×

Iklan


Pengelola Menunggak, Sopir Bus Trans Padang Mogok

23 Juli 2020 | 22:39:33 WIB Last Updated 2020-07-23T22:39:33+00:00
    Share
iklan
Pengelola Menunggak, Sopir Bus Trans Padang Mogok
?Bus Trans Padang sebenarnya menjadi simbol layanan tranportasi publik yang baik, sayangnya pengelolaan masih belum baik.

Padang, Khazminang – Sopir belum terima gaji, uang BBM dan sewa lahan untuk pool menunggak, maka buntutnya sopir bus Trans Padang di koridor IV tidak mau nyetir. Bus diparkir dan penumpang pun terlantar sepanjang hari kemarin. Koridor IV adalah trayek bus Trans Padang yang melayani jalur Teluk Bayur – Bypass – Anak Aie. Diresmikan operasinya pada 1 Februari 2020 lalu oleh Pemko Padang.

Sejumlah warga Kota Padang, yang menggunakan layanan Bus Trans Padang Koridor IV, kemarin mengeluh. Pasalnya, sudah beberapa jam menunggu, bus yang dinanti tidak kunjung lewat.

Erni (39), salah seorang calon penumpang mengatakan bahwa, ia kecewa setelah menunggiu lama tidak satupun bus Trans Padang yang lewat. Akhirnya, ia memutuskan untuk menggunakan ojek online untuk bisa sampai ke tujuan.

    "Saya tunggu sejak pukul 11.00 wib bus tidak satupun lewat. Biasanya paling lama menunggu 30 menit, tapi hari ini sudah lebih satu jam saya menunggu. Baru tadi ada yang mengatakan bahwa bus memang tidak jalan hari ini," katanya, Kamis (23/7)

    Ia mengaku, meski menunggu bus cukup lama namun ia mendapat keuntungan berupa irit ongkos. Jika menggunkan jasa ojek online dihitung per kilometer dan tarifnya lebiuh mahal.

    "Hari ini terpaksa saya naik ojek online dan cukup banyak pengeluaran karena jaraknya jauh. Jika memang tidak beroperasi hendaknya pihak bus menginformasikan dan cepat mengatasinya. Namun informasinya sampai sore bus belum jalan juga," ucapnya.

    Apa pasal, hingga para awak bus tidak mau mengoperasikan bus tersebut?

    Informasi yang dihimpun Khazanah di lapangan menyebutkan bahwa pengelola Bus Trans Padang Koridor IV PT Bingkuang Sakti Transport belum memenuhi kewajibannya terhadap awak dan mitra PT BST. Ada kewajiban sekitar Rp73 juta yang belum bayarkan pengelola, termasuk uang minyak untuk 45 hari. Sehari, 6 unit bus Trans Padang di Koridor IV butuh Rp3 juta untuk BBM.

    Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Padang, Dian Fakri yang dikonfirmasi menyebutkan bahwa benar ada permasalah antara pengelola dengan mitra dan sopir hingga membuat awak bus tidak mau beroperasi.

    "Informasinya itu masalah di dalam dan tidak ada sebetulnya sangkutannya dengan terhentinya pengoperasian bus. Jika memang ada hutang piutang bisa selesaikan di luar jam pengoperasian," ungkapnya ketika dihubungi.

    Meski demikian, Dishub Kota Padang sudah memberikan batas waktu penyelesaian hingga pukul 16.00 wib. Jika masih belum beroperasi maka surat peringatan akan dilayangkan.

    "Saya sudah peringatkan dan berikan batas waktu. Jika bus masih belum jalan, maka kami akan berikan peringatan. Jangan sampai hilang kepercayaan masyarakat akan layanan bus ini. Yang teraniaya kan masyarakat yang menunggu bus," sebutnya.

    Ditempat terpisah, pemilik Rumah Makan Doa Basamo Zal yang merupakan rekanan PT. Bingkuang Sakti Transportasi (BST) yang mengelola Bus Trans Padang koridor IV mengungkapkan, total Rp73 juta utang yang belum dibayarkan, termasuk uang minyak ada 45 hari .

    "Jadi sekitar Rp3 juta sehari uang minyak dikalikan 45 kali belum dibayarkan, akibatnya kami juga tidak ada uang lagi untuk menekelnya. Akibatnya rumah makan ini jadi tidak bisa beroperasi, belum lagi sewa pool bus. Kami berharap penyelesaian oleh pihak PT. BST," kata Zal.
    Sementara, Direktur PT. BST Ismail ketika dihubungi mengatakan, pihaknya akan menyelesaikan tagihan  kepada rekanannya. "Ini mis komunikasi, kami akan bertanggung jawab dengan permasalahan ini. Sekarang telah diselesaikan secara musyawarah dan kekeluargaan," ungkap Ismail.

    Salah seorang sopir bus Trans Padang Hendra mengaku bahwa mogoknya para sopir karena gaji tidak dibayarkan sekitar 1 bulan 23 hari. Ia mengatakan bahwa semua karyawan atau sopir belum dibayarkan gajinya.

    "Saya dapat info dari teman yang lain bahwa bus tidak jalan hari ini. Alasannya karena gaji yang belum dibayarkan, maka say juga tidak berani narik," ungkap Hendra.

    Menanggapi hal tersebut, Ketua DPC Organda Padang Mastilizal Aye mengatakan, bahwa semua kejadian ini akibat penunjukan pengelola Trans Padang yang tidak profesional.

    "Ini bisa jadi pelajaran Dushub. Ini saja perusahaannya tidak ada pool, fasilitas tidak lengkap, ini harus jadi catatan ke depannya," bebernya. Ketua Fraksi Gerindra itu menegaskan jangan sampai masyarakat dirugikan akibat tidak beroperasi bus. (murdiansyah eko)