×

Iklan

SETAHUN TRAGEDI TANAH PAPUA (2)
Nasrul Abit tak Gentar ke Papua

20 Oktober 2020 | 15:24:01 WIB Last Updated 2020-10-20T15:24:01+00:00
    Share
iklan
Nasrul Abit tak Gentar ke Papua
Nasrul Abit tak kuasa menahan tangis ketika bertemu perantau Minang di Wamena

Oleh: Alwi Karmena & Eko Yanche Edrie

 

Suasana di Papua makin keruh. Laporan yang masuk ke ruang kerja Wagub Sumbar menyebutkan sejumlah perantau Minang menjadi korban, khususnya di Wamena. Paling tidak per tanggal 24 September sudah dilaporkan jumlah urang awak yang jadi korban kerusuhan di Wamena sudah 8 orang.

    “Saya makin gelisah ketika pada Kamis 26 September 2019 sudah dikabarkan bahwa ada sembilan jenazah korban kerusuhan Papua yang berasal dari Sumatera Barat dikirim pulang. Malam hari jenazah itu diperkirakan sampai di Padang dengan penerbangan estafet dari Jayapura – Makassar – Jakarta – Padang, saya ingin menyambutnya di bandara,” kenang Nasrul Abit. Wajahnya muram kala menuturkan cerita itu, tatapannya seperti jauh ke luar ruangan tempat ia bertutur kepada tim Khazanah.

    Malam itu (Kamis 26 September 2019) selepas Isya, Nasrul Abit sudah sampai di Bandara Internasional Minangkabau menanti penerbangan terakhir pesawat Garuda yang membawa sembilan peti jenazah.

    Kesembilan jenazah korban yang tiba itu adalah Syafriyanto(36), Putri(30), Rizky (4), Jefry Antoni (23), Hendra (20), Ibnu (8), Iwan(24), Nofriyanti (40)  dan Yoga Nurdin Yakob (28). Kesembilan korban yang meninggal itu dibunuh oleh massa yang sudah tidak jelas datang dari mana di Wamena. Termasuk yang tewas itu dua orang anak-anak.

    “Saya nyaris menangis. Dan membayangkan ada 800an orang lainnya warga Minang yang masih terperangkap di negeri yang sedang bergolak itu. Entah kepada siapa mereka berlindung. Saya berpikir mesti ada satu tindakan nyata untuk mengevakuasi mereka. Tanda mereka ada bermamak dan bakampuang, harus ditunjukkan bukti, evakuasi harus dilakukan,” kata Nasrul Abit. Pengadaan peti jenazah itu sepenuhnya dibiayai oleh Pemprov Sumbar.

    Malam itu juga Nasrul Abit mencoba mencari kontak ke Korem 172/Praja Wira Yakthi, alasannya karena pada umumnya masyarakat Minang di Papua itu banyak memilih mengungsi ke Makodim yang ada dalam teritorial Korem 172/PWY.

    Berdasarkan informasi yang dikoordinasikan oleh Badan Kesbangpol Provinsi Sumatera Barat melalui jaringan sesama Badan Kesbangpol Papua, disebutkan bahwa agak sulit masuk ke Papua apalagi kalau terus ke Wamena.

    Pemerintah pusat pun mewanti-wanti agar masyarakat dari liar tidak datang dulu ke Papua sampai kondisi aman, sebab sulit dijamin keamanan pribadi di sana di tengah suasana yang kacau balau itu.

    Namun Nasrul Abit sudah bertekad, bahwa ia harus sampai ke Papua, paling tidak menunjukkan kepada perantau Minang di sana bahwa mereka masih punya ‘mamak’ punya kampung halaman yang mengimbau mereka pulang setiap waktu. “Paling tidak harus ada sitawa si dingin, tangih babujuak, luko baubek,  bagi dunsanak kita di sana. Saya putuskan besok saya bertolak ke Jakarta dulu untuk melanjutkan perjalanan ke Jayapura,” kenang Nasrul Abit.

    Ia menceritakan bahwa tak mudah memilah antara bayangan fikiran dengan pintasan kabar berita yang bersileweran. Seperti tak mudahnya mengikuti alur prosedur yang harus ditempuh. Macam-macam. Beragam-ragam kemungkinan. yang semuanya tidak sederhana. Jauhnya rantau yang kan dijelang., menemui daerah yang bukanlah bentangan taman yang ramah. Tapi bisa saja gejolak malapetaka neraka.. 

    Terbayang mengambang  tidak sekedar asap dan api menjulang, tapi cucuran darah ... Darah yang merahnya sama dengan darah siapa saja, termasuk yang mengalir di pembuluh nadinya kini. Kemudian  rasa, kalau iya bisa berbagai dengan saudara sesama.. Rasa sakit dari raga yang tercabik di sana, sampai ngilunya ke raganya. Ya. Itu Bukan raga orang lain. Tapi raga saudara sebangsa. Kata orang : cubit di tangan kanan, di kiri saja terasa.

    Malam itu sudah agak larut., Di rumah, sejak senja  Nasrul Abit tidak begitu berselera  mencicipi makan malam yang terhidang . Nasrul Abit perlahan melangkah  ke kamar mandi untuk  menjawat wuduk. Masyaallah. Air dingin menyiram wajah dan kepalanya terasa menyejukkan rasa kalut yang sejak siang tadi di hati melecut. Berita tentang betapa kini sanak saudara tengah teraniaya.

    Nasrul Abit ingat Allah Yang Maha Kuasa. KepadaNYA kita mendamba. Sungguh, rasanya shalat dapat meredakan. Ya. Dia menegakkan shalat sunat. Dalam doa, dia terbata-bata  memohon, agar derita saudaranya di sana dapatlah diredakan. Dan Tuhan Yang Maha Pengasih  memberi kekuatan serta petunjuk kepada dirinya untuk bisa berbuat sebatas kemampuannya.

    Dicernanya ucapan Gubernur Irwan Prayitno ketika ditemuinya tadi. “Tidak mudah masuk Papua...Tidak gampang” Dan itu  sama sekali bukan ancaman. Bukan! Bagi Nasrul Abit justru menjadi tantangan. Sejak muda dia sering bergelut dengan tantangan demi tantangan. Begitu tantangan tersebut bisa diatasi, dia menjadi puas. Lelaki pesisir yang sangsai dilamun ombak itu memang tak mudah goyah dengan tantangan bahkan cobaan berbagai ragam.

    Saat orang di Padanng mulai lelap, Nasrul Abit melintas terbang dengan pesawat yang membawanya ke Jakarta pada 27 September 2019. Ia akan berangkat ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua didampingi beberapa staf kantor gubernur. Penerbangan akan transit di bandara di Jakarta-Makassar-Timika baru setelah itu sampai di Jayapura. Di langit malam, Nasrul Abit tetap berdoa untuk keselamatan dunsanak yang di Papua dan keselamatan semua rombongan yang menuju kawasan berapi dan berdarah itu. Lelaki itu tetap tegar dan tenang duduk di kabin pesawat yang sekatan menyongsong putaran waktu menuju Waktu Indonesia Timur. (bersambung)