×

Iklan

PITAN DASLANI MELIHAT KRISIS FINANSIAL AS (3)
Penyebab Terjadinya Krisis FInansial AS

22 Mei 2023 | 14:24:50 WIB Last Updated 2023-05-22T14:24:50+00:00
    Share
iklan
Penyebab Terjadinya Krisis FInansial AS
Para Lansia yang makin banyak

Sekarang coba kita menganalisis penyebab terjadinya bencana finansial yang sedang menghantui Amerika. Apa saja akar masalahnya?

Masalah pertama adalah masalah demografi. Amerika kini sedang mengalami perubahan besar dalam komposisi demografinya. Masyarakatnya semakin tua dan para 'baby boomers' kini mulai pensiun. Dari berbagai data yang dihimpun dapat dipahami bahwa sampai dengan tahun 2029, setiap hari secara rata-rata paling sedikit 10.000 'baby boomers' mencapai usia 65 tahun.

Ketika mereka ingin hidup sehat agar panjang usia pembayaran pensiunnya, maka pemerintah pun harus menyediakan dana besar untuk meladeni mereka, termasuk untuk membiayai program layanan keamanan sosial, Medicare, dan Medicaid.

    Masalah kedua adalah meningkatnya biaya pemeliharaan kesehatan yang mencapai seperlima dari total pembiayaan dalam negeri oleh pemerintah Amerika; dan akan terus meningkat.

    Dalam 10 tahun ke depan, pembiayaan sektor ini diprediksi akan meningkat 70%. Tapi ketika para 'baby boomers' itu masuk ke usia non-produktif setelah pensiun, maka di situ akan timbul masalah baru lagi karena menurunnya daya beli dan kemampuan membayar.

    Masalah ketiga adalah minimnya pemasukan ke kas negara, sementara belanja negara terus membengkak, termasuk untuk membiayai perang dan operasi intelijen di seluruh dunia. Akibatnya defisit anggaran negara terus menumpuk dari tahun ke tahun.

    Untuk menutupinya maka Amerika akan perlu menaikkan plafon utang yang diperkirakan akan bertambah $750 miliar lagi dalam satu dekade ke depan. Tapi kebutuhan tersebut akan menyebabkan terpangkasnya GDP Amerika sampai 4%; dan paling sedikit 7 juta pekerja harus di-PHK sehingga mereka akan semakin tak percaya pada presidennya yang menebar janji-janji manis di masa kampanye.

    Apa dampaknya bagi pamor Amerika sebagai negara adikuasa dan adidaya yang mendikte berbagai negara dengan kekuatan militernya? Yang jelas, pamor ini akan merosot. Posisinya sebagai polisi dan pemimpin dunia akan luntur. Bahkan China dan Rusia yang tengah menonton prahara finansial Amerika itu boleh jadi sedang tersenyum, meskipun secara diam-diam.

    Saat ini di perbendaharaan pemerintah Amerika tersisa dana $95 miliar dan ia membutuhkan paling sedikit $550 milar lagi pada akhir Juni 2023 dan $600 miliar tambahan di akhir September 2023. Jumlah itu mestinya bisa ditambahkan ke plafon utang saat ini yang berjumlah $31.4 triliun, asalkan pemerintah dapat memberi jaminan bahwa dalam 10 tahun ke depan anggaran pemerintah akan dipangkas sebesar $4,8 triliun.

    Masalah di Amerika adalah adanya dua kubu pengambil kebijakan yang saling bertentangan. Kubu Liberal tabiatnya adalah melakukan 'overspending' sementara kubu Konservatif selalu ingin 'underspending'. Mereka tidak menemukan jalan tengah. Jadi, omong kosong jargon yang selama ini didengungkan bahwa ‘The loyalty to my party ends where the loyalty to my country begins.’ (baca juga: Dicekik Utang TapiSibuk Urus Perang)