×

Iklan


Penganut 'Agama Muslim Ibrahim Tauhid' di Kabupaten Solok Kembali Disyahadatkan

30 Juli 2020 | 01:05:50 WIB Last Updated 2020-07-30T01:05:50+00:00
    Share
iklan
Penganut
Sejumlah penganut aliran sesat bernama Agama Muslim Ibrahim Tauhid di Nagari Sumani, Kec. X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, saat disyahadatkan, Rabu (29/7). Sebelumnya, keberadaan aliran ini sempat membuat gempar warga Solok dan Sumatera Barat.

Solok, Khazminang-- Penganut Agama Muslim Ibrahim Tauhid (AMIT) di Korong Rimbo Panjang, Jorong Kapuah, Nagari Sumani, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, akhirnya kembali mengucapkan syahadat, atau kembali ke Agama Islam, Rabu (29/7).

Kembalinya para penganut AMIT ke agama Islam ini, setelah Kanit Polsek Singkarak, Bripka Deli Harapno memfasilitasi pertemuan antara Kepala KUA Kecamatan X Koto Singkarak Irman, S.Ag, Walinagari Nagari Sumani Masri Bakar, SE, Kepala Jorong Kapuh Erifal, bundo kandung, tokoh masyarakat, serta wali jorong se-Nagari Sumani.

Pada pertemuan yang digelar di rumah Zainul, salah seorang pengikut AMIT tersebut, turut hadir para para pengikut lainnya, yakni Muhammad Syukur (47), Doni Kasmara (40), Lusiana (55) dan Aisyah (37).

    Setelah melalui diskusi dan perdebatan yang cukup alot, para pengikut AMIT tersebut akhirnya menyadari dan menyatakan kembali ke Agama Islam.

    "Setelah kami berunding dan membahas hal ini bersama pihak keluarga lainnya, kami menyadari dan menyatakan kembali ke ajaran Islam. Mudah-mudahan peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kami ke depannya," ujar Zainul.

    Walinagari Sumani Masri Bakar, SE, menyatakan pihaknya sangat senang sekaligus tenang, pihak yang semula diduga sebagai penganut aliran sesat ini, akhirnya kembali ke ajaran Islam. Dengan kembalinya para penganut ke ajaran Islam, Masri Bakar meminta seluruh masyarakat untuk menerima kembali para pengikut seperti sedia kala.

    "Kita harapkan situasi kembali kondusif dan masyarakat kembali bisa menerima mereka seperti semula," ujarnya.

    Kanit Intelkam Polsek X Koto Dibawah, Bripka Deli Harapno menyatakan pihaknya telah melakukan lidik hal ini sejak April 2020 lalu. Kanit Intel yang dikenal sangat dekat dengan masyarakat ini menyatakan, dengan telah selesainya permasalahan ini, diharapkan seluruh elemen di masyarakat Kabupaten Solok, bisa menerima dan tidak lagi terjadi gejolak.

    "Kita harapkan situasi kembali normal. Jangan lagi ada masyarakat yang resah. Persoalan sudah selesai. Mari kita kembali beraktivitas dan menerima mereka kembali, seperti sedia kala," ujarnya.

    Sebelumnya, diduga sebagai aliran sesat, satu kelompok masyarakat di Nagari Sumani Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, berada dalam pengawasan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Keagamaan dan Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) setempat.

    Hal itu ditegaskan Kajari Solok, Donny Haryono Setiawan, saat Hari Bhakti Adhyaksa. Sebagai Ketua Bakorpakem, Dony menegaskan, kelompok ini diduga melenceng dari ajaran atau kepercayaan yang ada di Indonesia. Menyikapi itu, pihaknya sudah merapatkan dengan Bakorpakem seperti dengan Polres, Kodim, kemenag, MUI dan FKUB.

    Sementara itu Kasi Intel Kejari Solok, Ulfan Yustian Alif menambahkan, saat ini perkembangan kelompok yang diduga aliran sesat tersebut masih sebatas keluarga dan tetangga. Namun, tidak tertutup kemungkinan bisa terus berkembang jika tidak segera ditindaklanjuti.

    "Nah untuk itu kami terus mengawasinya. Karena ini juga meresahkan masyarakat. Dan kami juga masih memantau beberapa kelompok lainnya, tapi belum bisa kami berikan hasilnya," ujarnya.

    Menurut Ulfan, seorang guru dari kelompok tersebut yang dinamai guru besar berada di Padang. Untuk itu pihaknya juga berkoordinasi dengan Bakorpakem Padang.

    "Karena ini sudah lintas sektor hokum, kami harus koordinasi dengan yang di Padang. Eksisnya kegiatan kelompok itu di Sumani sejak awal 2020 ini, ya masih baru di situ," kata Ulfan.

    MUI Putuskan Aliran Sesat

    Terkait itu, Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Solok, Elyunus Esmara menyampaikan, pihaknya sudah melakukan pendalaman terkait aliran sesat yang berada di Sumani, Kabupaten Solok tersebut.

    Dijelaskannya, MUI sudah melakukan koordinasi dengan lembaga-lembaga terkait seperti Muhammadiyah, NU dan lainnya. Namun, dari pertemuan, tidak satu pun yang mengetahui tentang aliran sesat itu.

    "Artinya kelompok ini baru tumbuh. Jadi kami rapat Bakorpakem dan disepakati waktu itu untuk pertama MUI yang terjun untuk melakukan investigasi terkait dengan aliran itu. Alhamdulilah sudah bertemu dengan mereka dan diwakili oleh difasilitasi oleh KUA X Singkarak. Jadi bukan patut diduga lagi, tapi memang ada aliran yang berkembang," tuturnya.

    Inti aliran yang diyakini oleh kelompok ini kata Elyunus, tidak mempercayai adanya Nabi Muhammad. Mereka percaya Alquran. Tapi tidak mempercayai Nabi Muhammad hanya mempercayai Nabi Ibrahim. Tapi puasa hanya sekedar menahan, naik haji diwaliki oleh guru, cukup ke Padang.

    "Untuk jumlah pengikutnya sekitar 20 orang. Jadi mereka masih bersifat internal. Tetapi tentu akan merembet. Contoh, anaknya yang SMA sudah berani mengatakan salat itu tidak wajib, nah ini sudah ada pengakuan gurunya," kata Elyunus. (Rijal Islamy)