempat lahir. Aku anjing pasar. Anjing terbuang)

    Glory kagum akan kejujuran Kurap. Sebagai gadis anjing, baru kali ini dia mengenal jantan. Ingin dia mencium, menjilat  kurap di tubuh buruk sijantan.

    Whwwaw wawwuu ( Kau gagah Kurap. Aku suka padamu)

    Hoff haw haww(api. Aku kurap. Pincang)

    Heww hew kenge keng(Tapi Aku suka kurapmu.Aku senang pincangmu)

    Cinta berkibar di dada Kurap. Begitu juga Glory.

    Euuuwwuu huuu huu(Aku mau kalau kita bercinta)

    Weeew,keng keng huuu(Bercinta, kawin dan bertali)

    Hukhuk waew haww(Buktikan cintamu, datanglah padaku)

    Glory merasa, jiwanya,seakan bersayap. Diingatnya ada sebuah celah dekat pintu pagar di bawah kotak surat. Bergegas dia menyentak. Dengan susah payah diterobosnya jeruji besi pagar.

    Bug. Glory lolos.

    Kurap segera menyergap. Dibawah remang cahaya bulan. Glory membiarkan tubuhnya dicium. Dijilat. Ditunggangi dan bertali. Kurap memberikan kejantananya dengan  penuh. Glory memejamkan mata menikmati cinta yang membara.

    Tapi di dalam rumah, Om Theo merasa ada sesuatu yang tak beres. Diintipnya lewat gorden jendela.

    Gila. Celaka. !!

    Glory,anjing kesayanganya lepas dan...celaka sekaali, Glory  dipecundangi anjing buruk!

    Awas!

    Bergegas dia masuk ke kamar. Sepucuk  senapan berburu tergantung  di dinding Diisinya sebutir peluru. Seperlunya, sebutir saja.

    Jijik sekali hatinya melihat pertalian anjing yang tidak setara itu.

    Dengan mengendap Om Theo keluar.  Kini dengan sedikit berdebar ia membidik. Dibidiknya baik-baik agar tepat di kepala anjing kurap itu.

    Sementara itu, sepasang pecinta sedang menikmati pertalian. Kawin yang penuh keikhlasan.

    Karena berjiwa seni. Kurap memandu Glory mendendangkan puisi. Puisi Anjing berurai tentang percintaan anjing yang merdeka....

    Huuuu huuu wuuu wuufuu huwuuu huhutruu hukuuuu fiuuu. Huiwuu wuuhuu” (Tiada pagar bagi hati yang mengejar/ Tiada yang bisa merantai cinta/ Tiada guna hidup di istana/ Kalau percintaan tak diberi ketika Kami anjing yang merdeka/ Tak butuh rantai jajahan Tuan lagi/  Cinta kami tak seperti cinta manusia/ Yang menghitung angka dan strata/ Cinta bagi kami adalah kesetiaan sampai mati)

    Lagu itu didendangkan berdua. Indah dan.merdu

    Hanya saja, di balik tembok batu. Om Theo, orang kaya yang memang terbiasa berburu. Senapannya menahan di bahu. Sebelah matanya memicing. Bidikannya pas. Jarinya di pelatuk. Walau anjing itu melengket bertali. Sasarananya hanya satu, satu peluru untuk Kurap saja.

    Doooor….. sunyi terbelah. Darah tertumpah.

    Tepat di kepala Kurap. Glory tersentak. Pertalian nikmat terlepas tiba tiba. Kurap terkapar di tanah. Matanya nanap menjawat maut yang menjemput.

    Glory memekik. Dia tak rela kejahatan ini.  Dengan marah dikejarnyaa Om Theo, meski itu tuannya.

     Digigitnya kaki Tuannya itu. Mesli tidak terlalu dalam lukanya, Om Theo teraduh juga. Anjing manis memberontak menggigit tuannya demi cinta.

    Di aspal jalan Kurap mati anjing  terkapar. Sedangkan Glory dibopong oleh Om Theo untuk kembali ke rumah dan dirantainya.

    Tapi itu bukan ujung cerita. Glory membuktikan kesetiaan cintanya. Dia mogok, tak mau makan. Hatinya hancur. Apapun yang disuguhkan tak disentuhnya. Dan mogok itu berlanjut berhari-hari.  Glory sakit. Matanya kuyu. Bulunya rontok. Theo sudah membawa Glory ke dokter hewan. Disuntik dan diobati. Tapi itu tak menunda kematian Glory, menyusul Kurapnya ke keabadian.....