×

Iklan

SEMINAR HASIL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA KERAJAAN JAMBU LIPO
Peneliti: Perlu Kajian Mendalam Tentang Sejarah dan Arkeologi

02 Desember 2021 | 07:00:27 WIB Last Updated 2021-12-02T07:00:27+00:00
    Share
iklan
Peneliti: Perlu Kajian Mendalam Tentang Sejarah dan Arkeologi



Padang, Khazminang.id - Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah berharap, generasi muda dapat mempertahankan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat dan mewariskannya pada generasi berikutnya. Tak dipungkiri hal ini tentu menjadi salah satu daya tarik wisata di Ranah Minang yang tentunya berbeda dengan di daerah lainnya serta menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Apalagi jika hingga saat ini warisan budaya itu masih ada dan ditampilkan dalam berbagai format atraksi budaya, seperti seni budaya dari Kerajaan Jambu  Lipo di Sijunjung.  

    "Kami sangat mengapresiasi kerja Dinas Kebudayaan Sumatera Barat yang melaksanakan Festival Budaya ini, mengungkap Kerajaan Jambu Lipo yang mungkin belum diketahui masyarakat," kata Mahyeldi dalam sambutannya saat membuka Seminar Hasil Penelitian Sejarah dan Budaya Kerajaan Jambu Lipo, Rabu (1/12/2021) di Padang.    

    Menurutnya, kegiatan ini penting bagi generasi muda untuk dapat mengenali sejarah dan budaya yang ada di Sumbar, khususnnya yang ada di Nagari Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung. Diharapkan ke depannya, daerah Sijunjung dapat ditata dengan rapi oleh masyarakatnya sehingga dapat memajukan wisata Jambu Lipo Ranah Godok Obuih.

    Sementara Anggota DPRD Sumbar, Hidayat mengatakan, Festival Kerajaan Jambu Lipo Ranah Godok Obuih dengan segenap keberagaman kegiatan budayanya, termasuk penelitian sejarah oleh para ahli sejarah merupakan langkah awal untuk membuka lebih luas perspektif masyarakat terutama generasi penerus Jambulipo agar paham nilai-nilai sejarah, sosial, budaya, dan asal usulnya.

    “Kerja ini tujuannya agar generasi muda dan penerus Kerajaan Jambu Lipo dan Nagari Lubuak Tarok agar memahami warisan budaya, nilai-nilai sejarah dan sosialnya. Selain itu, kita berharap Kerajaan Jambu Lipo jadi perhatian nasional. Hal ini saya kira sudah terjadi,” terang Hidayat.

    Ketua Tim Peneliti Kerajaan Jambu Lipo, Sudarmoko menyebutkan, penelitian dimulai sejak Mei hingga Desember 2021 yang hasilnya diketahui Kerajaan Jambu Lipo telah berdiri sejak lama dan masih ada hingga hari ini dengan melakukan aktivitas, memiliki struktur dan perangkat, wilayah, benda dan simbol kerajaan yang mendapat pengakuan dari masyarakat dan pihak luar. Keberadaan Kerajaan Jambu Lipo memiliki arti penting bagi masyarakatnya dan mereka baangga terhadap kerajaannya.

    "Dari penelitian di lapangan dan mengunjungi lokasi-lokasi penting yang terkait dengan Kerajaan Jambu Lipo, maka tidak diragukan lagi jika Kerajaan Jambu Lipo merupakan sebuah kerajaan yang telah berdiri cukup lama dengan tinggalan berwujud material dan non-material yang masih dapat ditemui," katanya.

    Selanjutnya tentang  prosesi "Rajo Manjalani Rantau", melalui penelitian ini diketahui menunjukkan bahwa prosesi ini salah satu mata rantai yang penting dalam menjaga keberlangsungan kerajaan Jambu Lipo, terutama dalam menjaga hubungan antara pihak kerajaan dengan masyarakat dan juga daerah-daerah rantau yang memiliki hubungan-hubungan khusus dan kuat dengan kerajaan.

    “Hal ini menjadi penting karena dengan adanya dukungan sosial budaya inilah narasi kerajaan dan juga narasi-narasi yang terkait, dapat bertahan dalam ruang dan waktu yang lebih lama,” jelasnya.

    Kendati begitu, dalam penelitian sejarah dan eksistensi Kerajaan Jambu Lipo ini, ada beberapa bagian yang masih perlu ditelusuri lebih dalam, antara lain sejarah dan kajian arkeologis. Maka penelitian ini perlu pendalaman lebih lanjut dan kpmrehensif terkait sejarahnya, pengujian dan kajian arkeologis terhadap tinggalan-tinggalan yang ada. Juga perlu kajian sosiologis dan antropologis terhadap masyarakat, daerah, dan lembaga-lembaga terkait, kajian bahasa dan kajian terhadap lingkungan.

    Selain Sudarmoko, peneliti lain yang terlibat adalah Nopriyasman, Ivan Adilla dan Hary Efendi Iskandar. 

    Hasil penelitian sejarah dan budaya Kerajaan Jambu Lipo, ditanggapi ulama dan cendekiawan Indonesia dan tokoh masyarakat Sijunjung, Prof. Ahmad Syafi’i Maarif, Ph.D, Rektor ISI Padang Panjang Prof. Dr. Novesar Jamarun dan Ketua Bundo Kanduang Sumbar, Prof. Dr. Ir. Raudha Thaib, MP yang juga Pewaris Kerajaan Pagaruyung dan tokoh masyarakat Sijunjung, Benny Dwifa Yuswir, S.STP, M.Si (Bupati Sijunjung), dan Hasril Chaniago (jurnalis senior Indonesia). Ahmad Syafi’i Maarif yang hadir secara virtual menyebutkan, meski tak begitu memahami tentang Kerajaan Jambu Lipo, namun memberikan apresiasi atas upaya para peneliti untuk mengungkap warisan budaya tersebut. (devi)