×

Iklan

EKSKLUSIF DENGAN PJ SEKDAKAB SOLOK, MEDISON, S.Sos, M.Si
Pembuktian Komitmen dan Sikap Politik Epyardi Asda

30 September 2021 | 00:18:29 WIB Last Updated 2021-09-30T00:18:29+00:00
    Share
iklan
Pembuktian Komitmen dan Sikap Politik Epyardi Asda
BUPATI Solok, Epyardi Asda menandatangani surat keputusan penetapan, sekaligus melantik Medison sebagai Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Solok, Senin (27/9). IST

BUPATI Solok Capt. Epyardi Asda, M.Mar dan Wakil Bupati Solok Jon Firman Pandu, SH, melantik Medison, S.Sos, M.Si sebagai Pejabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Solok, Senin (27/9) lalu.

Pelantikan Medison yang sebelumnya menjabat sebagai Asisten II Bidang Ekbang Kesra, menjadi pembuktian bagi Epyardi Asda dan Jon Firman Pandu, bahwa kontestasi Pilkada Kabupaten Solok 9 Desember 2020 sudah selesai. Dipilihnya Medison, menjadi pembuktian bagi Epyardi Asda bahwa akan memakai orang-orang profesional dan fokus bekerja di Kabupaten Solok. Demi mewujudkan niat "Mambangkik Batang Tarandam, Menjadikan Kabupaten Solok terbaik di Sumbar.

"Dalam pemerintahan saya saat ini, tidak ada intrik-intrik Pilkada, karena Pilkada sudah selesai. Tunjukkan kemampuan dan kompetensi masing-masing. Mari kita bangun Kabupaten Solok bersama-sama sebagai super team, dan menjadikan Kabupaten Solok menjadi kabupaten terbaik di Sumatera Barat," ujar Epyardi Asda di suatu kesempatan.

    Medison, merupakan ASN asal Bukit Sileh, Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok, yang masuk ke Kabupaten Solok dari ASN di Pemkab Sijunjung, di awal masa pemerintahan Bupati Gusmal Dt Rajo Lelo dan Wabup Yulfadri Nurdin periode 2016-2021. Sebelum menjabat sebagai Asisten II, ulusan STPDN tahun 1994 ini menjabat Kepala Dinas PMN Kabupaten Solok.


    Berikut petikan wawancara khusus wartawan khazminang.id, Rijal Islamy dengan Medison, S.Sos, M.Si.

    Selamat atas amanah sebagai Pj Sekda Kabupaten Solok. Penunjukan Bapak cukup mengejutkan. Apalagi di saat kondisi politik Kabupaten Solok sedang ada konflik dan polemik.

    Terima kasih. Harus diakui, saya dilantik di saat kondisi politik Kabupaten Solok sedang ada sedikit gejolak dan polemik. Sehingga, jabatan yang diamanahkan kepada saya ini merupakan tugas yang cukup berat. Tapi, saya percaya, Pak Epyardi Asda (Bupati Solok) dan Pak Jon Firman Pandu (Wabup Solok) telah melakukan pertimbangan matang. Artinya, ada kepercayaan kepada saya untuk menjaga kondusivitas di internal birokrasi Pemkab Solok maupun dengan eksternal. 

    Seperti apa Bapak melihat tugas Bapak ke depan?

    Tugas Pj Sekda sedikit berbeda dengan Plh (Pelaksana Harian) Sekda, sesuai dengan Perpres Nomor 3 Tahun 2018, Pj Sekda memiliki kewenangan penuh. Sebagai birokrat yang memiliki latar belakang pendidikan kepamongan (APDN), saya senantiasa dituntut untuk bekerja sebaik mungkin sebagai ASN.

    Fungsi utama Sekda adalah sebagai pimpinan birokrasi dalam pemerintahan. Sebagai "take option"-nya birokrasi, yang menjadi saringan terakhir bagi bupati dan wakil bupati dalam pengambilan keputusan yang bersifat administrasi. Yakni memberikan saran dan masukan ke bupati/wakil bupati. Kemudian, menjadi "janang" pemerintahan dengan berbagai lembaga dan instansi, seperti Forkopimda, instansi vertikal dan lembaga eksekutif (DPRD). Serta sebagai perpanjangan tangan bupati/wakil bupati dalam hal pembinaan kepegawaian.

    Bapak diangkat dalam kondisi Kabupaten Solok sedang dalam polemik dan konflik, khususnya dengan DPRD. Apa yang akan Bapak lakukan?

    Bagi saya, ini merupakan salah satu realita yang harus dijalani. Diangkat dalam situasi dan kondisi yang tak biasa, justru membuat saya tertantang dalam bekerja. Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Pak Epyardi Asda, tentu paham betul, ada tugas ekstra bagi saya untuk menjadi sitawa sidingin (penyejuk) dan mengkomunikasikan dengan seluruh pihak, tentang niat dan tekad beliau membangun Kabupaten Solok. Tentu dengan tetap berpegang teguh dengan perundang-undangan yang berlaku.


    MEDISON bersama istri dan anak-anak tercinta. DOKPRI

    Saya melihat ada sedikit "miss" komunikasi yang harus dijembatani. Yakni tentang penerjemahan visi misi bupati/wakil bupati dengan berbagai elemen dan institusi lainnya. Berulang kali, bupati dan wakil bupati telah menegaskan, untuk membangun Kabupaten Solok dibutuhkan dukungan semua pihak. Saya yakin, semua pihak ingin yang terbaik untuk Kabupaten Solok. Komitmen, niat dan tekad inilah harus disatukan dalam persepsi yang sama.

    Bupati dan Wabup Solok saat ini bukan birokrat dan tak punya pengalaman di birokrasi. Sementara, persoalan yang timbul berada di birokrasi. Bagaimana upaya Bapak?

    Tentu saja, setiap pemimpin memiliki gaya dan karakter kepemimpinan tersendiri. Sebagai ASN, tentu saya akan loyal terhadap pimpinan, yakni bupati dan wabup. Memang harus diakui, inilah pertama kalinya Kabupaten Solok dipimpin oleh figur non birokrat sejak Pilkada langsung. Pada transisi kepemimpinan, ditambah nuansa Pilkada, serta kapasitas ASN yang masih jadi tantangan, tentu hal ini harus dikomunikasikan dengan segera secara baik dan sesuai aturan. Yakni secara profesional, proporsional dan persepsi yang sama.

    Ada kekhawatiran, bahkan ketakutan bagi ASN Pemkab Solok saat ini tentang karier mereka ke depan. Apalagi bagi yang di Pilkada 2020 lalu, tidak berada di sisi Epyardi Asda - Jon Firman Pandu, karena berbagai alasan. Bagaimana Bapak menyikapinya?

    Saya paham betul, bahwa Pak Epyardi Asda dan Pak Jon Firman Pandu, adalah orang-orang yang sportif. Berulang kali, keduanya telah menegaskan bahwa Pilkada sudah selesai. Biduak lalu kiambang batauwik. Hal itu, telah dibuktikan, dengan diangkatnya saya menjadi Pj Sekda. Bupati dan Wabup kini meminta seluruh ASN, maupun pejabat untuk membuktikan kapasitasnya. Tunjukkan kualitas, jangan menutup diri. Tanak sagalo bareh nan ado. Kabupaten Solok butuh orang-orang militan, agar daerah ini segera bangkit. 

    Sebelumnya, bapak disebut akan berkarier di Kabupaten Agam. Apa yang membuat Bapak bertahan di Pemkab Solok?

    Seperti yang saya katakan tadi, saya memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan mantan Wakil Bupati Pak Yulfadri Nurdin. Tentu, sebagai orang yang memiliki tanggung jawab keluarga dan pertimbangan karier saya ke depan, tentu saja saya harus mencari tempat baru, jika di Kabupaten Solok ini saya tidak dipakai lagi. Akhirnya, saya dipertemukan dengan Bupati Agam Pak Andri Warman, melalui teman saya Drs. Asril, MM. Dari beberapa kali pertemuan dan bantuan dari Asril, Alhamdulillah Pak Andri Warman menerima saya dengan tangan terbuka. Bahkan, saya sudah 99 persen dan digaransi Pak AWR menjadi Kepala Bappeda Agam. Hal itu tidak akan pernah saya lupakan.


    MEDISON (tiga kanan) bersama rekan sejawatnya, di sela-sela pelaksanaan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat II Angkatan XLIII tahun 2017 lalu. DOKPRI

    Namun, karena saya saat itu masih berstatus sebagai ASN Pemkab Solok dengan jabatan sebagai Asisten 2, di berbagai kesempatan saya sempat berdiskusi dengan Pak Epyardi Asda. Berulang kali, saya telah menegaskan ke Pak Epyardi, bahwa saya sudah dalam kondisi "deal" dengan Pak AWR. Bahkan, Pak AWR telah "meminta" ke Pak Epyardi Asda agar melepas saya berkarier di Agam. Pak Epyardi menegaskan tidak akan menghambat saya untuk pindah ke Agam. Namun, beliau meminta saya untuk memikirkan hal itu lagi. 

    Satu minggu waktu yang diberikan untuk saya berfikir, akhirnya Pak Epyardi Asda memanggil saya lagi. Saat itu, beliau meminta saya untuk bertahan di Kabupaten Solok. Berbagai hal diungkapkan beliau tentang kondisi Kabupaten Solok dan pejabat-pejabat yang sudah banyak pindah. Pak Epyardi Asda menekankan bahwa butuh saya di Kabupaten Solok, tapi tidak akan menahan saya jika ingin tetap pindah ke Agam.

    Akhirnya, saya memilih bertahan di Kabupaten Solok. Usai bicara panjang lebar dengan Pak Epyardi Asda, malam harinya saya langsung menemui Pak AWR. Saya minta maaf kepada beliau dan mengatakan semuanya. Saya terkejut dan kagum dengan sikap Pak AWR yang sangat mengerti kondisi saya. Bahkan, Pak AWR menyatakan dirinya butuh saya di Pemkab Agam, tapi jika Kabupaten Solok juga butuh saya, Pak AWR mendorong saya untuk berkarier di kampung halaman saya. **