×

Iklan


Pemprov Sumbar Beri Ruang Peningkatan Kapasitas Pemangku Adat Etnis Minoritas

24 November 2022 | 19:57:21 WIB Last Updated 2022-11-24T19:57:21+00:00
    Share
iklan
Pemprov Sumbar Beri Ruang Peningkatan Kapasitas Pemangku Adat Etnis Minoritas

Padang, Khazminang – Setiap suku bangsa memiliki falsafah atau pedoman hidup yang berbeda satu dengan yang lain. Salah satunya masyarakat suku Batak, meskipun mereka berada jauh dari tempat asal namun tetap menjunjung tinggi falsafah hidup warisan nenek moyang.

"Sekalipun di rantau, masyarakat suku Batak selalu peduli dengan identitas sukunya," kata Gubernur Sumbar melalui Kepala Bidang Sejarah Nilai Tradisi dan Adat Dinas Kebudayaan Sumbar, Fadli Junaidi, saat Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pemangku Adat Budaya Batak dengan Tema Sinergitas Pemangku Adat Budaya Batak dalam Komunitas Masyarakat Adat Batak, Kamis (24/11) di Padang.

Hal itu dapat dilihat dari warga Batak yang berusaha mendirikan perhimpunan semarga atau sekampung dengan tujuan untuk menghidupkan ide-ide adat budayanya. Salah satunya organisasi Persatuan Batak Sumatera Barat atau PERBAS yang mampu menjadi wadah silaturahmi, komunikasi dan kreativitas bagi masyarakat Batak di Sumatera Barat.

    Menurut Fadli, meskipun Suku Batak termasuk etnis minoritas di Sumbar, namun Pemprov Sumbar tetap memberikan perhatian dan ruang untuk menjaga nilai-nilai tradisi, budaya nenek moyang mereka, seperti dengan kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pemangku Adat Budaya Batak ini.

    “Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah dalam menggali serta mengidentifikasi terkait adat dan budaya Batak serta strategi dalam upaya mewarisi kepada generasi penerus terutama yang berada di perantauan terkhusus di Sumbar,” katanya.

    Kegiatan tersebut juga didukung oleh Anggota DPRD Sumbar Fraksi PDIP Albert Hendra Lukman, yang memberikan apresiasi pada Pemprov Sumbar karena telah memberikan kesempatan yang luas untuk penguatan pemahaman adat bagi etnis minoritas yang telah tumbuh, berkembang dan membaur dengan masyarakat Sumbar.

    “Hal ini merupakan kesempatan bagi etnis minoritas untuk menggali nilai-nilai budaya sendiri. Walaupun jauh dari kampung halaman namun tetap bisa merawat dan memahami budayanya,” ujar Albert.

    Kegiatan kali ini juga menjadi jawaban bahwa stigma negatif yang berkembang selama ini tentang Sumbar yang intoleran, tidak lah benar dan Sumbar tetap dalam kerangka NKRI yang menjaga kemajemukan dan nilai-nilai pluralisme.

    "Jika dikelola dengan baik, kolaborasi antara semua etnis yang tumbuh dan berkembang di Sumbar akan memberikan dampak positif bagi pembangunan daerah," tuturnya.

    Albert menilai pembauran di Sumbar sangat luar biasa. Buktinya, dia sebagai etnis Tionghoa tidak lagi memahami bahasa ibunya, malah sangat fasih berbahasa Minang. Namun begitu, nilai-nilai plurarisme juga harus disampaikan dan diterapkan di tingkat masyarakat bawah karena tidak bisa dipungkiri kurangnya pemahaman membuat ada potensi gesekan di tingkat bawah. (rina akmal)