×

Iklan


Perang Melawan Lemak, Bagaimana Caranya?

06 Mei 2021 | 22:29:20 WIB Last Updated 2021-05-06T22:29:20+00:00
    Share
iklan
Perang Melawan Lemak, Bagaimana Caranya?
Ini semua mengandung lemak

Padang, Khazminang.id – Berat badan bertambah dan tubuh membesar sering membuat kita pusing. Selain pusing karena mempertahankan berat dan bentuk tubuh ideal, juga pusing karena berjuang melawat ancaman penyakit lantaran lemak tertimbun dalam tubuh.

Semua dimulai dari cara makan, yang tidak memilih-milih. Asal ada, kata orang Minag disantuang taruih.

Sudah jelas makanan  yang kadar lemaknya tinggi, seperti  sosis, mayones atau mentega diantara yang menyebabkan  bertambahnya bobot tubuh.

    Pada 1948 peneliti ingin mengungkap alasan kematian yang utama di AS, yaitu serangan jantung. Ketika itu, lebih dari 5.000 orang dari daerah Framingham ikut dalam studi pengamatan, yang saat itu jadi yang terbesar dalam sejarah kedokteran.

    Sembilan tahun kemudian barulah ada hasilnya penelitian itu. Biang kerok pemicu jantung sakit itu adalah  tekanan darah tinggi, merokok dan bobot tubuh berlebihan.

    Kenapa berat badan jadi pemicu juga? Peneliti ketika itu menjelaskan bahwa orang Amerika suka makan yang berlemak.

    Lemak dalam makanan ibaratnya jadi musuh yang harus dilawan. Karena di Jerman, yang situasi ekonominya sangat baik, juga ditemukan semakin banyak orang berbobot tubuh besar meninggal akibat serangan jantung. Kesimpulan bahwa lemak pada jantung jadi penyebab kematian segera diikuti berbagai tindakan. Industri makanan juga ikut memberikan reaksi. 

    Dikutip dari www.dw.com, disebutkan bahwa di Amerika low fat atau rendah kadar lemak bahkan jadi tema politik. Tahun 1980, Senator George McGovern menyerukan ditetapkannya tujuan diet nasional.

    Untuk pertamakalinya dalam sejarah ditetapkan haluan mengonsumsi makanan yang sehat bagi rakyat AS. Jangan sentuh lemak dan kolesterol yang berefek buruk! Demikian motonya. Segera setelahnya, gelombang olahraga aerobik mulai bermunculan. Orang memerangi kelebihan bobot tubuh dengan segala cara.

    Tapi baik olah raga maupun produk-produk berkadar lemak rendah tidak bisa menurunkan bobot tubuh rata-rata orang AS dan Jerman. Sebaliknya. Terus meningkat!

    Tapi dengan produk-produk low fat dan label bergambar jantung, organisasi masyarakat untuk kesehatan jantung di AS terus menjunjung mitos bahaya lemak. Hanya Robert Atkins yang menentang.

    Ia mempropagandakan konsumsi makanan berlemak, dan bukan produk low fat yang kandungan gulanya tinggi. Diet ala Atkins juga mencakup daging, telur dan lobster. Mudah untuk diikuti, dan banyak orang suka.

    Baru menjelang tahun 2000 muncul keraguan pertama, apakah mengkonsumsi makanan berkadar lemak rendah jadi jalan keluarnya. Banyak orang yang menghadapi masalah bobot tubuh yang berlebihan. Jadi mereka membeli produk low fat. Tapi ternyata itu tidak menolong menurunkan berat tubuh.

    2001, Institut Cochrane mulai meninjau kembali studi tentang makanan berkadar lemak rendah. Hasilnya: tidak ada petunjuk, bahwa makanan low fat bisa memperpanjang hidup.

    Lima tahun setelah itu muncul bukti yang utama. Sebuah studi melibatkan 50.000 perempuan. Separuhnya mengkonsumsi makanan berkadar lemak rendah, separuhnya mengkonsumsi makanan biasa. Hasilnya, tidak ada tanda pengurangan jumlah serangan jantung dan stroke.


    Lemak jahat dan lemak baik


    Setelah 30 tahun, akhirnya kampanye tentang buruknya lemak berhenti. Setidaknya sebagian. Sejak saat itu dibedakan antara lemak yang jahat dan yang baik, yang dikandung dalam minyak nabati.

    Jadi pedoman konsumsi makanan di AS hanya memperingatkan akan bahaya lemak jenuh dan kolesterol, yaitu lemak yang jahat. Tapi sejumlah studi sekarang sudah menunjukkan, bahwa kolesterol dalam makanan tidak punya pengaruh atas nilai-nilai dalam darah.

    Kesimpulan dari para peneliti: Lebih dari 10 tahun, konsumsi makanan berkadar lemak rendah dianjurkan, walaupun tidak ada bukti bahwa itu menguntungkan kesehatan.

    Tapi produk-produk berkadar lemak rendah tetap ada. Sementara produsennya semakin kehilangan argumentasi yang mendukung, mereka tetap mendorong tren low fat. Ibaratnya seolah sapi yang memproduksi susu, juga berolahraga. (eko/sumber: www.dw.com)